Hi ALL ,  welcome  |  MY SITE  |  PLEASE READ  |  THANK'S YOU ALL
Selamat datang di online learning, Ayo, terus belajar dan ilmu adalah teman yang paling baik. (kritik dan saran hubungi mhharismansur@gmail.com atau Hp. 081329653007)
Tampilkan postingan dengan label demam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label demam. Tampilkan semua postingan

Pertolongan Pertama Jika Terjadi Kejang Demam Pada Anak

Written By mhharismansur on Rabu, 12 Desember 2012 | 22.29


Anak demam membuat Anda cemas. Suhu badannya yang terus meninggi dan kondisi anak yang gelisah kerapkali menambah kepanikan Anda. Jika di rumah sedang tidak ada siapa-siapa yang bisa menolongnya, tentu Andalah yang paling pertama harus menolong si buah hati, bukan? Tapi, pengalaman yang belum memadai tentu tetap membuat Anda panik apalagi jika demamnya disertai kejang.
Apa yang kami sampaikan dalam tulisan ini semoga bisa memandu Anda dalam memberikan yang terbaik bagi putra putri Anda yang sedang kejang demam di rumah sebagai pertolongan awal agar kejang demamnya tidak membahayakan.
Kejang demam ini bisa terjadi jika anak mengalami demam dimana kenaikan temperatur tubuhnya naik secara signifikan sehingga membuat tubuhnya kaget. Kejang demam ini tidak terkait dengan tingginya suhu tubuh karena memang bukan dikarenakan infeksi seperti meningitis.
Namun, kejang demam bisa juga membahayakan jika tidak ditangani dengan baik. Maka, pertolongan pertama pada kejang demam anak Anda harus dilakukan dengan tepat.
Pertolongan pertama jika terjadi kejang demam pada anak. Kejang demam (KD) adalah kejang yang terjadi saat anak demam. Menurut buku The Baby Book, KD tidak selalu terjadi karena tingginya suhu badan, namun lebih karena drastisnya kenaikan temperatur sehingga tubuh anak “kaget”. Tidak ada ambang suhu yang tetap untuk dapat terjadi kasus KD.KD tidak berbahaya dan tidak berefek apapun pada otak apalagi menyebabkan kematian.
KD terjadi pada anak usia 6 bulan – 5 tahun. Selama kejang, anak bisa kehilangan kesadaran dan kejang terjadi pada seluruh tubuh (simple febrile seizure) atau satu bagian tubuh (complex febrile seizure). Simple febrile seizure biasanya berlangsung <15 menit dan tidak berulang dalam 24 jam. Sementara complex febrile seizure bisa terjadi lebih lama dan ada kemungkinan berulang selama demam berlangsung.
Pertolongan pertama jika terjadi kejang demam pada anak. Untuk menangani KD, orangtua harus tenang namun tetap waspada. Baringkan anak di tempat datar dalam posisi miring (tidak telentang) agar anak tidak tersedak. Jangan meletakkan benda apapun dalam mulutnya karena bisa menyumbat jalan nafas. Hindari memegang tubuh anak karena dapat mengakibatkan fraktur pada tulang. Perhatikan bagian tubuh mana yang mengalami kejang agar lebih mudah saat mengonsultasikannya dengan dokter.
Umumnya KD berlangsung singkat dan tak memerlukan penanganan khusus. Orangtua hanya perlu mengobservasi kondisi anak pascakejang (anak sadar, bisa berkomunikasi). Namun jika berlangsung >10 menit, bawalah anak ke tempat pelayanan kesehatan terdekat. Biasanya anak akan diberi obat diazepam lewat anus (supositoria). Periksakan anak lebih lanjut terutama jika terdapat kekakuan leher, muntah hebat, dan anak tampak terus lemas.
Pertolongan pertama jika terjadi kejang demam pada anak. KD tidak disebabkan oleh kelainan pada sistem saraf, dan tidak berbahaya. Karena itu orangtua tidak perlu panik dan keburu melakukan tes macam-macam pada anak (CT-Scan, MRI, dsb). Yang perlu dilakukan adalah mengetahui penyebab demam dan menangani demamnya.
Nah, Anda harus secara tepat melakukan pertolongan pertama dan semoga artikel ini bisa memandu Anda jika terjadi kejang demam pada anak Anda. Berikan yang terbaik untuk kesehatan buah hati Anda salah satunya adalah dengan menghindari kejang demam terjadi. Kejang demam akan membuat Anda panik, namun cara Anda menanganinya dengan tenang membuat kejang demam anak Anda berakhir dengan baik.
sumber : klik disini
Artikel pendukung
  • Apakah Anak Anda Gemuk Sehat atau Obesitas?
  • Mengenal BMI (Body Mass Index) untuk Menangani Obesitas pada Anak
  • Gaya Hidup Penyebab Obesitas Pada Anak
  • Jenis-Jenis Makanan Penyebab Obesitas Pada Anak
  • Stress Dapat Meningkatkan Resiko Obesitas Pada Anak Perempuan
  • Obesitas pada Anak dan Tekanan Darah Tinggi
  • Pengenalan Makanan Padat Pada Bayi dan Resiko Obesitas
  • Pengenalan Puasa Ramadhan pada Anak Obesitas
  • Pertolongan Pertama Jika Terjadi Kejang Demam Pada Anak
  • Apa Yang Harus Dilakukan Jika Kejang Demam Pada Bayi
  • Tanda-Tanda Demam Berdarah Pada Anak dan Pencegahannya
  • Masalah Kulit Wajah Anak Usia 18 Tahun
  • Mengatasi Dehidrasi Kulit Di Bulan Ramadhan
  • Pengaruh Kulit Bayi Terhadap Penyakit Sepsis
  • Mengenal Jenis Gigi Anak dan Fungsinya
  • Kebiasaan Sehari-hari yang Dapat Merusak Gigi Anak
  • Mengenalkan Pentingnya Merawat Gigi Sejak Dini
  • Karang Gigi Anak: Penyebab dan Cara Membersihkan
  • Cara Mengatasi Keracunan Makanan
  • Mengatasi Luka Gigitan Ular
  • 22.29 | 0 komentar

    Apa Yang Harus Dilakukan Jika Kejang Demam Pada Bayi


    Kejang demam pada bayi akan membuat semua orang tua panik tidak terkira. Jangankan disertai dengan kejang, ketika suhu tubuhnya lebih hangat sedikit saja orang tua sudah mulai gelisah. Apalagi jika disertai dengan kejang yang membuat bayi terlihat sangat kesakitan. Tentu kita ingin memberikan perawatan yang tepat jika hal itu terjadi pada bayi kita. Bayi kita tentu membutuhkan penanganan yang tepat agar kejang demamnya tidak membahayakan. Artikel ini akan memandu Anda bagaimana caranya melakukan tindakan pertama ketika kejang demam terjadi pada bayi Anda. Apa yang harus dilakukan jika kejang demam pada bayi. Kejang demam (KD) pada bayi terjadi jika bayi mengalami demam yang mendadak. Dr. William Sears dalam buku The Baby Book menyebutkan, otak bayi bereaksi terhadap fluktuasi temperatur tubuh sehingga terjadi kejang. Jadi masalahnya bukan seberapa tinggi temperatur tubuh anak, tetapi kecepatan peningkatan suhu tubuhlah yang menyebabkan kejang.
    KD terjadi pada usia 6 bulan – 5 tahun, dikenali lewat anggota tubuh yang gemetar, bola mata menegang ke atas, dan bibir kejang. Meski hanya berlangsung selama 10-20 detik, KD bisa membuat orangtua terguncang dan panik. Sebenarnya, KD tak perlu dihadapi dengan kepanikan sebab KD tidak berbahaya. Jika Anda menyadari bayi mengalami KD, baringkan ia dalam posisi miring di tempat datar. Jangan masukkan benda apapun ke mulutnya atau menahan badan bayi untuk melawan kejang. Kedua hal ini bisa menyumbat jalan nafas bayi dan meningkatkan risiko patah tulang.
    Apa yang harus dilakukan jika kejang demam pada bayi. Sebaiknya ukur lamanya kejang dengan stopwatch dan perhatikan bagian tubuh mana yang mengalami kejang. Perhatikan pula kondisi bayi setelah kejang, apakah tertidur atau sadar, bisa diajak berkomunikasi atau tidak. Informasi seperti ini diperlukan saat Anda berkonsultasi dengan dokter agar dokter bisa memutuskan tindakan lanjutan apa yang diperlukan.
    Jika kejang terjadi pada bayi di bawah 15 bulan dan ada riwayat KD dalam keluarga, kejang terjadi segera setelah bayi demam dan bukan pada suhu tinggi, ada kemungkinan KD berulang. Sediakan obat diazepam supositoria (dimasukkan lewat anus) untuk diberikan hanya jika anak kejang lagi. Hentikan pemberian obat jika anak sudah tidak kejang meski dengan tujuan menghindari KD, sebab KD tidak bisa dihindari.
    Apa yang harus dilakukan jika kejang demam pada bayi. Periksakan bayi ke dokter ahli saraf jika KD terjadi sebelum ia berusia 6 bulan, atau jika bayi mengalami kejang tanpa demam. Nah, semoga membantu mengatasi kepanikan Anda jika terjadi kejang demam pada bayi Anda. Selamat mempraktikkannya di rumah tanpa dokter di samping Anda.
    sumber : klik disini
    Artikel pendukung
  • Apakah Anak Anda Gemuk Sehat atau Obesitas?
  • Mengenal BMI (Body Mass Index) untuk Menangani Obesitas pada Anak
  • Gaya Hidup Penyebab Obesitas Pada Anak
  • Jenis-Jenis Makanan Penyebab Obesitas Pada Anak
  • Stress Dapat Meningkatkan Resiko Obesitas Pada Anak Perempuan
  • Obesitas pada Anak dan Tekanan Darah Tinggi
  • Pengenalan Makanan Padat Pada Bayi dan Resiko Obesitas
  • Pengenalan Puasa Ramadhan pada Anak Obesitas
  • Pertolongan Pertama Jika Terjadi Kejang Demam Pada Anak
  • Apa Yang Harus Dilakukan Jika Kejang Demam Pada Bayi
  • Tanda-Tanda Demam Berdarah Pada Anak dan Pencegahannya
  • Masalah Kulit Wajah Anak Usia 18 Tahun
  • Mengatasi Dehidrasi Kulit Di Bulan Ramadhan
  • Pengaruh Kulit Bayi Terhadap Penyakit Sepsis
  • Mengenal Jenis Gigi Anak dan Fungsinya
  • Kebiasaan Sehari-hari yang Dapat Merusak Gigi Anak
  • Mengenalkan Pentingnya Merawat Gigi Sejak Dini
  • Karang Gigi Anak: Penyebab dan Cara Membersihkan
  • Cara Mengatasi Keracunan Makanan
  • Mengatasi Luka Gigitan Ular
  • 22.26 | 0 komentar

    Tanda-Tanda Demam Berdarah Pada Anak dan Pencegahannya


    Bagaimana cara Anda untuk mengecek penyakit yang diderita oleh anak Anda? Padahal kerapkali gejala antara satu penyakit dengan penyakit lainnya sama. Memang butuh kejelian untuk memastikan kondisi penyakit yang diderita oleh anak. Salah satunya adalah dengan memahami lebih jauh mengenai penyakit-penyakit yang kerapkali terjadi pada anak-anak. Demam berdarah merupakan salah satu penyakit yang paling sering terjadi pada anak-anak. Anda tentu harus mengenalnya lebih jauh, agar Anda tidak akan panik berlebihan jika suatu saat penyakit ini menimpa anak Anda.
    Tanda-tanda demam berdarah pada anak dan pencegahannya. Demam berdarah (DB) adalah demam yang terjadi karena infeksi virus dengue. Pasien yang terinfeksi akan mengalami perdarahan di hidung, gusi, atau permukaan kulit, karena itulah disebut demam “berdarah”. Terkadang penderita dengue akan mengalami Dengue Shock Syndrome (DSS) karena pecahnya pembuluh darah.
    Gejala DB adalah demam yang terjadi secara mendadak, suhu tubuh berkisar di antara 39-40°C. Demam ini disertai sakit kepala hebat (biasanya di dahi), sakit di belakang mata, nyeri sendi, mual/muntah, serta muncul bintik-bintik merah di kulit. Umumnya demam akan terjadi selama 5-7 hari. Suhu tubuh turun pada hari ke 3 atau 4, lalu naik lagi pada hari berikutnya (pola “tapal kuda”).

    Tanda-tanda demam berdarah pada anak dan pencegahannya.

    DB terjadi setelah seseorang digigit nyamuk Aedes aegypti yang telah terinfeksi virus. Nyamuk ini sendiri mendapatkan virus setelah menggigit orang yang terinfeksi dengue. Setelah virus masuk ke tubuh seseorang, virus akan berkembangbiak dan gejala akan muncul setelah virus memperbanyak diri, sekitar 4-6 hari masa inkubasi.
    Untuk menghindari DB, hindarilah gigitan nyamuk. Perhatikan kapan nyamuk biasanya berkeliaran. Aedes aegypti umumnya keluar sarang 2 jam menjelang matahari terbit dan terbenam, maka berikan perlindungan ekstra pada anak di waktu-waktu ini. Pakaikan baju berlengan panjang, celana panjang, bahkan kaus kaki. Gunakan lotion antinyamuk yang mengandung DEET (dietil toluamid), picaridin, atau minyak eucalyptus, namun perhatikan pemakaiannya pada anak di bawah tiga tahun.
    Tanda-tanda demam berdarah pada anak dan pencegahannya. Nyamuk Aedes aegypti hidup di dalam rumah, di kloset, dan di tempat-tempat gelap. Di luar rumah, nyamuk ini bersarang di tempat dingin dan terlindung dari matahari. Maka, pencegahan terhadap DB juga dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan meniadakan tempat berkembangbiak nyamuk. Beberapa hal yang harus Anda lakukan adalah sebagai berikut:
    1. Hindari genangan air. Jika Anda memiliki rumah dengan genangan air dimana-mana, mulai dari selokan atau sekadar tanah yang cekung ke bawah, sebaiknya Anda segera membersihkannya, sebab nyamuk paling menyukai tempat kotor seperti ini. Mereka akan sangat cepat berkembang biak di tempat seperti ini.
    2. Kuras bak mandi atau tempat penampungan air secara teratur. Pernahkah Anda melihat bak mandi Anda ada jentik-jentiknya? Nah, ini tandanya nsi nyamuk sudah mulai berkembang biak disana. Jangan sampai Anda membiarkannya terus menerus karena bisa membuat nyamuk demam berdarah semakin merajalela. Bersihkan secara teratur bak mandi serta penampungan air agar jentik nyamuk tidak segera berubah wujud menjadi nyamuk dan keluarga Anda terbebas dari demam berdarah.
    3. Timbun atau buang wadah-wadah tak terpakai yang dapat menampung air. Mulailah secara sehat dalam membuang sampah, salah satunya adalah tidak sembarangan membuang sampah yang bisa membuat air tergenang sepertu plastik atau wadah lainnya. Menimbun sampah jauh lebih aman.
    sumber : klik disini
    Artikel pendukung
  • Apakah Anak Anda Gemuk Sehat atau Obesitas?
  • Mengenal BMI (Body Mass Index) untuk Menangani Obesitas pada Anak
  • Gaya Hidup Penyebab Obesitas Pada Anak
  • Jenis-Jenis Makanan Penyebab Obesitas Pada Anak
  • Stress Dapat Meningkatkan Resiko Obesitas Pada Anak Perempuan
  • Obesitas pada Anak dan Tekanan Darah Tinggi
  • Pengenalan Makanan Padat Pada Bayi dan Resiko Obesitas
  • Pengenalan Puasa Ramadhan pada Anak Obesitas
  • Pertolongan Pertama Jika Terjadi Kejang Demam Pada Anak
  • Apa Yang Harus Dilakukan Jika Kejang Demam Pada Bayi
  • Tanda-Tanda Demam Berdarah Pada Anak dan Pencegahannya
  • Masalah Kulit Wajah Anak Usia 18 Tahun
  • Mengatasi Dehidrasi Kulit Di Bulan Ramadhan
  • Pengaruh Kulit Bayi Terhadap Penyakit Sepsis
  • Mengenal Jenis Gigi Anak dan Fungsinya
  • Kebiasaan Sehari-hari yang Dapat Merusak Gigi Anak
  • Mengenalkan Pentingnya Merawat Gigi Sejak Dini
  • Karang Gigi Anak: Penyebab dan Cara Membersihkan
  • Cara Mengatasi Keracunan Makanan
  • Mengatasi Luka Gigitan Ular
  • 22.22 | 0 komentar
    Bse Information, Instructional Media And Educational Articles

    Kontak

    Nama

    Email *

    Pesan *

    Submit ExpressFree Webmaster Tools

    go green indonesia!