Hi ALL ,  welcome  |  MY SITE  |  PLEASE READ  |  THANK'S YOU ALL
Selamat datang di online learning, Ayo, terus belajar dan ilmu adalah teman yang paling baik. (kritik dan saran hubungi mhharismansur@gmail.com atau Hp. 081329653007)
Tampilkan postingan dengan label arkeologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label arkeologi. Tampilkan semua postingan

Konstruksi Gunung Padang Dirancang Arsitek Purba Ulung

Written By mhharismansur on Jumat, 25 Januari 2013 | 04.53


Situs Gunung Padang bukti kecerdasan manusia dari segi perencanaan bangunan.

gunung padang,arkeologiMahandis Y. Thamrin/NGI
Penelitian situs punden berundak terbesar di Asia Tenggara Gunung Padang, terus berlanjut. Dilihat dari konstruksinya, situs yang berlokasi di Cianjur, Jawa Barat, ini sudah dibangun manusia dengan sangat cerdas.
Arkeolog muda Universitas Indonesia Ali Akbar mengutarakan, ini menunjukkan fakta bahwa pembuat bangunan Gunung Padang adalah masyarakat yang sudah memiliki peradaban tinggi. "Meski tidak ada sumber tertulis, tapi pasti dibuat oleh masyarakat yang sudah berkehidupan teratur, sudah ada organisasi sosial. Namun, tidak harus organisasi sosial berbentuk kerajaan," tegasnya.
Ali bersama rekan-rekannya dalam Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang, melakukan penelitian di situs sejak tahun lalu, tepatnya Mei 2012. Temuan yang ada sampai saat ini, bahkan melebihi ekspektasi.
Kalau sebelumnya diperkirakan memiliki luas tiga hektare, ternyata peneliti menemukan luasnya bisa mencapai 15 hektare atau lebih. Sebab, bangunan Gunung Padang bukan hanya yang terdapat di bagian atas, melainkan juga ada struktur di bagian badan dan kaki bukit dalam bentuk terasering atau tingkatan-tingkatan yang meliputi seluruh gunung.
gunungpadang,konstruksiSebuah terasering utara dekat tangga bagian bawah. Terasering semacam ini mengelilingi seluruh Gunung Padang. (Dok. Tim Terpadu Riset Mandiri)
Para "arsitek"nya yang membangun Gunung Padang di masa lampau juga secara perencanaan serta perhitungan matang, hingga bangunan bisa bertahan lama.
Salah satu faktor utama adalah batu yang digunakan di Gunung Padang, yakni batucolumnar joint, tipe batuan alami yang  terbentuk karena proses geologi.
Batuan tersebut keluar dari perut bumi, menjelang sampai di permukaan tanah, mengering, lantas memecah. Pecahan umumnya berbentuk segilima, kemudian oleh manusia, diambil dan disusun.

"Susunannya luar biasa. Antara lain penyusunan batu-batu untuk menjadi (tangga) pijakan berdasarkan kecocokan lebarnya, sampai dapat memeroleh ketinggian lereng tanpa longsor. Tadinya saya pikir konstruksi ini cerdas, ternyata sangat cerdas," ungkap Ali yang juga menjadi pengajar untuk mata kuliah Arsitektur Bangunan Masa Prasejarah, Hindu, dan Buddha.
Dan arsitek-arsitek cerdas ini juga memaku bukit, tujuannya supaya tidak longsor; konstruksi dinding bagian luar Gunung Padang diatur sedemikian rupa seperti paku yang menancap.
Terlihat dari sisi utara, timur, dan barat ditancapkan batu seperti pasak-pasak sedalam 40-50 cm. Ali bertutur, "Pasak sudah memperkokoh dinding tanah pada bukit alami itu. Di sisi utara, batu ditancap dari arah utara ke selatan. Di sisi timur, ditancap dari timur ke barat, begitu sebaliknya di sisi barat".
"Semen"
gunungpadang,konstruksiLapisan di antara batu ini bukanlah batu keras--karena dapat dikikis--juga bukan tanah. (Dok. Tim Terpadu Riset Mandiri)
Ali memaparkan pula penemuan menarik terbarunya yang terdapat pada satu susunan batu, berupa semacam adonan perekat. "Kemungkinan mereka sudah mengenal 'semen'. Cerdasnya lagi, mereka tahu di mana harus menempatkan perekat—di tengah-tengah bebatuan," terangnya.
Sampel semen purba ini langsung diperiksa di laboratorium LIPI untuk memastikan campurannya. Di samping itu, masih diyakini ada banyak bagian dari bangunan Gunung Padang yang belum terungkap, sehingga Tim Terpadu Riset Mandiri akan terus melanjutkan penelitian di tahun 2013 ini.
Tim berjumlah sepuluh orang yang terdiri dari berbagai disiplin, termasuk ahli geologi, ahlipaleosedimentologi, ahli filologi, sampai ahli geografi bentang lahan dan ahli astronomi.
(Gloria Samantha)+NG Indonesia
04.53 | 0 komentar

Fosil Mamut Tidak Sengaja Ditemukan di Prancis

Written By mhharismansur on Jumat, 18 Januari 2013 | 06.41


Fosil ini tidak sengaja ditemukan saat eskavasi dalam rangka pencarian bukti aktivitas Roma Kuno.

fosil,mammothMammoth (Jonathan Blair/CORBIS)
Arkeolog Prancis, telah menemukan tulang belulang mamut yang hampir lengkap di pedesaan dekat Paris. Fosil mamut ini diperkirakan berumur 100 sampai 200 ribu tahun yang lalu. Peneliti dari National Institute for Preventive Archeological Research memperkirakan, umur mamut saat terjebak adalah 20 tahun.
Tidak sengaja ditemukan, fosil mamut ini terungkap saat eskavasi situs Roma Kuno sepanjang kota Changissur-Marne. Kepala Arkeolog Gregory Bayle yang berada di lokasi mengatakan, "Bukti dan fosil sejelas ini tidak pernah ditemukan sebelumnya, setidaknya di Prancis."
Para arkeolog mengatakan bahwa hipotesis tentang interaksi antara manusia zaman prasejarah dengan mamut terbukti benar. Teori sekarang, mamut dengan nama Helmut ini tenggelam atau diburu oleh manusia Neandhertal. "Sekarang, kita sedang menguji teori dari fosil mammoth ini apakah manusia zaman prasejarah memburu mamut," ungkap Bayle.
Helmut ditemukan dalam keadaan hampir lengkap, termasuk rahang, panggul, dan tulang belakang. Ini adalah kali ketiga mamut berambut panjang ditemukan. Hingga sekarang, telah ditemukan 140 spesimen mamut di Siberia, termasuk fosil yang hampir sempurna.
(Dimas Purwaraja. Sumber: Reuters, Yahoo.)+NG Indonesia
06.41 | 0 komentar

Istana Kaisar Pertama Cina Berhasil Digali

Written By mhharismansur on Kamis, 17 Januari 2013 | 06.12


Arkeolog berhasil menemukan istana milik kasiar pertama Cina, Qin Shi Huang Di, di Xian, provinsi Shaanxi.

terakota,china,arkeologBerjongkok di samping sekumpulan artefak yang baru ditemukan, Yang Jingyi membersihkan lumpur terakhir sebelum restorasi dimulai. Seiring semakin dekatnya penggalian ke gundukan makam pusat, para arkeolog berharap akan mengungkap kejutan lain dalam kisah pasukan terakota. Tengok kisah selengkapnya di National Geographic Indonesia edisi Juni 2012. (O.Louis Mazzatenta)
Situs di dekat kota Xian, Cina, tak berhenti menguak peninggalan beresejarah. Setelah prajurit terakota dan ratusan artefak bernilai lainnya ditemukan, kali ini para arkeolog berhasil menemukan istana milik kaisar pertama Cina, Qin Shi Huang Di. Makam sang kaisar inilah yang selama ini dijaga oleh para prajurit terakota.
Laporan resmi pemerintah Cina mengumumkan bahwa para arkeolog telah menggali kompleks istana Qin Shi Huang Di di Xian, provinsi Shaanxi, Cina. Istana terdiri dari sepuluh halaman dan satu bangunan utama. Kompleks ini memiliki panjang 690 meter dan lebar 250 meter dengan luas total kurang lebih seperempat dari ukuran Kota Terlarang Beijing atau sering disebut Istana Terlarang Beijing yang dibangun pada tahun 1400-an.
Arkeolog mengatakan kepada kantor berita Xinhua, Rabu (5/12), bahwa mereka menemukan dinding, selokan, pintu, dan jalan batu di antara puing-puing istana kuno. Selain itu mereka juga menemukan tembikar dan batu bata. Tata letak istana cocok dengan struktur tradisional Cina lainnya, dengan poros tengah berbaris dengan bangunan utama.
prajurit terakota chinaBagian putih mata dan rincian lainnya memberikan petunjuk dari kepribadian yang dibawa oleh cat ke wajah tentara bagian dari kesatria terakota ini. (O. Louis Mazzatenta)
Qin Shi Huang Di lahir pada tahun 259 Sebelum Masehi. Saat usianya 13 tahun, ia menjadi pewaris tahta pertama dinasti Qin, salah satu dari enam kerajaan di Cina. Pada 221 SM, ia berhasil menyatukan enam kerajaan itu dan menyatukannya dalam satu kekaisaran di mana ia menjadi kaisar hingga akhir hayatnya pada 210 SM.
Menurut catatan sejarah, mengungkap Qin Shi Huang Di membangun sendiri makamnya, segera setelah dirinya dinobatkan sebagai kaisar. Pada tahun 1974, para petani berhasil menggali sumur dan menemukan seorang prajurit terakota yang merupakan satu dari 8.000 prajurit yang bertugas menjaga makam sang kaisar di akhirat. Penemuan prajurit terakota yang ditemukan di situs Qin Shi Huang Di sendiri telah diakui UNESCO sebagai situs warisan dunia pada tahun 1987.
Keterebatasan alat membuat para arkeolog hingga saat ini belum berani menggali ruang makam utama milik kaisar Qin Shin Huang. Mereka khawatir akan merusak makam yang konon beratapkan permata.
Penelusuran tentara terakota pernah diungkap dalam National Geographic Indonesiaedisi Juni 2012. Disebutkan pula apa peranan besar Sang Kaisar untuk Cina.
(Umi Rasmi Sumber: Live Science) + NG Indonsia
06.12 | 0 komentar

Bangsa Roma Jadikan Mandi Ajang Sosialisasi


Pada zaman kekaisaran Roma, pemandian umum menjamur di penjuru Eropa. Pemandian ini difungsikan baik untuk penggunaan militer maupun sipil.

pemandian,roma,inggrisPeninggalan pemandian umum bangsa Roma yang ditemukan di Inggris. (Thinkstockphoto).
Bagi bangsa Romawi, mandi bukan hanya aktivitas membersihkan diri. Mandi juga berarti melakukan kegiatan sosial.
Kesimpulan ini didapat setelah mempelajari barang-barang peninggalan di sebelas pemandian umum peninggalan bangsa Roma di Italia, Portugal, Swiss, Jerman, dan Inggris. Kesemuanya berasal dari abad pertama dan keempat.
"Bagi bangsa Roma, mandi bukan hanya menjadi bersih. Tapi ini adalah pusat sosial besar di mana banyak aktivitas berlangsung," kata Alissa Whitmore, sebegai peneliti studi ini dan kandidat doktor arkeologi di University of Iowa, AS.
Pada zaman kekaisaran Roma, pemandian umum menjamur di penjuru Eropa. Pemandian ini difungsikan baik untuk penggunaan militer maupun sipil. Suhu airnya pun beragam, mulai dari air dingin hingga hangat.
Dalam sisa reruntuhan pemandian itu, selain menemukan peralatan mandi, ditemukan juga perhiasan. Para arkeolog kerap menemukan jepit rambut, manik-manik, bros, liontin, dan permata terukir.
Menurut Whitmore, bangsa Roma menggunakan semua perhiasan ini ke dalam pemandian untuk mencegah pencurian. Tapi tidak menutup kemungkinan itu dilakukan sebagai ajang pamer.
"Ini merupakan tempat untuk melihat dan terlihat (oleh masyarakat). Masuk akal jika Anda harus melepaskan pakaian mahal, tapi Anda masih ingin menunjukkan status sosial dengan mengenakan perhiasaan mahal," ujar Whitmore.
Hasil penemuan Whitmore dilaporkan Sabtu (5/1) lalu dalam pertemuan tahunan institut arkeologi seluruh AS di Seattle.
(Zika Zakiya. Sumber: Live Science)+NG Indonesia
05.39 | 0 komentar

"Monster" Raksasa Prasejarah dari Kedalaman Laut


Sang pemangsa ganas memiliki panjang 8,6 meter dan hidup sekitar 224 juta tahun lampau, pada periode pascabencana kepunahan massal.

monster laut,samudraIlustrasi monster laut (Thinkstockphoto).
Spesies baru dari keluarga reptil laut prasejarah dipastikan keberadaannya dalam studi ekskavasi terbaru di perairan Nevada, Amerika Serikat. Studi lengkap sudah ditulis di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.
Thalattoarchon saurophargis, nama yang diberikan untuk sang pemangsa ganas yang memiliki panjang 8,6 meter. Hidup sekitar 224 juta tahun lampau --pada periode geologi Trias, pasca terjadinya bencana yang memicu kepunahan massal terhebat dalam sejarah, yakni Masa Permian.
Reptil yang berukuran sampai sebesar bus ini merupakan golongan Ichthyosaurus (dalam bahasa Yunani berarti "kadal ikan"). Ichthyosaurus adalah kelompok reptilia yang menghuni dasar laut Bumi selama zaman dinosaurus.
Sebagian fosil Thalattoarchon sudah berhasil diekskavasi dalam ekspedisi tahun 1998. Bagian-bagian awal yang ditemukan tersebut saat ini terpelihara, antara lain tulang badan, sirip, dan seluruh tulang belakang.
Menurut Nadia Fröbisch, ahli paleontologi dari Museum of Natural History Berlin, T. saurophagis adalah spesies hewan vertebrata sangat menarik, khususnya dari sisi ukurannya yang raksasa.
Maka pada 2010, ia bersama para peneliti lainnya kembali ke situs yang sama dan menggali fosil tersisa. Hasilnya, mereka menemukan rangka tengkorak amat besar dan rahang yang sarat dengan gigi-gerigi tajam yang cukup besar untuk mengunyah berbagai reptil laut lain di dalamnya.
"T. saurophagis diketahui sebagai karnivor samudra pertama yang berevolusi bisa memangsa hewan laut berukuran hingga sebesar dirinya," ungkap Fröbisch sehubungan struktur fosil gigi yang ditemukan itu.
Fröbisch mencatat pula, temuan ini menunjukkan daya resiliensi lingkungan untuk bangkit dari kerusakan, bagaimana sebuah ekosistem dapat pulih kembali bahkan setelah musnah melalui peristiwa ekstrem.
Ia menerangkan, setelah Permian, 95 persen spesies di lautan binasa. Namun, kemunculan predator di jenjang atas rantai makanan seperti Thalattoarchon relatif tidak lama, hanya delapan juta tahun. Sesudahnya, membuktikan ekosistem laut bisa kembali utuh, karena ekosistem butuh membangun rantai makanan dari bawah hingga ke atas.
(Gloria Samantha. Sumber: National Geographic Phenomena)
sumber : NG Indonesia
05.37 | 0 komentar

Cerita di Balik Benteng-Benteng Indonesia

Written By mhharismansur on Minggu, 13 Januari 2013 | 01.01


Benteng menjadi cermin pertahanan diri, perkembangan teknologi pertahanan dan keamanan, serta mencerminkan konsep hankam pada masanya.

benteng vredeburg,bangunan bersejarah,yogyakartaSorot lampu taman di malam hari membuat bayangan dahan dan ranting pohon menempel di dinding membentuk jari-jari yang mencengkeram pilar pintu masuk Benteng Vredeburg, Yogyakarta. (Agus Nor Rochmad/Fotokita.net)
Benteng-benteng di Indonesia ternyata tak sekedar bangunan biasa. Benteng-benteng tersebut merupakan bagian dari sejarah dan menjadi kekayaan warisan budaya.
Di Indonesia, benteng dapat ditemukan di banyak wilayah dengan bentuk bervariasi. Ada yang bahan bangunannya bata, balok-balok batu, serta ada yang dicampur antara bata dan batu. Teknik membangunnya pun berbeda, dengan teknik kosod, serta spesi dan lepa dari bligon.
Kendati didirikan dengan bahan dan teknik yang berbeda, kebanyakan benteng di Indonesia didirikan di perkotaan. Kota merupakan permukiman yang permanen, relatif padat, penduduknya heterogen, serta memiliki bangunan-bangunan untuk mewadahi berbagai macam kegiatan penduduk.
Guru Besar serta Arkeolog Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Inajati Adrisijanti menjelaskan, benteng di Indonesia dikelompokkan menjadi dua: benteng tradisional dan benteng dengan gaya arsitektur Barat.
Masing-masing benteng ini memiliki gaya bangunan dan teknologi yang berbeda karena kondisi lingkungan alam dan budaya."Namun ada persamaan di antara keduanya, yakni kemungkinan besar sebagai sarana pertahanan," kata Inajati dalam seminar budaya di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (20/11).
Berdasarkan data arkeologi, lanjutnya, terdapat tiga situs yang menandakan benteng tradisional yakni Situs Biting di Lumajang, Situs Macan Putih di Banyuwangi, dan Kota Gede. Benteng tradisional ini cenderung memanfaatkan kondisi lingkungan alam sekitar sehingga denahnya tidak simetris atau mengikuti aliran sungai dekatnya.
benteng vastenburg,bangunan bersejarah,surakartaBenteng Vastenburg di Surakarta. (Rikisatrio/Fotokita.net)
Sementara itu, benteng dengan gaya arsitektur Belanda bisa ditemui di Yogyakarta yakni Benteng Vredeburg, Benteng Fort Speelwijk di Kota Banten Lama, serta Benteng Vastenburg di Surakarta.
Benteng dengan arsitektur Belanda memiliki beberapa kemiripan: menyisip di dalam tata ruang kota. Benteng ini dibangun oleh Belanda untuk mengontrol pemerintahan para raja.
Benteng-benteng peninggalan sejarah memiliki filosofi tersendiri. Benteng ini mencerminkan pengalaman mengolah kekayaan alam untuk keperluan manusia dalam hal mempertahankan diri, mencerminkan perkembangan teknologi pertahanan dan keamanan, serta mencerminkan konsep pertahanan dan keamanan pada masanya.
Mengingat keberadaan benteng ini sangat penting sebagai saksi sejarah, ia berharap semua pihak bisa mengelola menjadi sumber daya arkeologi. Namun, di tengah usaha penyelamatan benteng ini, berbagai permasalahan masih menunggu yakni dalam hal pelestarian, pengelolaan, maupun pemanfaatan.
Revianto Budi Santosa, Pengajar Jurusan Aristektur Universitas Islam Indonesia Yogyakarta menambahkan, benteng di Indonesia dibangun sejak awal abad 16 ketika bangsa Eropa terpikat oleh kekayaan Indonesia. Lantaran ingin mempertahankan kedudukan dan memonopoli usaha dagang di Indonesia, bangsa-bangsa seperti Portugis, Belanda dan Inggris membangun kubu-kubu pertahanan atau benteng untuk melindungi kepentingan dan mempertahankan keamanan mereka.
Pada era berikutnya, sejumlah penguasa Nusantara membangun benteng-benteng besar sebagai tanggapan atas keberadaan benteng-benteng kolonial. "Benteng-benteng ini memiliki nilai historis tinggi sebagai warisan sejarah dan budaya bangsa sekaligus sebagai rekaman interaksi global bangsa Indonesia dengan bangsa lain," kata Revianto. 
Hingga saat ini terdapat 275 benteng pertahanan yang tersebar di seluruh Indonesia dengan kondisi beragam. Benteng Vredeburg Yogyakarta, Benteng Rotterdam di Makassar, dan Benteng Malborough di Bengkulu, merupakan benteng dalam kondisi sangat baik dan menjadi landmark kota yang sangat penting. 
Pengelola Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta Suharjo mengatakan, Benteng Vredeburg merupakan salah satu cagar budaya di Provinsi DIY dan memiliki sejarah penting dalam perjuangan rakyat Indonesia. Untuk itulah, upaya pelestarian perlu terus menerus dilakukan agar keberadaan benteng ini bisa menyatu dalam kehidupan masyarakat.
(Olivia Lewi Pramesti)+NG Indonesia
01.01 | 0 komentar

Tengkorak Vampir Kembali Ditemukan di Inggris


Penemuan kerangka dengan pasak di tubuh menunjukkan masih ada rasa takut mengenai mayat yang bangkit dari kubur pada tahun 1820-an.

vampir,kelelawar,mitos(Thinkstockphoto)
Para arkeolog merinci beberapa laporan baru dari sebuah penemuan arkeologi lama, mengenai makam makhluk pengisap darah, atau lebih dikenal sebagai vampir, di Inggris. Makam yang bertanggal antara tahun 550 hingga 700, ditemukan pertama kali pada tahun 1959 di Southwell, Nottinghamshire, oleh arkeolog Charles Daniels.
Di dalam makam, terkubur tengkorak dengan paku logam di bahu, jantung, dan pergelangan kaki. Saat pertama kali ditemukan, Daniels langsung mengenali bahwa kerangka tersebut bukanlah tengkorak yang biasa, namun tidak ada penyelidikan lebih lanjut saat itu.
"Komentar Daniels bukanlah sebuah lelucon bahwa dia memang telah memeriksa 'mata dari gigi' kerangka tersebut dan jelas ada keterkaitannya dengan vampir," kata Matthew Beresford, arkeolog dari Southwell.
Para penulis yang juga arkeolog melaporkan hasil penelitian terbarunya secara menyeluruh mengenai tengkorak Southwell dengan menerbitkan dua buah buku, di mana vampir diangkat sebagai subjeknya. Dalam bukunya, Beresford melihat konteks yang lebih luas dari sebuah permakaman. Termasuk penggalian yang terjadi di masa lalu yang ternyata memiliki fenomena pemakaman yang menyimpang --sesuatu yang hanya sedikit diakui di Inggris.
"Selama periode zaman Anglo-Saxon, pencuri, pembunuh, atau pun pengkhianat dihukum dengan cara dikubur di tanah yang terendam air dengan kepala menghadap ke bawah, dipenggal, atau diintai," tulis Beresford.
Perlakuan seperti itu lantas diperluas penerapannya bagi siapapun yang melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Para arkeolog yakin masih ada sisa-sisa kerangka yang mungkin masih terkubur di situs tersebut karena Daniels mengaku tidak dapat mengambil keseluruhan tubuh tengkorak.
"Menurut sebuah legenda vampir Southwell, sepertinya ia (kerangka yang ditemukan) bukanlah yang terakhir yang dimakamkan di kota ini karena penduduk setempat khawatir bila hidup lagi akan menjadi sumber bencana bagi mereka," kata Beresford dalam situsnya.
Dalam catatan sejarah, tertulis tahun 1822 Henry Standley, salah seorang terpidana kasus pembunuhan ditemukan tewas di dalam selnya. "Ia mencabut nyawa dengan menggantung dirinya," kata Beresford.
Sebuah laporan surat kabar lokal tanggal 15 Februari 1822 mengungkapkan, Standley dimakamkan di dekat persimpangan jalan dengan pasak yang terpancang ke tubuh. Lokasi persimpangan jalan dipilih sebagai permakaman karena di situlah lokasi ideal bagi seseorang terduga vampir.
"Teorinya, jika mereka hidup kembali maka mereka tidak mengetahui jalan kembali ke desa. Dan dalam cerita rakyat, jika seseorang bunuh diri, maka berisiko besar menjadi vampir dalam kematiannya," kata Beresford.
(Umi Rasmi Sumber: Discovery News)+NG Indonesia
00.59 | 0 komentar

Terus Mengungkap Masa Keemasan Dinasti Majapahit


Sudah tak terhitung berapa ribu kali penggalian arkeologis dan penelitian di Trowulan, situs yang memendam kebesaran Majapahit.

majapahit,budaya,multikulturalisme,trowulanBagian poster National Geographic Indonesia edisi September 2012 yang menggambarkan suasana multikulturalisme di Ibu Kota Majapahit (Seni: Sandy Solihin)
Situs Trowulan yang berlokasi di Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, menyimpan sisa keagungan Kerajaan Majapahit, sehingga terus diteliti. Menurut sejarawan dari Universitas Negeri Surabaya, Hanan Pamungkas, Trowulan hampir dipastikan sebagai pusat Kerajaan Majapahit karena memiliki situs pemukiman padat penduduk.
Trowulan ditetapkan menjadi cagar budaya sesuai UU No. 11 Tahun 2010 dan sebagai laboratorium arkeologis terlengkap di nusantara dengan luas 99 kilometer persegi. Ratusan ribu temuan benda peninggalan, berupa artefak, ekofak, serta fitur yang diperkirakan berasal dari abad 12 hingga 15 Masehi, didapatkan dari cagar budaya Trowulan.
Pusat Arkenas hampir setiap tahun menjadwalkan macam-macam penggalian arkeologis di kawasan ini. Penelitian juga dilakukan para mahasiswa jurusan arkeologi, dosen arkeologi, peneliti, arsitek, dan ahli sejarah dari berbagai kampus dan lembaga penelitian. Sudah tak terhitung berapa ribu kali penggalian arkeologis dan penelitian di Trowulan.
Data Badan Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur mencatat, penelitian telah dilakukan sejak 1815 oleh JW Bartholomeus Wardenaar, seorang peneliti kebangsaan Belanda.
Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Jawa yang didirikan pertama kali oleh Raden Wijaya. Kerajaan dan peradaban Majapahit mengalami keruntuhan sekitar awal abad ke-16. Raja yang tersohor di Majapahit ialah Hayam Wuruk dengan patihnya, Gajah Mada. Pada masa pemerintahan, mereka berdua membawa Majapahit ke masa kejayaan.
Berbagai upaya penelitian terus dilakukan di Trowulan demi mengungkap masa keemasan Majapahit. Namun, aktivitas industri batu bata makin menjamur saat ini bisa mengancam keberadaan peninggalan Majapahit di Trowulan yang masih terpendam.
Hanan Pamungkas menilai, penggalian arkeologis seolah berpacu dengan kerusakan yang terjadi di tanah Trowulan akibat industri batu bata tersebut. Hingga sekarang, 75 persen tanah peninggalan Kerajaan Majapahit pun sayangnya sudah rusak.
(Gloria Samantha. Sumber: Kompas)+NG Indonesia
00.53 | 0 komentar

Ditemukan, Foto Langka Tragedi Bom Hiroshima

Written By mhharismansur on Sabtu, 12 Januari 2013 | 05.18


Foto diambil dekat kota Kaitachi, sebelah timur dari titik kejadian. Dibidik dua menit pasca bom dijatuhkan pada 6 Agustus 1945.

hiroshima,jepang,bom atom,nuklirHiroshima Peace Memorial, bangunan yang menjadi situs sejarah untuk mengenang peristiwa dijatuhkannya bom atom di kota Hiroshima, Jepang, pada 6 Agustus 1945. (Thinkstockphoto).
Sebuah foto kuno dan langka menggambarkan peristiwa bom Hiroshima pada 6 Agustus 1945 silam, yang telah lama hilang, ditemukan di sebuah sekolah dasar di Jepang.
Foto berwarna hitam putih ini menunjukkan fenomena awan mengepul berbentuk jamur yang terpisah menjadi dua bagian. Awan satu berada di atas awan lainnya, menggambarkan betapa dashyatnya peristiwa pemboman Hiroshima kala itu.
Foto ditemukan di Sekolah Dasar Honkawa di kota Hiroshima dan termasuk dalam koleksi 1.000 artikel tragedi bom atom Perang Dunia II. Koleksi ini merupakan material yang disumbangkan oleh Yosaburo Yamasaki pada tahun 1953.
Surat kabar Jepang, Asahi Shinbun, menyebutkan, di belakang foto tertulis sebuah memo yang menyatakan bahwa foto ini diambil dekat kota Kaitachi, yang berjarak sekitar 9,6 kilometer sebelah timur dari titik kejadian. Diambil dua menit setelah bom dijatuhkan pada 6 Agustus 1945.
Ahli sejarah mengetahui dan mengenali foto ini karena pernah muncul di salinan foto asli dari sebuah buku berbahasa Jepang yang diterbitkan tahun 1988. Keterangan yang terdapat dalam buku adalah identitas fotografer yang memotret tidak diketahui dan diambil kurang lebih 20 hingga 30 menit pasca pemboman.
"Penelitian yang dilakukan oleh Angkatan Laut Kerajaan dan lainnya menemukan bahwa awan (bom atom) terpisah. Foto ini menegaskan hal tersebut dan demikian dia sangat berharga," ujar kurator dari Hiroshima Peace Memorial Museum, Rabu (9/1).
Foto-foto peristiwa pemboman Hiroshima yang terkenal selama ini hanya yang diambil oleh militer Amerika Serikat dari udara pasca pemboman. Bom seberat lima ton yang dikenal dengan nama "Litle Boy" dijatuhkan di Hiroshima oleh pesawat tempur milik AS, Enola Gay, dan menewaskan setidaknya 140.000 jiwa.
Tiga hari setelah itu, kepulan awan menyerupai jamur kembali menyelimuti langit Jepang. Kala itu menerjang kota Nagasaki akibat dari bom atom yang dijuluki "Fat Man." Bom kedua ini menewaskan 70.000 korban jiwa lainnya dan menjadi salah satu penyebab Jepang menyerah di Perang Dunia II.
(Umi Rasmi. Sumber: Discovery News)
(Nasional Geograophic Indonesia)
05.18 | 0 komentar

Di Balik Cakrawala Biru

Written By mhharismansur on Rabu, 09 Januari 2013 | 15.25


Bagaimana pengarung-samudra purba mendiami pulau-pulau yang tersebar luas di Lautan Teduh.

OLEH ROFF SMITH
FOTO OLEH STEPHEN ALVAREZ
Yang paling menggetarkan hati dari penjelajahan ke sisi dunia yang jauh terletak pada adanya romantisme  perbedaan. Oleh karena itu, kita merasa simpati pada Kapten James Cook saat dia “menemukan” Hawaii pada suatu hari di tahun 1778. Saat itu, dalam ekspedisi ketiganya ke Pasifik, pelaut Inggris itu telah menjelajahi puluhan pulau di sepanjang lautan nan luas tersebut, dari Selandia Baru yang subur hingga Pulau Paskah yang kosong dan kerontang. Pengarungan terakhirnya ini membawanya ribuan kilometer ke utara Archipel de la Société hingga ke sebuah kepulauan yang begitu terpencil, yang bahkan orang-orang tua Polinesia di Tahiti tak tahu apa-apa tentang gugus pulau tersebut. Bayangkan kekagetan Cook saat itu ketika penduduk pribumi Hawaii datang dengan mendayung perahu dan menyapanya dalam bahasa yang dikenalnya, bahasa yang dia dengar di hampir setiap pulau berpenduduk yang dia kunjungi. Karena terkesiap pada bahasa dan budaya Pasifik yang terdapat di mana-mana ini, dia kemudian bertanya-tanya di dalam jurnalnya: “Bagaimana kita menjelaskan Bangsa ini yang menyebarkan diri begitu jauh di samudra nan Luas ini?”

Pertanyaan tersebut dan pertanyaan lain yang timbul dari situ membuat orang pusing selama berabad-abad: Siapakah para pelaut yang mengejutkan ini? Dari mana mereka datang, lebih dari 3.000 tahun yang lalu? Dan bagaimana cara masyarakat Neolitikum yang dengan perahu sederhana dan tanpa alat navigasi itu bisa menemukan dan bahkan mendiami ratusan pulau yang tersebar luas di samudra yang membentangi hampir sepertiga dunia?

Jawaban atas pertanyaan itu terungkap dengan amat lambat. Namun, kini temuan arkeologi yang menyentak di Pulau Éfaté di negara Pasifik Vanuatu mengungkapkan adanya suatu masyarakat bahari purba, nenek moyang orang Polinesia zaman sekarang, yang menempuh langkah pertama menuju tanah tak dikenal. Berbagai temuan di sana juga membuka jendela ke dunia temaram para pengarung samudra masa awal tersebut.

Di saat yang bersamaan, beberapa potong jawaban lainnya dari teka-teki manusia ini muncul dari tempat yang tak diduga. Data iklim yang diperoleh dari karang yang lambat tumbuh di seputar Pasifik dan dari endapan di danau-danau pegunungan di Amerika Selatan mungkin membantu menjelaskan bagaimana pada lebih dari seribu tahun kemudian, gelombang kedua pelaut menyebar ke seluruh Pasifik.

Di gumuk lengang yang bermandi cahaya matahari di Éfaté, sekitar setengah jam perjalanan berkendara dari Port-Vila, ibu kota kolonial lama Vanuatu, Matthew Spriggs duduk di atas ember yang ditelungkupkan, sambil menyikat kotoran dengan lembut dari keping gerabah kaya dekorasi yang baru digali beberapa menit sebelumnya. “Saya belum pernah melihat yang seperti ini,” ujarnya, sambil mengagumi desainnya yang rumit. “Tak seorang pun pernah. Ini unik.”

Deskripsi itu sangat cocok untuk menggambarkan penemuan di tempat tersebut. “Apa yang kita temukan adalah situs generasi pertama atau kedua yang memuat sejumlah makam dari pengarung Pasific yang pertama,” ujar Spriggs, profesor arkeologi di Australian National University dan salah satu pemimpin tim internasional yang menggali situs itu. Situs itu ditemukan secara kebetulan. Seorang operator mesin serok (backhoe) yang sedang menggali tanah pucuk di lahan perkebunan kelapa yang terlantar tanpa sengaja mengeruk sebuah makam—yang pertama dari lusinan lahan pekuburan yang berumur sekitar 3.000 tahun. Ini adalah pemakaman tertua yang pernah ditemukan di kepulauan Pasifik dan berisi tulang orang-orang kuno yang disebut Lapita oleh para arkeolog, sebuah istilah yang berasal dari pantai di Kaledonia Baru tempat simpanan tembikar mereka ditemukan pada 1950-an.

Mereka adalah petualang laut biru nan pemberani yang berkelana di laut bukan hanya sebagai penjelajah, tetapi juga sebagai perintis. Mereka membawa serta segala yang diperlukan untuk membangun hidup baru—perkakas batu dan bibit keladi, ternak dan keluarga. Dalam jangka waktu beberapa abad, kaum Lapita merentang batas dunia mereka dari gunung-gunung berapi yang berselimut hutan di Papua Nugini hingga ke pulau karang yang paling terpencil di sekitar Tonga, setidaknya 3.000 kilometer ke arah timur di Pasifik. Sepanjang perjalanan tersebut, mereka menjelajahi jutaan kilometer persegi laut tak dikenal, menemukan dan mendiami puluhan pulau tropis yang sebelumnya tak pernah dilihat mata manusia: Vanuatu, Kaledonia Baru, Fiji, Samoa.

Keturunan merekalah yang beberapa abad kemudian menjadi pelaut-pelaut Polinesia yang sangat terkenal: orang Tahiti dan Hawaii, Maori dari Selandia Baru, dan suku asing yang mendirikan patung-patung di Pulau Paskah. Namun, kaum Lapitalah yang meletakkan dasarnya—yang mewariskan ke berbagai pulau tersebut bahasa, adat, dan budaya yang kemudian dibawa oleh keturunannya yang lebih terkenal ke seantero Pasifik.

Walaupun meninggalkan warisan yang gemilang, Lapita meninggalkan sedikit sekali informasi mengenai diri mereka sendiri. Sekelumit informasi yang diketahui atau diduga tentang mereka dirangkai dari keping tembikar, tulang hewan, serpih obsidian, dan sumber-sumber tidak langsung seperti linguistik perbandingan dan geokimia.

Walaupun pengarungan mereka dapat dilacak ulang hingga ke pulau-pulau di utara Papua Nugini, bahasa mereka—yang ragamnya masih dipakai di seluruh Pasifik—berasal dari Taiwan. Selain itu, gaya hiasan tembikarnya yang khas, dibuat dengan menekan cap ukiran ke tanah liat, mungkin berakar dari Filipina utara.

Dengan penemuan pemakaman Lapita di Éfaté, jumlah data yang tersedia bagi para peneliti meningkat secara dramatis. Sejauh ini telah ditemukan tulang dari setidaknya 62 orang—termasuk laki-laki tua, perempuan muda, bahkan bayi—dan diketahui masih ada rangka-rangka lain yang berada di dalam tanah.

Para arkeolog juga tergetar karena menemukan enam tempayan Lapita yang utuh; sebelumnya, hanya empat tempayan yang pernah ditemukan. Temuan lainnya meliputi perabuan  yang dikubur dengan hiasan burung di bibir wadah yang seakan melihat ke bawah, ke arah tulang-belulang manusia yang tersegel di dalamnya. Ini temuan penting, ujar Spriggs, karena ini memastikan sisa-sisa jasad tersebut adalah kaum Lapita. “Orang sulit mendebat bahwa ini bukanlah Lapita karena tulang-tulang manusianya tersimpan dalam perabuan yang tidak salah lagi milik kaum Lapita.”

Beberapa jenis bukti lain juga memperkuat kesimpulan Spriggs bahwa ini adalah komunitas perintis yang melakukan pengarungan pertama ke ujung terpencil Oseania. Salah satunya, penanggalan radiokarbon tulang dan arang menempatkan mereka di masa awal penyebaran Lapita. Bukti lainnya, kandungan kimia serpihan obsidian yang banyak terdapat di situs tersebut menunjukkan bahwa batu itu bukanlah batu lokal; melainkan didatangkan dari sebuah pulau besar di Kepulauan Bismarck Papua Nugini yang menjadi titik awal penyebaran kaum Lapita ke Pasifik. Batu kaca vulkanis yang indah ini dibentuk menjadi perkakas untuk memotong dan mengerik, jenis alat penyintas yang tentu dibawa penjelajah di dalam perahu mereka.

Petunjuk yang sangat menarik berasal dari uji kimiawi terhadap gigi beberapa kerangka. Saat itu, seperti juga sekarang, makanan dan air yang kita konsumsi pada masa kanak-kanak menyimpan oksigen, karbon, strontium, dan unsur-unsur lain di dalam gigi-tetap yang sedang tumbuh. Tanda isotop unsur-unsur ini berbeda sedikit di masing-masing tempat, sehingga jika Anda dibesarkan katakanlah di Medan, lalu menghabiskan masa dewasa Anda di Jakarta, uji isotop gigi Anda akan selalu mengungkapkan asal Sumatra Anda.

Analisis isotop menunjukkan bahwa beberapa orang Lapita yang dikuburkan di Éfaté tidak dibesarkan di sini, tapi berasal dari tempat lain. Walaupun isotop tidak bisa memastikan pulau asal mereka, jelas bahwa: pada satu titik dalam kehidupan mereka, orang-orang ini meninggalkan kampung halaman, mengarungi lautan dengan perahu, dan tak pernah kembali.

DNA yang diperoleh dengan susah payah dari tulang-tulang purba ini mungkin juga membantu menjawab salah satu pertanyaan yang paling membingungkan dalam antropologi Pasifik: apakah semua penduduk pulau Pasifik berasal dari nenek moyang yang sama atau dari banyak nenek moyang? Apakah hanya ada satu perpindahan keluar dari satu tempat tunggal di Asia ataukah beberapa perpindahan dari beberapa tempat? “Ini mewakili kesempatan terbaik yang kita miliki sejauh ini,” tutur Spriggs, “untuk mengetahui siapa kaum Lapita sebenarnya, dari mana asalnya, dan siapa keturunan terdekat mereka saat ini.”

Ada satu pertanyaan mengusik lainnya yang belum ditemukan jawabannya oleh arkeologi: bagaimana kaum Lapita menuntaskan hal yang pada masa purba itu setara dengan pendaratan di bulan, bahkan berulang kali? Belum ada yang menemukan perahu atau tiang layar mereka, yang dapat menunjukkan cara perahu mereka berlayar. Tak ada pula sejarah atau tradisi lisan dari kaum Polinesia setelahnya yang memberi pemahaman karena banyak terjalin dalam mite, jauh sebelum sejarah dan tradisi lisan itu mencapai masa Lapita.

“Yang dapat kami sampaikan dengan pasti adalah kaum Lapita memiliki perahu yang mampu mengarungi samudra dan mereka mampu melayarkannya,” ujar Geoff Irwin, profesor arkeologi di University of Auckland yang gemar berlayar. Kemampuan berlayar itu, ujar Irwin, berkemban dan diwariskan selama ribuan tahun oleh pelaut masa lebih awal yang bersusah payah berlayar melintasi kepulauan di Pasifik barat dengan penyeberangan jarak pendek dari satu pulau ke pulau lain yang saling terlihat. Petualangan yang sesungguhnya belum dimulai, hingga keturunan Lapita mendekati ujung rantai gugus pulau Solomon, karena inilah batas dunia mereka. Daratan terdekat, Kepulauan Santa Cruz, hampir 370 kilometer jauhnya dan pada sekurangnya 240 kilometer, pelaut Lapita tak bisa melihat daratan, hanya cakrawala kosong di sekelilingnya.

Namun, perjalanan pada sekitar 1200 SM itu baru berupa aktivitas pemanasan karena Santa Cruz dan Vanuatu adalah tempat yang ditemukan paling awal dan paling  mudah oleh Lapita.
Untuk mencapai Fiji sekitar satu abad kemudian, mereka harus menyeberangi samudra 800 kilometer lebih, terus berlayar hari demi hari menembus kehampaan Pasifik yang biru. Apa yang memberi mereka keberanian untuk melakukan pengarungan berbahaya seperti itu?

Penyebaran kaum Lapita ke Pasifik mengarah ke timur, berlawanan dengan arah angin pasat, ujar Irwin. Angin haluan yang menghambat itu, menurut dia, mungkin kunci keberhasilan mereka.
“Mereka dapat berlayar selama berhari-hari ke daerah yang tidak dikenal dan melakukan survei awal dengan perasaan aman karena tahu jika mereka tidak menemukan apa-apa, mereka dapat kembali dan pulang dengan cepat memanfaatkan angin pasat. Hal itulah yang membuat upaya mereka menjadi efektif.” Begitu berada di tengah laut, pelaut ulung dapat mendeteksi petunjuk yang berlimpah yang mengarahkan mereka ke daratan: burung laut dan penyu, kelapa dan ranting yang terbawa air pasang ke laut, serta gumpalan awan sore hari di cakrawala yang sering menunjukkan adanya pulau di kejauhan.

Beberapa pulau mungkin melansir keberadaannya dengan tanda yang jauh lebih samar dibandingkan gumpalan awan. Beberapa letusan terdahsyat yang terjadi dalam 10.000 tahun terakhir  di Bumi terjadi di Melanesia yang letaknya rentan di salah satu wilayah gunung api paling aktif di muka Bumi. Bahkan letusan yang tidak terlalu spektakuler pun membubungkan gumpalan asap hingga ke stratosfer dan menyebabkan hujan abu dalam radius ratusan kilometer. Mungkin saja kaum Lapita melihat tanda dari pulau-pulau yang jauh ini dan kemudian hari berlayar ke arah tersebut, memahami bahwa mereka akan menemukan daratan.

Bagi penjelajah yang pulang, berhasil maupun gagal, bentuk geografi kepulauan mereka menyediakan jaring pengaman sehingga mereka tidak akan melampaui pelabuhan asalnya tanpa disengaja dan tersasar ke laut yang tak bertepi.

Vanuatu, misalnya, terentang sepanjang 800 kilometer dari barat laut ke tenggara, puluhan pulaunya yang berada dalam jarak pandang membentuk penghalang bagi pelaut yang pulang mengikuti angin pasat.

Semuanya ini mengasumsikan satu detail mendasar, kata Atholl Anderson, profesor prasejarah di Australian National University dan seperti Irwin, juga gemar berlayar: bahwa kaum Lapita telah menguasai seni yang tinggi dalam memanfaatkan angin . “Dan tak ada bukti bahwa mereka bisa melakukan hal tersebut,” kata Anderson. “Diasumsikan bahwa mereka tentu memiliki kemampuan tersebut dan orang membuat perahu untuk mengulangi pengarungan awal itu berdasarkan asumsi tersebut. Namun, tak seorang pun yang mengetahui bentuk perahu mereka dan bagaimana bentuk layarnya.”

Bagaimanapun cara mereka melakukannya, kaum Lapita menyebar ke sepertiga rentang samudra Pasifik, lalu berhenti karena alasan yang tidak kita ketahui. Di depan terbentang kehampaan Pasifik tengah yang maha luas, sementara mereka mungkin terlalu tersebar untuk bisa meneruskan perjalanan. Mereka mungkin tidak pernah berjumlah lebih dari beberapa ribu dan dalam migrasinya yang cepat ke arah timur, mereka menemukan ratusan pulau—di Fiji saja lebih dari 300. Dengan kekayaan yang melimpah ini, mereka dapat berhenti mengembara dan menikmati pulau-pulau yang saat itu menjadi surga terakhir di Bumi.

“Pasti sangat mengejutkan melihat tempat ini pada saat itu,” kata Stuart Bedford, arkeolog dari Australian National University yang bersama Matthew Spriggs memimpin penggalian di Éfaté. “Saat itu pulau-pulau ini memiliki keanekaragaman hayati yang jauh lebih banyak daripada saat ini.” Sebagai ilustrasi, dia mengambil cangkang siput lolak seukuran pinggan yang didapat dari parit uji pagi itu. “Terumbu karang saat itu dipenuhi ribuan binatang seperti ini, satu saja sudah mengenyangkan. Laut dipenuhi ikan, sementara burung besar yang tidak bisa terbang dapat ditemukan di dalam hutan hujan, sepertinya jinak karena satwa-satwa itu tak pernah melihat manusia. Kaum Lapita mungkin saja mengira mereka menemukan surga.”

Dan memang benar demikian. Namun kisah mereka adalah cerita tentang surga yang ditemukan lalu hilang lagi karena walaupun Lapita adalah masyarakat Neolitikum, mereka memiliki kapasitas zaman modern dalam hal mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Dalam tempo yang singkat—tak lebih dari beberapa generasi—cangkang siput lolak raksasa itu menghilang dari catatan arkeologi. Burung besar yang tak bisa terbang itu pun menemui nasib serupa, sebagaimana juga satu spesies buaya daratan. Secara keseluruhan, diperkirakan lebih dari seribu spesies punah di seluruh kepulauan Pasifik setelah manusia muncul di sana.

Meski begitu, lebih dari satu alaf berlalu sebelum keturunan Lapita, bangsa yang sekarang kita sebut Polinesia, mulai menyebar mencari kawasan baru. Para perintis yang meluncurkan abad penemuan kedua sekitar 1.200 tahun yang lalu itu menghadapi tantangan yang lebih besar daripada nenek moyang mereka. Kini mereka berlayar keluar dari perairan Melanesia dan Polinesia barat yang bertaburan pulau dan memasuki Pasifik tengah, di mana jarak diukur dalam ribuan kilometer, sementara pulau-pulaunya yang kecil mungil berjumlah sedikit dan berjauhan letaknya.

Seberapa sulit menemukan daratan di perairan tak bertuan ini? Bayangkanlah hal ini: saat armada Magellan melipir Pasifik pada 1520-21, berlayar tanpa panduan melintasi laut tak dikenal, mereka berlayar hampir selama empat bulan tanpa menemukan daratan. (Mereka terlewat Archipel de la Société, Tuamotu, dan Marquesas, dan beberapa kepulauan lain.) Banyak di antara pelaut malang itu yang meninggal kehausan, kurang gizi, skorbut, dan penyakit lainnya sebelum armada itu sampai di Filipina.

Bangsa Polinesia awal menemukan hampir semua pulau yang bisa ditemukan, walaupun mereka perlu berabad-abad untuk melakukannya. Kini, keberhasilan penjelajahan mereka diperingati dan dirayakan saat festival budaya di seantero Pasifik.

Saat itu menjelang petang dan suasana karnaval hadir di pantai di Tanjung Matira di Pulau Bora-Bora, Polinesia Prancis. Udara dipenuhi harum daging panggang dan ribuan penonton yang bersuka ria memenuhi pantai untuk menyaksikan final utama Hawaiki Nui Va‘a, lomba perahu bercadik sejauh 130 kilometer. Lomba meletihkan yang terbagi dalam tiga tahap tersebut seperti menghentikan kegiatan bangsa.

“Ini warisan budaya kami,” ujar Manutea Owen, mantan juara dan pahlawan yang dihormati di pulau asalnya, Huahine. “Bangsa kami datang ke sini melintasi laut dengan perahu. Terkadang saat sedang berlomba, saya mencoba membayangkan kesusahan yang mereka tanggung dan petualangan yang mereka alami saat melintasi jarak yang sangat panjang tersebut.”  Kini imajinasi merupakan satu-satunya cara untuk membayangkan pengarungan laut yang hebat itu. Sebagaimana nenek moyang Lapita mereka, bangsa Polinesia awal juga meninggalkan sangat sedikit artefak tentang kehidupan bahari mereka. Hanya beberapa puing dari sebuah perahu kuno yang pernah ditemukan di Huahine pada 1977. Sejauh ini, tidak ada contoh yang ditemukan dari perahu layar yang diperkirakan membawa perintis Polinesia melintasi samudra.

Para penjelajah Eropa meninggalkan uraian paling awal tentang perahu yang digunakan oleh penduduk pulau Pasifik. Di perairan Mikronesia yang lebih ramai, mereka menemukan perahu layar cucur yang ramping, jenis yang mungkin dibawa ke Pasifik dari dunia Arab atau China. Namun, di sudut-sudut terpencil Polinesia— Hawaii, Marquesas, dan Selandia Baru—para penjelajah hanya menemukan perahu sederhana. Atholl Anderson menduga inilah perahu pribumi yang sesungguhnya, jenis yang membawa pemukim Polinesia ke pulau-pulau nan jauh berabad-abad sebelumnya.

Anderson juga mempertanyakan pendapat umum tentang kemampuan berlayar bangsa Polinesia dengan mengutip penjelajah yang lebih belakangan, Kapten Cook. Walaupun Cook terkesan dengan kecepatan perahu Polinesia—perahu-perahu itu secara harfiah dapat berlayar memutari kapalnya—dia meragukan kemampuan penduduk pulau melakukan perjalanan laut yang panjang secara sengaja.

Dia mencatat berita tentang sekelompok orang Tahiti yang tak berdaya menghadapi angin haluan dan tak bisa mengarahkan perahunya pulang sehingga terseret ratusan kilometer di luar jalur dan terdampar di Aitutaki yang ada di Kepulauan Cook saat ini. Alih-alih memberikan segala kehormatan kepada kemampuan dan keberanian manusia, Anderson menganggap keberhasilan itu disebabkan nasib baik. El Niño, gangguan iklim yang sama dengan yang mengganggu Pasifik saat ini, mungkin membantu menyebarkan pemukim pertama ke ujung samudra, demikian pendapat Anderson. Data iklim yang diperoleh dari karang yang lambat tumbuh di seputar Pasifik dan dari endapan di dasar danau di Andes di Amerika Selatan menunjukkan bahwa serangkaian El Niño sangat sering terjadi, tidak seperti biasanya, di sekitar waktu ekspansi Lapita. Hal ini terulang lagi antara 1.600 dan 1.200 tahun lalu saat gelombang kedua pelaut perintis melanjutkan pengarungan mereka semakin ke timur, ke ujung terjauh Pasifik. Dengan membalik angin pasat yang biasanya bertiup dari timur-ke-barat selama beberapa minggu, “El Niño super” ini mungkin mempercepat pelaut purba Pasifik melakukan pengarungan panjang yang tak direncanakan, jauh ke balik cakrawala.

Rangkaian El Niño yang bersamaan waktunya dengan gelombang kedua pengarungan mungkin merupakan kunci penyebaran bangsa Polinesia di perairan terbuka nan luas antara Tonga yang menjadi tempat perhentian Lapita dan kepulauan Polinesia timur yang jauh. “Begitu mereka melintasi celah itu, mereka dapat melompat dari pulau ke pulau di sepanjang kawasan tersebut dan dari Marquesas, sebagian besar pengarungan dibantu angin ke Hawaii,” ujar Anderson. Baru 400 tahun kemudian para pelaut itu sampai ke Pulau Paskah yang terletak dalam arah berlawanan—menentang angin pada hari-hari biasa. “Sekali lagi ini terlaksana selama periode aktivitas El Niño yang sering terjadi.”

Seberapa besar peran El Niño dalam menyebarkan manusia di sepanjang Samudra Pasifik merupakan bahan perdebatan akademis yang hangat. Dapatkah nasib baik dan angin yang selalu berubah itu menjadi penyebab penyebaran penduduk di segenap penjuru Pasifik yang luasnya 168 juta kilometer persegi? Pada saat bangsa Eropa datang ke sana, bisa dikatakan semua daratan yang bisa dihuni, yang meliputi ratusan pulau dan pulau karang, telah ditemukan oleh pelaut pribumi—yang pada akhirnya mencapai Amerika Selatan. Para Arkeolog di Cile baru-baru ini menemukan tulang ayam purba yang mengandung DNA yang cocok dengan unggas awal Polinesia.

Mereka pun tidak datang sebagai orang terdampar nan kesepian yang segera punah. Mereka datang untuk menetap, secara berombongan, membawa hewan dan tanaman dari kampung halaman mereka sebelumnya.

“Menurut saya, perjalanan ini melibatkan hal lain di samping sekadar angin yang meniup perahu mereka,” ujar Irwin. Dia mencatat bahwa angin pasat mereda selama muson timur yang memungkinkan penduduk pulau dengan sengaja berlayar ke timur. Lagi pula, tambah Irwin, “Tradisi bahari yang canggih tertanam di setiap pulau. Apakah tradisi-tradisi itu berkembang secara terpisah di setiap pulau itu? Jika demikian, mengapa tradisi-tradisi ini memiliki demikian banyak kesamaan?” Namun, apa pun yang Anda yakini, bagian paling menarik dari kisah ini bukanlah metode yang mereka gunakan, tapi motif mereka. Kaum Lapita, misalnya, tidak perlu mencari rumah baru; tidak ada yang memaksa mereka, kampung halaman mereka tidak mengalami kelebihan penduduk.

“Mereka pergi,” ujar dia, “karena mereka ingin pergi dan melihat apa yang ada di balik cakrawala.”

sumber : NG Indonesia
15.25 | 0 komentar

Burung Purba Gunakan Gigi untuk Cerna Mangsa Bertulang Keras

Written By mhharismansur on Senin, 07 Januari 2013 | 12.31


Sulcavis geeorum mengembangkan gigi kuat untuk mencerna mangsa yang memiliki tulang luar keras seperti serangga atau kepiting.

fosil burung,gigi,cretaceousFosil burung bergigi, Sulcavis geeorum, dari masa awal Cretaceous, sekitar 121-125 juta tahun lalu. (Stephanie Abramowicz/Phys.org).
Paruh selama ini diketahui digunakan burung untuk memanipulasi makanan mereka. Variasi bentuknya menunjukkan adaptasi burung terhadap lingkungan.
Namun, penemuan terbaru mengungkapkan bagaimana nenek moyang burung modern memiliki gigi. Diperkirakan para ahli, gigi ini digunakan untuk makanan khusus.
Studi yang mempelajari salah satu burung purba, Sulcavis geeorum, ini diterbitkan dalamJournal of Vertebrate Paleontology. Disebutkan bahwa fosil burung ini mencerna mangsa yang memiliki tulang luar keras seperti serangga atau kepiting.
Sulcavis geeorum merupakan burung enantiornithine yang berasal dari era awal Cretaceous, sekitar 121-125 juta tahun lalu, di provinsi Liaonong, Cina. Burung enantiornithine diketahui adalah salah satu grup awal dari spesies burung dan menjadi burung mayoritas di masa Mesozoic.
Lebih istimewa lagi, enantiornithines memiliki keragaman bentuk gigi dan reduksinya sangat minimal. Sedangkan Sulcavis geeorum sebagai jenis baru enantiornithine, memiliki gigi kuat dengan lekukan pada permukaan bagian dalam. Ini membuatnya sangat cakap dalam mengunyah makanan keras.
"Di saat burung lain kehilangan gigi, enantiornithines melakukan evolusi morfologi baru dan spesialisasi gigi," kata Jingmai O'Connor, sebagai peneliti pemimpin dalam tulisan ilmiah ini, Senin (7/1).
Namun, O'Connor dan koleganya mengaku masih bingung mengapa jenis burung ini sangat unggul di era Cretaceous, tapi akhirnya mati dan punah. "Mungkin perbedaan jenis makanan ikut berperan di sini," ujar O'Connor.
(Zika Zakiya. Sumber: Phys.org)
12.31 | 0 komentar

Penelitian Arkeologi Bawah Laut Indonesia Sulit Berkembang


Penelitian arkeologis di Indonesia tidak berkembang karena biaya izin ekskavasi sangat mahal.

bawah laut,indonesiaGiordano Cipriani/SOPA/Corbis
Penelitian arkeologi bawah laut di Indonesia cenderung tidak berkembang dibandingkan negara lain di Asia Tenggara. Pasalnya, biaya pengurusan ijin penyelaman untuk kepentingan ekskavasi arkeologis bawah laut sangat mahal.
Mahalnya biaya perizinan, menurut Pakar Arkeologi Asia Tenggara, Prof.Dr.John N.Miksic dari National University of Singapore, menyebabkan banyak situs arkeologi bawah air terabaikan begitu saja. Banyak pula situs yang rusak karena pukat harimau.
Ia mengatakan, mahalnya izin penyelaman untuk kepentingan ekskavasi arkeologis disebabkan karena tidak ada pembedaan antara kepentingan penelitian dan pencarian barang muatan tenggelam. Menurutnya juga, izin itu mencapai kisaran US$250.000 atau sekitar Rp2,3 miliar.
Selain itu, Indonesia pun tidak memiliki sarana khusus untuk melakukan riset dan ekskavasi arkeologis bawah laut. "Padahal, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Thailand dan Filipina memiliki kapal yang memadai untuk melakukan ekskavasi bawah laut," kata Miksic.
Ia melanjutkan, negara di kawasan Asia Tenggara harus memiliki sikap yang sama soal arkeologi bawah laut. Selain dulunya merupakan jalur perdagangan yang sama, barang peninggalan yang ditemukan pun juga hampir mirip.
Penyelam Profesional di Padang, Mabruri Tanjung mengatakan, saat ini kalangan peneliti bawah air sedang menunggu rancangan peraturan pemerintah sebagai penjabaran dari UU No.11 Tahun 2010 tentang cagar Budaya.
(Olivia Lewi Pramesti. Sumber: Kompas)
12.27 | 0 komentar

Pusat Arkeologi Nasional: Tak Ada Piramida dan Peradaban Atlantis di Nusantara


Situs Gunung Padang yang menjadi polemik nan berlarut-larut itu ternyata tidak ada kaitannya dengan piramida. Tampaknya, situs itu dari masa yang jauh lebih muda ketika kehidupan sudah kompleks. Satu lagi, tidak ada bukti tinggalan budaya dari belasan ribu tahun lalu di dalam bukit itu.

gunung padang,arkeologiMahandis Y. Thamrin/NGI
“Sayang sekali, kita sebenarnya menginginkan piramida dan atlantis itu ada di negeri ini,” ungkap Harry Truman Simanjuntak dari Pusat Arkeologi Nasional, ”Tapi kenyataannya tidak ada bukti arkeologi, sehingga kita juga tidak ingin mengada-ada.”

Pernyataan itu disampaikan Simanjuntak pada seminar bertajuk “Rembug Situs Gunung Padang”, Kamis (29/3) di Gedung Pusat Arkeologi Nasional, Pejaten.

Simanjuntak  mengkritik Arysio Santos, geolog dari Brazil, yang berpendapat bahwa Indonesia merupakan lokasi peradaban atlantis yang hilang itu. Menurut Simanjuntak, Santos menggunakan kajian geologi, paleogeografi, dan paleoiklim yang sangat terbatas, tidak menggunakan kajian arkeologi. Bahkan Santos belum pernah berkunjung ke Indonesia. Inilah diantaranya yang menyebabkan banyak kerancuan dalam pendapat Santos soal lokasi atlantis yang hilang itu.

Dalam menanggapi pendapat adanya peradaban atlantis (12.000 tahun lalu) dan piramida (4.000 tahun lalu) di Nusantara, Simanjuntak memberikan dua alasan penolakannya.

Pertama, kerangka waktu kemunculan peradaban keduanya bertentangan dengan bukti-bukti arkeologi. Bahwa kurun waktu 12.000–2.000 tahun lalu belum ada peradaban di Nusantara ini, yang ada baru kehidupan berburu dan meramu.

Kedua, Nusantara tidak mengenal bentuk piramida, namun nenek moyang kita membangun punden berundak untuk sarana menghormat roh leluhur. Budaya megalitik sendiri baru berkembang sekitar awal Masehi dan terus berlanjut hingga jauh ke zaman sejarah. 

“Situs Gunung Padang tidak ada kaitannya dengan piramida,” ungkap Simanjuntak, “Agaknya dari masa yang jauh lebih muda ketika kehidupan sudah kompleks dan tidak adanya tinggalan dari belasan ribu tahun di dalam bukit”

Dari aspek geologi, Soetikno Bronto dari Pusat Survei Geologi menjelaskan bahwa Gunung Padang adalah leher atau sumbat lava di dalam kawah gunung api purba, berstruktur kekar kolom yang sudah roboh berserakan. Lalu,batu-batu itu ditata oleh manusia sebagai punden berundak untuk pemujaan. Namun karena sebab tertentu mungkin tanah longsor dan gempa bumi lalu ditinggalkan. “Seyogyanya informasi tentang adanya bangunan piramid cukup sebagai cerita fiksi saja untuk penambah daya tarik wisata alam atau wisata geologi gunung api purba.”

Danny Hilman Natawidjaja, yang mempresentasikan temuan Tim Katastropik Purba soal piramida situs Gunung Padang, menyambut baik acara yang menurutnya unik karena dihadiri para pakar dan senior dari berbagai disiplin ilmu. Dia berharap forum ilmiah berbeda dengan forum politik. Politik kadang menemui deadlock karena unsur kepentingan pribadi, namun ilmiah itu bersifat netral. “Asal kita open mind, apapun perbedaan pendapat itu akan ada jalan keluarnya,” tuturnya.

Di akhir acara, forum ini sepakat untuk segera mengembalikan ranah kegiatan penelitian di Gunung Padang dan situs arkeologi lainnya kepada Pusat Arkeologi Nasional. Lembaga yang kini di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu nantinya akan mengkordinasikan penelitian arkeologi yang memerlukan penanganan dari berbagai disiplin ilmu.

Soeroso, arkeolog senior dan mantan Sekretaris Dirjen Sejarah dan Purbakala Kemenbudpar, mengatakan bahwa dirinya  tidak ingin kasus Gunung Padang ini menjadi polemik yang berlarut dan membuat masyarakat menjadi bingung, “Jadi harus ada keputusan bersama untuk berintegrasi dalam penelitian soal situs tersebut sehingga semuanya menjadi jelas,” ungkap Soeroso, “Koordinasi semacam ini tentunya akan lebih menguntungkan ketimbang kita bekerja sendiri-sendiri."
(Mahandis Y. Thamrin)
12.22 | 0 komentar

Rumah Tertua Berusia 10.000 Tahun di Skotlandia


Eskavasi yang dilakukan secara rutin telah menemukan rumah tertua di Skotlandia yang berumur sekitar 10.000 tahun.

skotlandia,kastilKastil Eilean Donan di Skotlandia, negara yang tersohor dengan kastil dan bangunan tuanya. (thinkstockphoto)
Rumah prasejarah Skotlandia telah ditemukan saat eskavasi di wilayah Edinburgh, Skotlandia. Rumah ini diperkirakan berdiri pada masa Mesolitikum pada 10.252 tahun yang lalu. Dari uji radiokarbon yang dilakukan, peneliti memperkirakan bahwa ini adalah rumah tertua yang ditemukan di Skotlandia.
"Penemuan ini, khususnya hasil analisa dari laboratorium menambah informasi yang sangat berguna bagi peneliti tentang penduduk dan bangunan awal Skotlandia 10.000 tahun lalu," ungkap Arkeolog Senior, Rod McCullagh. Pada situs tersebut, ditemukan beberapa hal selain lubang pos, seperti titik api, busur panah, dan perkakas prasejarah.
Arkeolog percaya, rumah ini tidak ditempati sepanjang tahun, tetapi hanya saat musim dingin datang. Hal ini karena peneliti juga menemukan buah kemiri dalam jumlah besar di dalam tempat penyimpanan rumah. Project Manager Eskavasi, Ed Bailey mengatakan, "Penemuan sejenis ini langka dan situs ini telah memberikan kita kesempatan untuk mengembangkan pemahaman kita tentang manusia prasejarah."
Ed menambahkan bahwa dengan penemuan ini, gaya hidup Mesolitikum akan terjabarkan lebih detail. "Segala penemuan dan bukti yang dianalisa secara arkeologis dan palaeoenviromental akan membantu kita mengumpulkan teka teki dan gambar detail tentang Mesolitikum," tambahnya.
(Dimas Purwaraja. Sumber: The Telegraph)
12.20 | 0 komentar

Situs Megalitikum Gunung Padang Dirusak


Pengunjung yang berekreasi ke kawasan situs memperlakukan batu berumur ribuan tahun itu sebagai "keset."

gunung padang,situs purba,indonesiaPara pengunjung situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. (Mahandis Y Thamrin/NG).
Situs Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mulai rusak karena ulah manusia. Situs peninggalan kebudayaan megalitikum terbesar di Asia Tenggara itu saat ini tidak dikelola dengan baik.
Perilaku pengunjung yang seenaknya, ditambah adanya kepentingan, membuat struktur situs rusak parah. Penelitian yang dilakukan Pusat Arkeologi Nasional bekerja sama dengan Balai Arkeologi Bandung menemukan terjadinya kerusakan teknis pada situs megalitikum yang diperkirakan dibangun pada rentang waktu 2.500 - 1.500 Sebelum Masehi.
Arkeolog senior Moendardjito yang menjadi anggota tim ahli penelitian, Kamis (3/1), mengatakan, pengunjung situs Gunung Padang bisa mencapai 16.000 orang per bulan. Pengunjung sebanyak itu menginjak-injak bangunan situs yang dibangun dengan teknologi sederhana.
Kemampuan manusia yang masih rendah pada masa itu membuat bangunan situs berbentuk punden berundak tersebut didirikan dengan teknologi sederhana. Batuan ditumpuk tanpa perekat yang mudah bisa terlepas, kata Moendardjito.
Pengunjung yang berekreasi ke kawasan situs memperlakukan batu berumur ribuan tahun itu sebagai "keset" setelah kaki pegunjung menginjak tanah berlumpur. Akibat sering diinjak, posisi batu bergeser sehingga strukturnya berubah.
Banyak pula situs yang dipukul batu lain sehingga pecah dan pecahannya dibawa pulang. Pada bagian lain, banyak pula batuan yang dicoret-coret menggunakan cat semprot atau spidol.
gunung padang,arkeologiSitus Gunung Padang, Jawa Barat. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)
Sebagian pengunjung juga ada yang merusak struktur situs dengan mengangkat atau menggoyang-goyangkan batuan besar yang tegak berdiri.
"Ada mitos barangsiapa bisa mengangkat batu yang berdiri tegak, keinginannya akan terkabul. Mitos ini sangat menyesatkan," ujar Moendardjito.
Di lokasi situs juga banyak warung penjual cendera mata dan pedagang asongan yang berlarian, sehingga merusak situs.
 
Melestarikan situs
Penelitian yang dilakukan Arkenas dengan Balai Arkeologi Bandung ini bertujuan untuk melestarikan yang meliputi merawat, meneliti, dan memanfaatkan situs Gunung Padang.
Lutfi Yondri, peneliti utama Balai Arkeologi Bandung, mengatakan, situs tersebut mendesak untuk dilindungi. Kedatangan pengunjung membawa dampak positif bagai perekonomian warga, tapi warga perlu dilatih memanfaatkan tanpa merusak situs.
"Kalau situs rusak, pengunjung berkurang, masyarakat juga yang rugi. Selain itu, dunia keilmuwan juga kehilangan sumber ilmu pengetahuan yang sangat berharga," kata Lutfi.
Situs Gunung Padang juga tidak lepas dari kepentingan sebgian orang yang peraya bahwa di stus tersebut terdapat bangunan piramida. Keberadaan piramida itu diungkap komunitas Turangga Seta bersama beberapa ahli geologi. Mereka kemudian coba melakukan penelitian di kawasan situs.
Situs Gunung Padang memiliki luas sekitar tiga hektar, sementara kawasan dengan banyak situs batuan megalitikum sekitar 900 meter persegi. Situs ini berada pada ketinggian sekitar 885 meter di atas permukaan laut.
(Zika Zakiya. Sumber: Kompas) + NG Indonesia
12.18 | 0 komentar

Darah Pemenggalan Raja Louis XVI Terkandung dalam Kendi Tua


Kendi berbentuk labu ini sempat menyimpan saputangan yang dicelupkan ke dalam darah Louis XVI sesaat setelah dieksekusi mati.

marie antoinette,louis xviPatung penggambaran penguasa Prancis di era 1791 to 1792, Raja Louis XVI dan istrinya, Marie Antoinette. (Thinkstockphoto).
Ilmuwan menemukan sebuah kendi berbentuk labu yang mengandung jejak darah Raja Prancis Louis XVI. MelaluiJurnal Forensic Science Internationalyang diterbitkan pada 30 Desember 2012 lalu, para ilmuwan mengonfirmasi bahwa jejak DNA pada kendi labu yang berhiaskan wajah tokoh revolusioner Prancis, memiliki keterkaitan dengan rajanya terdahulu.
Dalam jurnal tersebut, para ilmuwan menegaskan bahwa DNA yang ada dalam kendi tersebut adalah milik Raja Louis XVI. Hal ini mereka pastikan setelah melakukan perbandingan dengan nenek moyang Raja Louis XVI yakni Raja Henry IV.
Raja terakhir disebut sebenarnya meninggal dalam keadaan utuh. Henry IV lahir 1553 dan menjadi raja di tahun 1589 dengan predikat "Good King Henry." Namun, pada tahun 1610 seorang Katolik fanatik membunuhnya kemudian tubuhnya dibalsem dan dikuburkan di utara Paris.
Tapi ketika Revolusi Prancis pecah, para penjarah menodai makam raja, salah satunya makam Henry IV. Mereka pun memenggal kepala jenazah sang Good King Henry.
"Kami memiliki potongan dari dua raja tersebut (Raja Louis XVI dan Henry IV) yang tersebar di berbagai tempat di Eropa," kata penulis studi Carles Lalueza-Fox, seorang peneliti paleogenom di Pompeu Fabra University di Spanyol.
Pada tahun 2010, peneliti telah menggunakan rekonstruksi wajah untuk meyatakan kepala tersebut milik Raja Henry IV. Namun, DNA yang diambil telah terkontaminasi dan tidak ada DNA pembanding. Sehingga sulit untuk menganalisa dan mendapatkan kesimpulan yang definitif.
guillotine,alat pancung,louis xviIlustrasi pemancungan kepala Raja Louis XVI (Thinkstockphoto)
Sementara itu, lebih dari 200 tahun yang lalu Raja Prancis Louis XVI dibunuh bersama istrinya, Marie Antoinette dengan guillotine. Sebuah legenda mengatakan, saat eksekusi ada seseorang yang menggunakan saputangan untuk menyerap darah raja yang telah mati.
Saputangan ini kemudian disimpan dalam sebuah kendi berbentuk labu dan akhirnya dimiliki oleh keluarga kaya di Italia.
Teks pada kendi labu tersebut menceritakan kisah mengerikan: "Pada tanggal 21 Januari, Maximilien Bourdaloue mencelupkan saputangan dalam darah Louis XVI setelah pemenggalan kepalanya."
Tahun ini para ahli forensik yang awalnya mempelajari penggalan kepala mumi milik Raja Henry IV, mengirim DNA kepada tim peneliti. DNA baru ini tidak rusak parah sehingga Lalueza-Fox dan rekan-rekannya bisa mendapatkan bagian dari kromosom Y, yakni kromosom yang sering digunakan untuk mengidentifikasi garis keturunan laki-laki.
Dengan membandingkan kromosom Y di kedua sampel, tim menyimpulkan bahwa kedua orang itu 250 kali lebih mungkin terkait genetik dibandingkan tidak memiliki kaitan. Kedua sampel memiliki varian genetik karakteristik wilayah Bourbon Prancis, dan mereka varian yang sangat jarang terjadi di Eropa saat ini.
Mengingat sejarah di balik sampel, temuan baru ini mengonfirmasi bahwa kedua darah kering ialah milik Raja Louis XVI sekaligus memverifikasi bahwa penggalan kepala yang dibalsem ialah milik Raja Henry IV.
(Zika Zakiya/Umi Rasmi. Sumber: Live Science) + NG Indonesia
12.04 | 0 komentar

Hujan Diprediksi Munculkan Ribuan Fosil Purba Sangiran

Written By mhharismansur on Senin, 31 Desember 2012 | 08.17


Fosil Purba ini akan muncul ke permukaan ketika musim hujan tiba. Ketika terangkat, fosil-fosil ini masih awet.

manusia purba,sangiran,situs,cagar budaya,pameranPameran Situs Sangiran di Yogyakarta/Olivia Lewi
Ribuan fosil purba di Sangiran yang masih terpendam di dalam tanah dimungkinkan akan muncul ke permukaan. Hal ini bisa terjadi karena struktur tanah di Sangiran yang mudah tererosi dan patah ketika musim hujan tiba.
"Saat ini fosil yang ditemukan masih sekitar 20 persen, sedangkan sisanya masih terpendam di dalam tanah. Sangat dimungkinkan sekali ketika musim hujan tiba, fosil-fosil ini akan tergali sendiri ke permukaan," papar Kepala Seksi Pengembangan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran Rusmulia Ciptadi, di sela-sela acara Pameran Museum Manusia Purba di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (29/11).
Sangiran yang dideklarasikan sebagai situs manusia purba oleh Van Konigswald pada 1934 silam merupakan daerah dengan karateristik tanah yang unik. Tanah Sangiran berasal dari endapan abu vulkanis, material lahar dari Gunung Lawu Purba dan Gunung Merapi Purba.
Ketika hujan, tanah ini mudah tererosi dan membentuk endapan. Saat itulah, fosil-fosil akan terangkat dengan sendirinya ke permukaan. Kekhasan lainnya adalah ketika terangkat di permukaan, fosil-fosil ini masih awet.
Rusmulia menjelaskan, fosil yang terpendam ini tersebar di 22 desa yang mencakup Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah. Fosil ini bisa mencakup manusia, binatang, serta fauna, ditambah dengan alat berburu mereka.
"Penemuan terakhir adalah penemuan kaki gajah. Kami masih menanti penemuan-penemuan berikutnya karena Sangiran tidak akan pernah mati," tambahnya.
manusia purba,sangiran,situs,cagar budaya,pameranPameran Situs Purba Sangiran di Yogyakarta/Olivia Lewi
Tiga museum baru di Sangiran
Dalam pengembangan situs Sangiran, pada tahun 2014 akan dibangun tiga museum baru di luas area 56 kilometer persegi yang tersebar di 22 desa. Tiga museum ini adalah klaster Dayu (penelitian arkeologi mutakhir), klaster Ngebung (sejarah penemuan), dan klaster Bukuran (history of Java Man).
Budi Sancoyo, Kasubag Tata Usaha Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran menjelaskan, museum ini lebih bersifat khusus dan diharapkan menjadi lokasi penelitian. "Koleksinya yang paling banyak tetap berada di klaster Krikilan atau Museum Purba Sangiran yang jumlahnya mencapai 31 ribu. Sementara itu, di museum khusus tersebut, pengunjung dapat belajar lebih detail tentang evolusi manusia," papar Budi.
Ia menambahkan penemuan fosil-fosil terakhir yang masih terpendam dalam tanah juga akan dimasukkan sesuai dengan karateristik museum khusus. Dengan demikian, pengunjung tidak kesulitan bila ingin melakukan penelitian.
Sementara itu, terkait dengan pameran Museum Purba Sangiran di lima kota: Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Denpasar, yang berlokasi di salah satu pusat perbelanjaan, Budi mengaku untuk meningkatkan kecintaan serta wawasan masyarakat terhadap manusia purba.
"Dengan pameran di mal, mereka tidak perlu kerepotan untuk datang ke Sangiran. Kami menilai cara ini efektif karena mal selalu didatangi banyak orang.Selama ini kunjungan ke museum masih sangat kurang," tambahnya.
Salah satu pengunjung, Desi Aiz (20) mengapresiasi positif pameran di pusat perbelanjaan. "Saya belum pernah ke Sangiran dan lewat pameran ini kami menjadi tahu isi museum itu," kata Desi.
Situs Sangiran pertama kali dikenal sebagai situs purbakala sejak tahun 1930-an ketika Van Es memetakan daerah Sangiran. Pada tahun 1934,situs ini dideklarasikan sebagai situs manusia purba oleh Von Konigswald dan tahun 1997 masuk sebagai cagar budaya.
Akhirnya situs ini ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya No.C 593 tahun 1996. Masuknya Sangiran sebagai warisan budaya dunia karena merupakan kunci dan lokasi penting dalam evolusi manusia, fauna, serta lingkungannya selama 2,4 juta tahun lalu tanpa terputus.
(Olivia Lewi Pramesti)
sumber : NG Indonesia
08.17 | 0 komentar

Tapak Jejak Pitarah Sumatra (lengkap)

Written By mhharismansur on Sabtu, 29 Desember 2012 | 06.00



Gua Harimau mengekalkan kompleks permakaman purba terpadat di Indonesia.

OLEH MAHANDIS Y.THAMRIN
FOTO OLEH REYNOLD SUMAYKU
Beberapa bulan setelah peristiwa itu, saya bertemu kembali dengan Truman di ruangan kantornya di  Pejaten, Jakarta Selatan. Dia mengabarkan bahwa pencuri itu telah diurus oleh kepala desa setempat. Menurut pengakuan, si pencuri sangat yakin benda itu dapat menjadi jimat yang mendatangkan keberuntungan, keberanian, dan kekebalan.

Sayangnya, gelang separuh yang di tangan si pencuri pun kini tinggal secuil lantaran sudah dipotong-potong dan dibagikan ke teman-temannya. “Saya tidak tertarik lagi untuk mengetahui siapa yang mengambilnya,” kata Truman dengan masygul, “karena barang itu sudah hilang.”

Kejadian perusakan arkeologis bukan hanya terjadi sekali. Beberapa tahun silam, rangka-rangka manusia prasejarah di Gua Silabe hasil kerja keras timnya juga dijarah. Tampaknya sekelompok orang tak bertanggung jawab itu mengira adanya harta karun.

Penemuan kubur kuno dan gambar cadas di Gua Harimau telah membuka pengetahuan baru tentang sosial budaya dan konsepsi kepercayaan para Penutur Astronesia awal yang mendiami sisi selatan Sumatra. Semakin banyak temuan rangka, semakin banyak pula rangkaian pertanyaan yang timbul dan berputar-putar di benak Truman.

Mengapa banyak rangka yang telentang, namun banyak pula yang terlipat? Mengapa tak semua dikuburkan dengan orientasi timur-barat? Apakah kubur berpasangan itu meninggal saat bersamaan? Apakah kubur berpasangan itu pasti ada satu yang dikorbankan?

Apakah rangka manusia di permakaman itu bertalian dengan penduduk Padangbindu masa kini? Apakah nantinya gua ini menjawab kekosongan data hunian Sumatra yang lebih tua? “Masih banyak pertanyaan yang belum bisa kita jawab,” kata Truman.

Harapannya, penelitian ini kelak didukung berbagai disiplin keilmuan, kemudian disintesakan bersama. Saat ini dia masih mencoba merekonstruksi kehidupan gua walaupun dengan data terbatas. “Ilmu pengetahuan berkembang terus. Apa yang kita katakan sekarang tidak harus menjadi kebenaran mutlak,” ujarnya, “Besok berubah pun tidak menjadi masalah.”

Eksplorasi Gua Harimau akan berlanjut tahun ini dengan lebih memfokuskan pada kronologi huniannya melalui ekskavasi vertikal. Meskipun penelitian ini belum menjawab misteri besar Sumatra, tabir jejak peradaban awal pulau keenam terbesar di dunia itu perlahan-lahan mulai tersingkap.

“Kemungkinan besar di gua ini masih ada hunian yang lebih tua lagi,” ujarnya dengan penuh harap. “Sangat menjanjikan!” 

sumber : NGI
Artikel yang berkaitan
  • Tapak Jejak Pitarah Sumatra part 1
  • Tapak Jejak Pitarah Sumatra part 2
  • Tapak Jejak Pitarah Sumatra part 3
  • Tapak Jejak Pitarah Sumatra part 4
  • Tapak Jejak Pitarah Sumatra part 5
  • Tapak Jejak Pitarah Sumatra part 6
  • Tapak Jejak Pitarah Sumatra part 7
  • Tapak Jejak Pitarah Sumatra part 8
  • Tapak Jejak Pitarah Sumatra part 9
  • Tapak Jejak Pitarah Sumatra (lengkap)
  • Praktek Deformasi Sebabkan Tengkorak Mirip Alien
  • Teks Berisi 10 Perintah Tuhan Dikonversi ke Format Digital
  • Bangsa Maya Tak Pernah Ramalkan Kiamat 2012
  • Dua Gunung Ini Diklaim Tempat Penyelamatan Kiamat Suku Maya
  • Kelambu Misteri Penghuni Purba Sumatra
  • 06.00 | 0 komentar
    Bse Information, Instructional Media And Educational Articles

    Kontak

    Nama

    Email *

    Pesan *

    Submit ExpressFree Webmaster Tools

    go green indonesia!