Hi ALL ,  welcome  |  MY SITE  |  PLEASE READ  |  THANK'S YOU ALL
Selamat datang di online learning, Ayo, terus belajar dan ilmu adalah teman yang paling baik. (kritik dan saran hubungi mhharismansur@gmail.com atau Hp. 081329653007)
Tampilkan postingan dengan label modul sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label modul sejarah. Tampilkan semua postingan

Mumi Sisilia (the end)

Written By mhharismansur on Sabtu, 16 Maret 2013 | 10.22


"Suara" dari bawah tanah memberi perenungan tentang makna kehidupan.

OLEH AA GILL
FOTO OLEH VINCENT J MUSI
Beberapa tahun sebelumnya, jasad-jasad ini sengaja dirusak di dalam pusara mereka. Orang-orang masuk secara paksa dan menuangkan cat hijau ke jenazah-jenazah itu. Mengerikan dan merendahkan, cat memercik dan mengalir melintasi wajah, mantel, dan sepatu mereka, membuat mereka kelihatan lebih menyerupai sosok-sosok dalam rumah hantu di taman hiburan. Para biarawati yang menjadi kuncen perhimpunan yang aneh ini menatap dengan rasa kasihan dan tidak senang. Mereka memberitahu saya bahwa jasad seharusnya dimakamkan dengan pantas sehingga dapat kembali menjadi debu. Salah seorang biarawati mengatakan, tidak ada yang spiritual atau yang menggugah semangat untuk dipelajari dari semua jasad yang diawetkan itu.

Jasad-jasad yang terpercik cat dan berisi kain rombeng akan segera kembali ke ceruk-ceruk yang kosong. Saat ini ruang-ruang tersebut tidak diisi apa-apa kecuali ratusan kelabang yang telah mati dan mengering. Sejumlah jasad masih tetap tersimpan dalam peti-peti mati mereka yang rumit. Dengan sangat hati-hati, saya mengangkat tutup berat yang mungkin belum pernah disingkap selama lebih dari satu abad dan melihat dengan seksama ke dalamnya. Udara seakan keluar dalam hembusan napas yang dalam dan bau menyergap tenggorokan saya—bukan bau busuk, tetapi aroma beef tea (teh khas Inggris yang dibuat dari daging sapi) dan aroma menyengat dari kapang kering dan lapisan bubuk yang halus dari debu manusia. Bau ini tidak dapat bakal terlupakan karena begitu dramatis, aroma keheningan dan kesedihan, bau harum dari doa berulang-ulang yang terdengar di kejauhan atau harum dari belas kasih dan penyesalan, bau yang memualkan sekaligus sangat akrab. Sesuatu terasa untuk pertama kali, tetapi juga dengan perasaan aneh pernah mengalami sensasi ini sebelumnya.

Kami tidak akan pernah tahu dengan pasti apa makna mayat-mayat ini bagi perhimpunan-perhimpunan yang membaringkan dan mengenakan pakaian pada mereka. Jasad-jasad tersebut tetap menjadi salah satu dari banyak misteri Sisilia. Kami pergi dengan keprihatinan, pemikiran, dan keraguan kami sendiri ketika dihadapkan dengan panorama kematian yang menggelikan sekaligus tragis. Sulit untuk menguraikan perasaan-perasaan yang muncul karena jasad-jasad, membeku dalam proses fisik dari debu menjadi debu – misteri, air mata, dan harapan, kontradiksi-kontradiksi kehidupan dan kematian, itulah yang abadi dan universal.

Kota Novara yang indah di Sisilia – sekitar 160 kilometer di timur Palermo, memiliki gereja besar dan dihiasi secara sakral. Di depan altar ada sebuah pintu rahasia ke makam, dan dengan menekan tombol tersembunyi, lantai terbuka secara elektronik, tepat seperti dalam film James Bond. Di bawah kumpulan anak tangga terdapat serangkaian ceruk yang berisi jasad-jasad banyak uskup dengan kerusakan bervariasi dan sekarang lazimnya hancur. Duduk di atas kursi batu kecil dengan lubang-lubang bundar pada kursi – saringan mereka – pemandangan dalam ruangan seperti di toilet umum dengan wajah-wajah lurus ke depan. Di atas sebuah rak tinggi ditumpuki tulang-tulang ada sebuah kotak berisi dua kucing, secara alami dimumifikasi, seperti bayangan samar Mesir kuno. Kucing-kucing itu terperangkap dalam makam, mengingatkan bahwa meskipun kucing diyakini memiliki sembilan nyawa, tetapi seperti kita semua, kucing hanya dapat menanti satu akhir yang tak terhindarkan dalam kematian.

sumber asli : NG Indonesia
10.22 | 0 komentar

Hikayat Negeri Tembakau part 2



Tembakau berjalin kelindan dengan kebudayaan masyarakat Nusantara.

OLEH PUTHUT E.A.
FOTO OLEH HAFIDZ NOVALSYAH
Se­betulnya orangtua Hong Djien yang lebih ter­didik meng­inginkan anak-anaknya bekerja di bidang yang lain. Kakak tertua Hong Djien ber­profesi sebagai dokter gigi, bahkan menjadi dokter gigi Soekarno. Hong Djien sendiri kemudian masuk kedokteran dengan spesialis bedah anatomi, sementara adiknya kuliah di Fakultas Hukum.

Pada 1968, saat ia berada di Belanda untuk melanjutkan kuliah, bapaknya meninggal dunia. Terpaksa Hong Djien pulang. Waktu itu bulan Juni, saat mendekati panen tembakau. Kakak dan adiknya tidak mungkin mengambil alih bisnis tersebut. Terpaksa Hong Djien yang memikul amanah untuk mengurus bisnis keluarga itu.

“Waktu itu petani-petani sudah mulai banyak yang berdatangan untuk menyetor tembakau. Padahal saya sama sekali tidak menguasai bisnis itu. Akhirnya mau tidak mau saya belajar tentang bisnis tembakau, termasuk meng-grade tembakau. Akhirnya keterusan sampai sekarang.”

Sejak muda, Hong Djien tidak bisa lepas dari lukisan. Awalnya karena di tembok rumah orangtuanya banyak lukisan, kebanyakan lukisan orang Belanda. “Ketika saya kuliah di Jakarta, saya pun mulai terbiasa mengunjungi pameran-pameran lukisan. Dan, ketika saya berada di Belanda, saya mulai membeli, walaupun sebatas membeli sketsa-sketsa.”

Begitu mulai punya uang yang cukup karena meneruskan bisnis tembakau ayahnya, ia mulai membeli lukisan-lukisan seperti Affandi, Sudjojono, Widayat, Nasar, Nyoman Gunarsa, Ivan Sagita, dan banyak yang lain. Di kalangan perupa Yogyakarta, Hong Djien punya tempat tersendiri yang susah digantikan.

Saat iklim seni rupa belum sebagus sekarang, Hong Djien sudah sering membeli karya para perupa muda, terutama dari Yogyakarta. Bagi mereka, karya mereka yang di­koleksi Hong Djien merupakan kebanggaan tersendiri.
Kini, di umurnya yang sudah sepuh, Hong Djien masih sering didaulat bicara di berbagai forum seni rupa penting, baik di dalam maupun di luar negeri. Ia juga menjadi semacam pe­nasihat bagi berbagai peristiwa seni rupa di tanah air.

Untuk menunjukkan kecintaannya pada dunia seni rupa, sosok yang mengoleksi lebih dari 2.000 karya seni rupa ini pun membuat sebuah museum seni rupa. Museum itu diresmikan pada tanggal 5 April 2012, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-73.

sumber : National Geographic Indonesia
10.20 | 0 komentar

Hikayat Negeri Tembakau (the end)


Tembakau berjalin kelindan dengan kebudayaan masyarakat Nusantara.

OLEH PUTHUT E.A.
FOTO OLEH HAFIDZ NOVALSYAH
Banyak jenis tembakau di Indonesia yang masuk dalam kategori unik dan mahal. Di Temanggung dan Muntilan ada tembakau srintil, di Lombok ada tembakau senang, di Garut ada tembakau mole, dan di Madura ada tembakau campalok. Dengan membawa penerjemah yang bisa berbahasa Madura, saya datang ke lokasi tempat tembakau campalok berada, di dusun Jembengan, desa Bakeong, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep.

Laki-laki yang saya cari sedang tiduran di atas balai-balai bambu yang sekaligus berfungsi sebagai musala. Namanya Abdul Aziz. Kulitnya legam dan tubuhnya gempal. Ia adalah pewaris lahan yang menghasilkan tembakau Campalok. “Karena saya petani, muka saya lebih tua dibanding umur saya,” ia bergurau.

“Saya tidak tahu persis kenapa tembakau ini bisa terkenal. Mungkin karena faktor tanahnya yang bagus. Tapi kalau menurut bapak dan kakek saya, dulu tanah tempat tembakau ini pernah disinggahi seorang ratu dari Sumenep. Kebetulan di sana ada sumur kecil. Saat singgah, ia mandi di sebelah sumur itu. Saat mandi, bunga yang ada di kepala ratu itu jatuh. Dari bunga itu tumbuh menjadi pohon yang disebut pohon campalok. Baunya harum. Mungkin dari bau harum tumbuhan ini, tembakau yang hidup di sekitar pohon itu jadi harum.”

Saya kemudian diajak menuju ke lahan tempat tembakau campalok tumbuh. Sayang, kedatangan saya agak telat. Panen tembakau campalok sudah dilakukan sekitar 10 hari sebelumnya. Namun batang-batang pohon tembakau itu masih berdiri utuh.

Lahan itu tidak seberapa besar, hanya dua petak dengan membentuk huruf "U". Dan, memang hanya ada satu pohon campalok yang tumbuh di sana, dan berdekatan dengan puluhan kuburan. Lahan itu hanya menghasilkan tujuh kilogram tembakau kering. Harga per kilonya untuk tahun ini Rp1.250.000. Harga yang cukup fantastis. Padahal, menurut Aziz, mulai bibit sampai cara penanaman dan perawatan tembakau Campalok tidak berbeda dengan tembakau lain.

“Sesepuh saya yang menanam tembakau di sekitar pohon ini,” ujarnya sambil menunjuk pohon campalok, “karena itu tembakaunya disebut tembakau Campalok. Jadi yang memberi nama tembakau Campalok ya sesepuh saya.”
Saya bertanya, siapa yang membeli tembakau campalok. Aziz menjawab, Pak Haji Guntur, seorang pedagang dan pencinta tembakau. “Saya sudah kadung dekat dengan Pak Haji Guntur, jadi tidak menjual ke orang lain. Bahkan tembakau saya ini sudah dikontrak untuk terus dibeli oleh beliau.”

Saya spontan bertanya, dikontrak sampai kapan? “Sampai beliau berhenti me­rokok.” Terang saja jawaban Aziz membuat saya tertegun. Azis mengakui, saat ini tembakau campaloknya sudah habis, semua dikirim ke Pak Haji Guntur.

Setelah cukup lama berbincang di lahan tembakau, kami berjalan beriringan menuju tempat semula kami berjumpa, sebuah musala yang sederhana. Sebelum pamit pulang saya sempat iseng berkata: dengan harga setinggi itu, kalau lahan tembakau campaloknya lebih luas lagi tentu ia bisa kaya-raya. Aziz hanya mengulum senyum, “Sebelum meninggal dunia bapak saya sempat berkata: Nak, tanah ini anugerah Tuhan, syukuri saja.”
sumber : NG Indonesia
10.17 | 0 komentar

SEJARAH PEMBUKUAN AL QUR’AN DAN HADIS

Written By mhharismansur on Minggu, 27 Januari 2013 | 08.47

A. SEJARAH PEMBUKAAN MUSHAF AL QUR’AN

1. Sejarah Pembukuan Mushaf Al Qur’an Pada Masa Rasulullah

Rasulullah menerima Al Qur’an melalui malaikat Jibril kemudian beliau membacanya serta mendiktekannya kepada para sahabat yang mendengarkannya.

Pada periode pertama sejarah pembukuan Al Qur’an dapat dikatakan bahwa setiap ayat yang diturunkan kepada Rasulullah selain beliau hafal sendiri juga dihafat dan dicatat oleh para sahabat. Dengan cara tersebut Al Qur’an terpelihara didalam dada dan ingatan Rasulullah SAW beserta para sahabatnya. Seperti yang di jelaskan dalam Al Qur’an surat Al Qiyamah 17 yang artinya :

sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (didadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.

Ayat diatas memberi petunjuk kepada kita bahwa Al Qur’an ini dijamin kemurniannya dan terpelihara serta terkumpul dengan baik sejak saat turunnya sampai saat ini. Seperti diriwayatkan dalam sebuah hadis yang artinya :

Ambilah (pelajarilah) Al Qur’an itu dari empat orang (sahabatku): Abdullah ibnu Mas’ud, Salim, Muadz ibnu Jabal dan Ubay bin Kaab.

2. Pembukuan Al Qur’an pada masa Khulafaur Rasyidin

Pada waktu Abu Bakar diangkat menjadi Khalifah beliau segera memerintahkan agar naskah yang tersimpan di rumah Rasulullah disalin dan sisusun kembali. Gagasan mengumpulkan Al Qur’an pada masa itu adalah dari sahabat Umar ibnu Khattab. Umar merasa khawatir akan hilangnya sebagian Al Qur’an dan penghafalnya yang telah gugur dalam pertemuan.

Demikianlah khalifa Abu Bakar memerintahkan Said bin Tsabit. Penulis suhuf-suhuf di zaman Rasulullah. Untuk mengumpulkan suhuf-suhuf Al Qur’an baik yang terdapat pada pelepah kurma, tulang hewan maupun dari para penghafal Al Qur’an. Dengan demikian kaum muslimin pada saat itu sepakat meyakini, bahwa mushaf Abu Bakar adalah mushaf Al Qur’an yang sahih yang diakui oleh semua sahabat tanpa ada yang membantah.

Pada masa Umar bin Khattab tidak ada lagi kegiatan dalam rangka mengumpulkan Al Qur’an oleh karena itu Khalifa Umar menitik beratkan kegiatannya pada penyiaran agama islam.
B. SEJARAH PEMBUKUAN HADIS

1. Hadis pada masa Rasulullah SAW

Hadis atau sunah adalah sumber hukum islam yang kedua yang merupakan landasan dan pedoman dalam kehidupan umat islam setelah Al Qur’an, karena itu perhatian kepada hadis yang di terima Muhammad SAW dilakukan dengan cara memahami dan menyampaikannya kepada orang yang belum mengetahuinya. Pada zaman Rasulullah para sahabat yang meriwayatkan hadis yang pertama. Para sahabat penerima hadis langsung dari Muhammad SAW baik yang sifatnya pelajaran maupun jawaban atas masalah yang dihadapi. Pada masa ini para sahabat umumnya tidak melakukan penulisan terhadap hadis yang diterima. Hal ini disebabkan antara lain :

a. Khawatir tulisan hadis itu bercampur dengan tulisan Al Qur’an
b. Menghindarkan umat menyadarkan ajatan islam kepada hadis saja.
c. Khawatir dalam meriwayatkan hadis salah, dan tidak sesuai dengan apa yang disampaikan Nabi Muhhammad SAW


2. Hadis pada masa Khulafaur Rasyidin

Setelah Rasulullah SAW wafat para sahabat mulai menyebarkan hadis kepada kaum muslimin melalui tabligh. Nabi Muhammad SAW bersabda yan artinya :

Sampaikanlah dari padaku, walaupun hanya satu ayat !

Disamping itu Rasulullah berpesan kepada para sahabat agar bberhati-hati, dan memeriksa suatu kebenaran hadis yang hendak disampaikan kepada kaum muslimin. Pada masa Abubakar dan Umar, hadis belum meluas kepada masyarakat. Karena para sahabat lebih mengutamakan mengembangkan Al Qur’an.

Ada dua cara meriwayatkan hadis pada masa sahabat :
a. Dengan lafal aslinya, sesuai yang dilafalkan oleh Nabi Muhammad SAW.
b. Dengan maknanya, bukan lafalnya. Karena mereka tidak hafal lafalnya.

Cara yang kedua ini menimbulkan macam-macam lafal (matan), tetapi maksud dan isinya adalah sama. Hal ini menimbulkan kesempatan kepada sahabat-sahabat yang dekat dengan Rasulullah SAW untuk mengembangkan hadiis, walaupun mereka tersebar ke kota-kota lain.

3. Masa pembukuan hadis pada masa Umar bin Abdul Aziz

Ide pembukuan hadis pertama-tama dicetuskan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz pada awal abad ke-2 hijriyah. Sebagai khalifah pada masa itu beliau memandang perlu untuk membukukan hadis. Karena ia menyadari bahwa para perawi hadis makin lama semakin banyak yang meninggal. Apabila hadis-hadis tersebut tidak dibukukan, maka dikhawatirkan akan lenyap dari permukaan bumi. Di samping itu timbulnya berbagai golongan yang bertikai dalam persoalan kekhalifahan menyebabkan adanya kelompok yang membuat hadis palsu untuk memperkuat pendapatnya. Sebagai penulis hadis yang pertama dan terkenal pada saat itu ialah Abu Bakar Muhammad Ibnu Muslimin Ibnu Syihab Az Zuhry.

Pentingnya pembukuan hadis tersebut mengundang para ulama untuk ikut serta berperan dalam meneliti dan menyelesaikan dengan cermat kebenaran hadis-hadis. Dan penulisan hadis pada abad 11 H ini belum ada pemisahan antara hadis nabi dengan ucapan sahabat maupun fatwa ulama. Kitab yang terkenal pada masa itu ialah Al Muwatta karya imam Malik.

Pada abad 11 H, penulisan dilakukan dengan mulai memisahkan antara hadis, ucapan maupun fatwa bahkan ada pula yang memisahkan antara hadis sahih dan bukan sahih. Pada abad IV H, yang merupakan akhir penulisan hadis, kebanyakan buku hadis itu hanya merupakan penjelasan ringkas dan pengelompokan hadis-hadis sebelumnya


sumber : klik disini
08.47 | 0 komentar

Curiosity Ikut dalam Parade Bersama Obama

Written By mhharismansur on Jumat, 25 Januari 2013 | 04.50


Curiosity yang ikut dalam parade bukanlah yang asli. Melainkan model yang mirip dengan Curiosity asli yang saat ini masih berada di Mars.

mars science laboratory,msl,nasa,curiosity,marsCuriosity replika ini akan ikut dalam parade inagurasi, perayaan pasca seorang Presiden AS diambil sumpahnya sebagai kepala negara, Senin (21/1) waktu setempat. (Dok.NASA)
Robot teranyar penjelajah planet Mars, Curiosity, akan mendapat kehormatan berparade bersama Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, Senin (21/1) waktu setempat. Parade ini merupakan inagurasi yang dilakukan setiap empat tahun sekali setelah seorang presiden AS mengucapkan sumpah kenegaraannya.
Tentu saja Curiosity yang ikut dalam parade bukanlah yang asli. Melainkan model yang mirip dengan Curiosity yang saat ini masih berada di Mars.
Kembaran Curiosity ini akan ditemani oleh pada insinyur dan peneliti dari Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) dan dari Jet Propulsion Laboratory. Mereka mewakili Curiosity yang asli dan Mars Science Laboratory --pesawat luar angkasa yang membawa robot ini mendarat di lokasi aman di planet merah, Agustus 2012 silam.
Selain Curiosity dan krunya, parade ini juga akan diikuti para astronaut NASA. Berjajar dengan model contoh dari "Orion," kapsul multiguna yang diwacanakan membawa manusia ke antariksa lebih jauh.
Parade ini berlangsung sehari sesudah Obama diambil sumpahnya untuk masa jabatan kedua pada Minggu (20/1) secara tertutup di Gedung Putih. Meski ditunda sehari, parade ini diperkirakan akan dijejali lebih dari 700 ribu orang dan mengambil rute dari bagian depan Gedung Capitol hingga ke National Mall, Washington D.C. Jumlah penonton ini sendiri menurun drastis dibanding pada tahun 2009 lalu di mana 1,8 juta orang menyaksikan Obama diambil sumpah untuk pertama kalinya.
Curiosity merupakan robot tercanggih ciptaan manusia untuk menyelidiki adanya bentuk kehidupan di Mars. Hingga saat ini, Curiosity berhasil mengumpulkan beberapa bukti kuat pernah adanya keberadaan air di planet tersebut.
Robot seberat 900 kilogram ini diluncurkan dari Bumi pada November 2011 silam. Misi yang awalnya hanya direncanakan selama dua tahun ini, kemungkinan besar diperpanjang hingga waktu yang belum ditentukan.
(Zika Zakiya. Sumber: NASA. The Chicago Tribune)+NG Indonesia
04.50 | 0 komentar

Lima Badai Paling Mematikan di AS

Written By mhharismansur on Jumat, 18 Januari 2013 | 06.44


Kedahsyatan badai Sandy yang menerjang Pantai timur AS, Senin (29/10), belum seberapa jika dibandingkan dengan lima badai ini.

badai,hujan,angin ributIlustrasi awan badai dilihat dari luar angkasa (Thinkstockphoto)
Badai Sandy baru saja menerjang Pantai Timur di Amerika Serikat, Senin (29/10). Kedahsyatan badai ini membuat dua kota besar, New Jersey dan New York, lumpuh total.
Wali Kota New York Michael Bloomberg menyatakan keadaan darurat dan menutup seluruh layanan transportasi massal, sekolah, bursa saham, dan perkantoran. Kondisi makin memburuk setelah air meluap dan membanjiri jalur kereta bawah tanah, jalan, terowongan, dan jalur perkotaan.
Wali Kota Bloomberg menyatakan pada Selasa (30/10), listrik cadangan untuk Rumah Sakit New York University telah mati. Sebelumnya, otoritas New York sudah memerintahkan evakuasi untuk 375 ribu orang dan membatalkan 7.400 penerbangan.
Namun, kekuatan Sandy belum membuatnya berhak masuk dalam daftar lima badai paling mematikan di AS. Dilansir dari data National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), posisi pertama dalam daftar ini adalah badai Great Galveston pada tahun 1900. Badai ini menyebabkan kematian bagi 8.000 hingga 12.000 manusia.
Badai ini mencapai pesisir Texas, selatan Galveston, dan masuk dalam kategori empat. Kategori ini artinya kecepatan angin badai bersangkutan mencapai 131-155 mil per jam.
Badai paling mematikan kedua dalam sejarah AS adalah badai Okeechobee, Florida, yang juga masuk kategori empat pada tahun 1928 dengan jumlah korban 2.500 - 3.000 orang. Mayoritas kematian para korban disebabkan karena meluapnya air Danau Okeechobee.
badai,banjir,new orleans,bencana alamDampak Badai Katrina di pusat kota New Orleans, Amerika Serikat. (Thinkstockphoto).
Badai berikutnya adalah Katrina yang masuk sebagai badai mematikan ketiga namun jadi yang termahal dalam sejarah AS. Katrina pada tahun 2005 merupakan badai kategori tiga yang mendarat di tiga lokasi berbeda: Miami-Dade/Broward, Louisiana, dan Mississippi.
Badai ini mampu memakan korban hingga 1.500 orang dan menyebabkan kerugian US$84,6 miliar. Kerusakan terparah ketika Katrina menyebabkan hancurnya tanggul hingga menyebabkan banjir di kota New Orleans.
Badai keempat dan kelima dalam daftar badai paling mematikan dalam sejarah AS adalah badai Louisiana dan South Carolina/Georgia. Louisiana pada tahun 1893 menyebabkan korban jiwa antara 1.100 hingga 1.400 orang. Sedangkan South Carolina/Georgia juga terjadi pada tahun 1893 memakan korban hingga 2.000 orang.
(Zika Zakiya. Sumber: NOAA, geology.com, Kompas)+NG Indonesia
06.44 | 0 komentar

Hikayat Negeri Tembakau part 8


Tembakau berjalin kelindan dengan kebudayaan masyarakat Nusantara.

OLEH PUTHUT E.A.
FOTO OLEH HAFIDZ NOVALSYAH
Tidak ada yang bisa memastikan sejak kapan tembakau ada di Indonesia. Berbagai literatur sejarah menunjuk pada titimangsa yang berbeda. Ada yang menyatakan bahwa tem­bakau masuk di wilayah Indonesia pada abad ke-16 dan ada pula yang berpendapat pada abad ke-17. Bahkan, banyak pula sumber sejarah yang menyangkal kedua pendapat tersebut dan menyatakan bahwa tradisi merokok sudah ada di Indonesia bahkan sebelum abad ke-16.

Walaupun berbeda, merujuk kepada tahun-tahun tersebut, tidak mustahil jika tembakau sudah menjadi bagian penting dari masyarakat Indonesia sejak dulu, sejak ratusan tahun lalu. Hal ini masih bisa kita lacak sampai sekarang, baik lewat kajian sejarah yang ditulis belakangan maupun dari berbagai serat yang diterakan para pujangga dari keraton.

Semakin jelas jika kemudian kita melihat bahwa tembakau atau rokok menjadi salah satu elemen sesajen yang ada di berbagai masyarakat tradisional. Maka wajar jika saat saya berkeliling ke be­berapa daerah penghasil tembakau dan bertanya kapan kira-kira warga setempat menanam tem­bakau, jawaban mereka relatif sama: sejak dulu kala.

Dan pasti mereka menolak kalau dikatakan tembakau itu bukan berasal dari wilayah mereka. Sebab, bagi mereka, tembakau ada, menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari. Baik sebagai barang dagangan, sesuatu yang di­konsumsi dan menjadi bagian dari ritual-ritual penting dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, tampaknya para sejarawan bersepakat mengenai kapan tembakau, sebagai industri, mulai berdenyut di Indonesia, yakni pada paruh abad ke-19.

Soal sejarah masuknya tembakau memang bisa diperdebatkan, namun satu hal yang tidak bisa dimungkiri, industri ini pada tahun 2011 telah memberi kontribusi cukai ke negara sebesar Rp73,252 triliun. Itu baru uang yang didapat negara dari cukai, belum uang yang beredar di masyarakat yang terkait dengan mata rantai tata niaga industri tembakau. Pendapatan negara dari hasil tambang di tahun yang sama hanya sebesar Rp13,77 triliun.

Lewat status penguasaan area perkebunan tem­bakau, terlihat bahwa tanaman ini mem­punyai ikatan emosi dan ekonomi yang kuat dengan masyarakat. Rerata dari 2005 sampai 2009, sebesar 97,43 persen dikuasai perkebunan rakyat. Sisanya, yang hanya 2,57 persen, dikuasai oleh perkebunan negara dan swasta.

Indonesia juga dikenal sebagai penghasil rokok kretek, rokok yang dihasilkan dari campu­ran antara tembakau dan cengkih serta rempah-rempah lain. Aromanya sangat khas. Kretek sudah sejak lama diisap masyarakat Indonesia, tetapi sosok yang dianggap menemukan formula kretek adalah seorang laki-laki dari Kudus bernama Haji Djamhari sekitar tahun 1870-an.

Konon ia menderita sakit bengek. Awalnya ia berusaha mengobati sakitnya dengan meng­usapkan minyak cengkih di dadanya. Tetapi kemudian ia mencoba mencampurkan cengkih ke dalam tembakau yang diisapnya. Sakit yang dideritanya sembuh. Djamhari kemudian memproduksi rokok yang kelak disebut rokok kretek itu untuk dijual.

Awalnya, rokok kretek ditemukan dan diper­jual­belikan di apotek-apotek dan kedai-kedai jamu. Kini, rokok kretek men­dominasi pasar rokok di Indonesia dengan pangsa pasar sebesar 95 persen, sementara 5 persen sisanya adalah rokok putih.
06.36 | 0 komentar

Hikayat Negeri Tembakau part 7


Tembakau berjalin kelindan dengan kebudayaan masyarakat Nusantara.

OLEH PUTHUT E.A.
FOTO OLEH HAFIDZ NOVALSYAH
Surasikin sudah berusia 79 tahun. Namun, wajah perempuan itu masih tampak segar. tangan serta jari-jemarinya masih luwes jika memperagakan tarian Lahbako. Ia memang berasal dari keluarga seniman. Bapaknya me­miliki separangkat gamelan dan sekotak wayang. Saudara-saudaranya yang lain juga dikenal sebagai orang-orang yang terampil menggambar. Sejak kecil, Surasikin sudah suka menari.

Pemerintah Daerah Jember pun mengutusnya pergi ke Yogyakarta dan berlatih menari ke almarhum Bagong Kusudihardjo, seorang seniman serba bisa, dan merupakan salah satu maestro tari di Indonesia. Surasikin tidak ingat persis kapan dikirim ke Yogyakarta, tapi ia masih bisa mengingat saat itu ia belajar menari selama 10 hari di rumah Bagong.

Setelah itu, ia kembali dikirim sebanyak dua kali untuk belajar ke Yogyakarta lagi. Surasikin adalah satu dari sedikit seniman di Jember, yang menjadi saksi atas proses pembuatan tari Lahbako, walaupun ia tidak bisa mengingat secara tepat jika bicara soal tahun. Tetapi, saya beruntung karena saat wawancara, Surasikin ditemani oleh Ninin (38), anak perempuannya yang membantu mengingatkan soal tahun-tahun yang penting.

Kira-kira pada 1986, para seniman Jember berinisiatif untuk menciptakan tarian daerah yang bisa dianggap khas dari kota itu. Tahun yang dirujuk cukup masuk akal, mengingat di sekitar tahun tersebut memang baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah mendorong terciptanya tarian-tarian khas setiap daerah.

Maka, para seniman itu mengundang Bagong untuk datang ke Jember, terutama untuk membantu memotivasi dan memberi masukan atas tarian yang hendak mereka ciptakan. Setelah melalui sekian kali diskusi, tercetuslah ide untuk membuat tari Lahbako.

Nama Lahbako sendiri merupakan akronim dari “mengolah tembakau”. Gerakan-gerakan tarian itu diambil mulai dari proses me­nanam, memetik, menjemur, sampai mengolah tembakau di gudang. Untuk men­ciptakan gerak tarian Lahbako, Bagong meminta agar para inisiator tarian tersebut melihat lang­sung ke perkebunan tembakau dan ke gudang tembakau.

Surasikin dengan suaranya yang parau dan lirih menirukan kalimat Bagong, “Kalian ini kalau mau menciptakan tarian jangan asal gerak, tapi harus tahu apa maksudnya. Supaya tahu, ya kalian harus datang ke perkebunan dan gudang.”

Akhirnya, jadilah tarian Lahbako yang sampai sekarang sangat terkenal di Jember. Tarian ini diiringi alat musik dari bambu, kendang, dan seruling. Sampai sekarang, Lahbako masih sering ditarikan di berbagai acara di wilayah Jember, dan bahkan dibawa ke luar daerah jika ada undangan menari.

Ninin, yang saat tarian itu dibuat masih duduk di bangku SMP, termasuk generasi pertama yang mempraktikkan tari Lahbako. Ia sering bepergian ke luar kota untuk memperagakan tarian Lahbako. “Dulu bupati Jember sangat mendukung kesenian. Saya sudah pergi ke mana-mana karena Lahbako,” ungkap Ninin yang mewarisi darah seni ibunya.

Sekarang, selain mengajar tari di beberapa sekolah, perempuan berambut sepinggang tersebut juga memiliki sebuah sanggar tari. Tarian Lahbako bukan satu-satunya produk budaya lokal yang mengadopsi “budaya tem­bakau” yang telah lebih dulu ada.

“Kira-kira awal 1990-an sudah ada batik motif tembakau,” ujar Mawardi, pengusaha batik di Desa Sumber Pakem, Kecamatan Sumber Jambe, Jember. Seingatnya, saat ia mulai membuka usaha batik, beberapa tetangganya sudah membuat batik bermotif tembakau. Harganya pun tidak begitu mahal, yang paling murah selembar dipatok harga Rp85.000 dan yang paling mahal Rp400.000.
06.35 | 0 komentar

Hikayat Negeri Tembakau part 6



Tembakau berjalin kelindan dengan kebudayaan masyarakat Nusantara.

OLEH PUTHUT E.A.
FOTO OLEH HAFIDZ NOVALSYAH
Temanggung dan tembakau adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Maklum saja, tembakau telah menyulap kehidupan warga Temanggung. Setidaknya ada 14 kecamatan dari 19 kecamatan yang ada di Temanggung yang menjadi sentra penghasil tembakau, dengan total luas lahan tembakau berkisar 15.000 hektare.

Tak heran, perputaran uang saat panen tembakau di Temanggung bisa mencapai angka lebih dari satu triliun rupiah! Angka itu baru dari satu kabupaten, dan masih di satu titik pada hulu dari industri rokok di negeri ini. “Coba Mas pikir, komoditas pertanian apa yang dalam skala masif, satu kilogram harganya bisa di atas Rp800.000 selain tembakau?” Agus sempat memberikan pertanyaan itu ke­tika me­ngantar saya memasuki mobil untuk me­ninggal­kan Negeri di Atas Awan itu.

Jujur saja agak mengherankan bagi saya, ketika hampir semua petani tembakau di Lombok Tengah dan Lombok Timur yang saya temui kenal dengan sosok bernama Iskandar. Masyarakat di kedua wilayah tersebut lebih akrab menyebut laki-laki kelahiran Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, 57 tahun lalu itu dengan panggilan: Haji Is. Orangnya ramah dan kebapakan.

Sejak kecil, ia mengaku suka dengan tanaman. Di sekeliling rumahnya ia tanami sayuran dan ketela. Maka ketika lulus SMP, Iskandar me­mutuskan masuk ke Sekolah Pertanian Me­nengah Atas (SPMA) di Malang. Di sekolahnya, ia mempelajari tanaman semusim, salah satunya tembakau. “Tidak tahu kenapa, saya jatuh cinta dengan tembakau. Mungkin karena nenek saya dulu juga jualan tembakau di pasar.”

Lulus sekolah ia diterima di sebuah pabrik rokok, dan bekerja di bidang budi daya tanaman tembakau pada 1977. Tujuh tahun ke­mudian, oleh perusahaan tempatnya bekerja, ia ditugaskan untuk membuka lahan pertanian di Lombok.

Mulailah Iskandar menjelajah Lombok, memperkenalkan pertanian tembakau lewat masjid dan kepala desa. Biasanya seusai salat Jumat ia meminta waktu ke pengurus masjid untuk bicara soal budi daya tanaman tembakau dan potensi ekonominya.

“Saya harus mengakui kehebatan senior saya yang memberi saya tugas untuk membuka lahan di sini. Bayangkan, pada 1984, ia sudah mampu melihat tren bahwa kelak para perokok akan beralih dari rokok kretek nonfilter ke rokok kretek filter bahkan ke rokok light, yang membutuhkan banyak tembakau virginia. Dan sekarang, Lombok adalah penghasil tembakau virginia terbesar di Indonesia.”

Tahun lalu, Lombok mampu menghasilkan 45.000 ton tembakau Virginia. Itu artinya, pulau ini menyumbang hampir 90 persen kebutuhan virginia nasional. Iskandar bukan hanya mengurus soal budi daya, melainkan juga terjun membenahi sistem tata niaga yang sehat antara petani dengan pabrikan yakni dengan sistem kemitraan.

“Di sini saya buat sistem, petani punya hitungan, pabrik punya hitungan. Lalu kita duduk bersama untuk menentukan musyawarah harga, sehingga semua merasa puas dan adil.” Kreativitas petani tembakau di Lombok memang teruji. Tembakau virginia di Lombok harus dioven.

Para petani mendirikan dan me­lakukan berbagai eksperimen untuk meng­hasil­kan bangunan oven yang bagus, kuat, dan efisien. Bahan bakar utama mengoven adalah minyak tanah. Tetapi, ketika Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengonversi minyak tanah men­jadi gas, petani pun me­lakukan uji coba untuk mengantisipasi ke­langkaan minyak tanah.

Awalnya, mereka me­makai kayu bakar. Tetapi, karena kayu bakar terancam habis, mereka meng­­gantikannya dengan batu bara. Namun saat batu bara yang didatangkan ke Lombok tidak berkualitas bagus, para petani ber­alih ke kulit kemiri yang didatangkan dari Flores, dan cangkang kelapa sawit yang didatangkan dari Kalimantan.

Sekarang, baik kulit kemiri maupun cangkang sawit yang dulu adalah limbah, menjadi komoditas yang menarik untuk lahan bisnis baru di Lombok.
06.34 | 0 komentar

Hikayat Negeri Tembakau part 5


Tembakau berjalin kelindan dengan kebudayaan masyarakat Nusantara.

OLEH PUTHUT E.A.
FOTO OLEH HAFIDZ NOVALSYAH
Dukuh adalah saingan Lamuk. Kedua tem­pat tersebut merupakan penghasil srintil. Se­jak kecil, Agus sudah jatuh cinta kepada tem­bakau. Bahkan, ketika masih duduk di kelas lima sekolah dasar, ia sudah rela berjalan jauh ke kota Temanggung yang kira-kira berjarak 15 kilometer dari desanya.

Tujuannya hanya untuk tahu setelah tembakau dipetik, diperam, dirajang, dijemur, dan dibungkus keranjang lalu dibawa ke gudang di kota, apa proses selanjutnya? Alhasil, keluarganya bingung, warga desanya pun bingung hingga hampir semua orang mencarinya.

Selepas SMA, Agus terjun sebagai petani tembakau. Di kampungnya, ia adalah sosok kepala desa berusia muda, namun disegani. Ia pernah memeriksakan beberapa tanah di wilayahnya ke Institut Pertanian Bogor. Bahkan, contoh tanah itu pernah dibawa ke Amerika hanya untuk tahu bagaimana caranya supaya bisa menghasilkan kualitas tembakau yang bagus.

“Petani itu punya tiga pegangan menanam tembakau yang merupakan warisan pengetahuan nenek-moyang: siti (tanah), wiji (benih), wanci (cuaca atau waktu). Untuk yang pertama dan kedua, kita sebagai petani harus bisa meng­usahakan yang maksimal,” papar Agus. “Tapi soal wanci, kita bergantung kepada Tuhan.”

Agus lalu mencontohkan panen kali ini. Saat tembakau masih butuh guyuran hujan, ter­nyata hujan sudah tidak turun. Dan saat tembakau sudah tumbuh besar, angin bertiup lebat. “Akibat­nya, akar tembakau menjadi stres dan daun tembakau menjadi kempes, tidak padat berisi sehingga kualitasnya kurang. Tapi siapa yang bisa mengusir angin?”

Keesokan harinya, saya diajak Agus keliling desa untuk melihat bagaimana tembakau di­peram, dirajang, dan dijemur. Setelah itu, ia me­minta beberapa warganya untuk mengantar saya di daerah tembakau yang cukup tinggi. Ia tidak bisa ikut karena di siang hari banyak petani yang menyetor hasil panen mereka ke rumahnya.

Kami naik mobil bak terbuka, menyusuri jalan menanjak tak beraspal. Di mana mata saya memandang, yang ada hanyalah daun-daun tembakau yang berkilau diterpa panas matahari yang menyengat. “Di saat musim seperti ini, rumput pun mati. Hanya tembakau yang bisa hidup.” teriak seorang petani yang berada di balik kemudi, melawan deru mesin dan suara ban yang menggilas tanah bebatuan.

Mobil berhenti tepat di ketinggian 1.450 mdpl. Puncak Gunung Sumbing terlihat jelas. Banyak orang menyebut Dukuh dan Lamuk sebagai Negeri di Atas Awan. Karena ketika cuaca mendukung, dari kedua dusun tersebut bisa terlihat jajaran awan di bawah.
06.33 | 0 komentar

Hikayat Negeri Tembakau part 4



Tembakau berjalin kelindan dengan kebudayaan masyarakat Nusantara.

OLEH PUTHUT E.A.
FOTO OLEH HAFIDZ NOVALSYAH
Saya sempat berbincang dengan beberapa orang sepuh, yang saya taksir usia mereka di atas 70 tahun. Memang benar, seorang di antara mereka bahkan sudah berusia hampir 80 tahun. Tidak ada yang tahu persis sejak kapan Lamuk ditanami tembakau. Jawabannya selalu: “Sejak dulu.”

Hanya, seingat mereka, dulu tembakau hanya ditanam untuk dikonsumsi sendiri. Namun, mereka sepakat bahwa penanaman besar-besaran tembakau di Lamuk terjadi pada 1969. Hal tersebut cukup masuk akal karena mendekati tahun tersebut industri rokok terutama rokok kretek mulai mengalami kemajuan yang pesat.

Lamuk dulu dikenal sebagai daerah minus, dengan tanah yang cengkar dan lanskap yang curam. Kini, Lamuk mendadak masyhur karena menghasilkan tembakau kualitas nomor satu, yang sering disebut sebagai tembakau srintil.

Tembakau srintil menjadi masyhur karena saat panen tidak semua petani “dianugerahi” tembakau ini, meski dari kebun yang sama. Dengan harga srintil yang berkisar antara Rp400.000 sampai 800.000, bahkan beberapa kali tembus di atas Rp1.000.000 per kilogram, pasti banyak orang yang mengincar lahan di daerah tersebut. Kepala desa yang saya tanya hal tersebut tergelak, “Mas, kalau ada orang mau membeli tanah di Lamuk, orang Lamuk akan bertanya balik: Anda punya tanah berapa, biar saya beli.”

Memang benar. Dari hasil tembakau tersebut, banyak orang dari Lamuk yang membeli tanah ke desa lain bahkan kecamatan lain. Dengan suara bariton dan sorot matanya yang tajam, Subakir bahkan mengatakan, “Beberapa tahun lalu tersiar berita menggegerkan karena ada petani-petani yang sempat mencari informasi bagaimana cara membeli helikopter. Petani-petani itu berasal dari Lamuk.”

Rumah Agus Parmuji masih ramai, padahal sudah jam 21.00. Lebih dari sepuluh orang sibuk mem­­bongkar keranjang-keranjang berisi tem­­bakau, me­ngambil contoh tembakau, men­cium, lalu mencatat, memberi tanda pada keranjang-keranjang tersebut, dan kemudian me­nyimpannya di gudang.

Laki-laki 34 tahun itu adalah kepala desa di Wonosari, Kecamatan Bulu, Temanggung. Rumah Agus sendiri terletak di dusun Dukuh. Suatu malam pada Agustus lalu saya datang ke rumahnya, saat sebagian besar warga Te­mang­gung memanen tembakau. “Ini masih petikan kedua, Mas. Srintil akan keluar setelah tanggal 24 Agustus,” ucap Agus sambil memperlihatkan be­berapa contoh tembakau kepada saya.
06.32 | 0 komentar

Hikayat Negeri Tembakau part 3


Tembakau berjalin kelindan dengan kebudayaan masyarakat Nusantara.

OLEH PUTHUT E.A.
FOTO OLEH HAFIDZ NOVALSYAH
Lamuk adalah nama sebuah dusun di wilayah Desa Legoksari, Temanggung. Saya tiba di dusun itu pukul 09.00. Pada bulan April, beberapa wilayah di Temanggung memang mulai melakukan proses penanaman tembakau.
Suasana di rumah Subakir, 45 tahun, seorang kepala desa, sudah ramai. Para penduduk ber­kumpul untuk mempersiapkan upacara tanam tembakau. Saya melihat belasan wartawan di rumah besar tersebut, me­nandakan bahwa ritual di kampung itu menarik untuk dijadikan berita.

Tidak lama kemudian, orang-orang ber­iring­an, berjalan kaki dengan membawa be­ragam sesajen menuju ke tempat upacara, di tengah area kebun tembakau yang siap ditanam. Perjalanan menanjak cukup melelahkan bagi orang-orang yang tidak terbiasa, seperti saya.

Sampai di area ritus, altimeter di tangan saya menunjukkan angka 1.500 meter di atas permukaan laut, dengan tingkat kemiringan yang curam. Bukit-bukit tampak kosong, siap ditanami. Selain membawa sesajen, para penduduk juga membawa bibit-bibit tembakau yang kira-kira setinggi sepuluh sentimeter.

Tikar-tikar digelar. Orang-orang duduk me­ngelilingi sesajen. Ada sesajen yang satu nampan khusus berisi buah-buahan, ada yang khusus tumpeng dengan ditancapi lidi-lidi yang sudah ditempeli berbagai jenis uang kertas, ada pula yang hanya berisi berbagai jenis rokok. Saya juga melihat tumpeng lengkap dengan ingkung ayam (ayam utuh). Namun, tampaknya, yang menjadi sajen inti adalah tumpeng lengkap dengan ingkung ayam cemani yang dagingnya berwarna hitam.

Sebagai kepala desa, Subakir membuka acara dalam bahasa Jawa halus. Laki-laki berkumis tebal itu mengucapkan rentetan ucapan terima kasih, mulai kepada Tuhan sampai dengan kepada Ki Ageng Makukuhan. Bagi orang di wilayah Gunung Sindoro, Sumbing, dan Prau, nama Ki Ageng Makukuhan memang selalu menjadi sebutan wajib dalam semua ritual yang berhubungan dengan tembakau. Ia dipercaya sebagai orang pertama yang membawa bibit tembakau di wilayah ini.

Menurut cerita lisan yang beredar di masya­rakat, Ki Ageng Makukuhan adalah murid Sunan Kudus yang berniat membuka lahan pertanian di wilayah Temanggung dan sekitarnya. Di tengah perjalanan, salah satu sahabatnya sakit. Pada saat itulah, Ki Ageng Makukuhan mencabut tanaman dan dikibaskan ke tubuh sahabatnya sambil berkata, “Iki tambaku!” (Ini obat dariku). Kata “tambaku” inilah yang dipercaya masyarakat sebagai akar dari kata tembakau atau mbako.

Usai Subakir membuka acara, ritual selanjut­nya dipandu oleh seorang pemuka agama. Upacara berlangsung dengan khidmat. Hening. Ketika upacara usai, semua orang menyantap hidangan. Kemudian dilanjutkan dengan membawa bibit-bibit tembakau ke lahan-lahan yang sudah siap ditanami.
06.31 | 0 komentar

Hikayat Negeri Tembakau part 1


Tembakau berjalin kelindan dengan kebudayaan masyarakat Nusantara.

OLEH PUTHUT E.A.
FOTO OLEH HAFIDZ NOVALSYAH
Dulu, profesinya dokter. Ia bahkan sempat mengambil spesialis bedah anatomi di Belanda. Akan tetapi, sudah sejak lama justru yang melekat kuat di dirinya adalah tembakau dan lukisan. Di usianya yang menjelang 74 tahun, ia masih bersemangat jika diajak bicara tentang kedua hal tersebut.

Dokter Oei Hong Djien bukanlah nama yang asing di dunia seni rupa Indonesia. Banyak pe­laku seni rupa mulai dari seniman, kurator, ko­lektor, dan para pencinta seni rupa Indonesia yang sepakat bahwa Hong Djien adalah kolektor terpenting nomor dua di Indonesia. Mungkin akan timbul pertanyaan, mengapa nomor dua saja dianggap penting? Sebab yang nomor satu adalah Soekarno, Presiden RI pertama yang memang gemar mengoleksi lukisan.

Tidak terlalu sulit mencari rumah Hong Djien di Magelang. Seorang perupa yang saya tanyai lewat pesan pendek cukup menjelaskan dengan kalimat ringkas: Pagarnya panjang dan penuh tanaman merambat. Dari luar pagar, rumah itu memang tidak menunjukkan apa-apa selain memang berpagar panjang, amat panjang untuk ukuran sebuah rumah.

Tetapi begitu memasuki halaman rumahnya, siapa pun yang ke sana langsung mengerti bahwa si empu rumah adalah pencinta seni. Berbagai karya instalasi dan patung dipajang di beranda rumah. “Ayo masuk!” suara Hong Djien yang khas, keras, dan spontan terdengar. Laki-laki berkaca­mata itu mendadak muncul di pintu lalu mengajak saya ke ruang tamunya yang juga penuh dengan karya seni. Salah satu lukisan yang terpajang di tembok ruangan itu saya kenali sebagai karya Nasirun.

“Saya sering mengatakan ke banyak orang, bagi saya, tembakau itu lebih dulu ada baru kemudian lukisan. Kenapa bisa begitu? Karena tanpa uang dari tembakau mustahil saya bisa membeli lukisan,” ujarnya sambil tertawa terkekeh. Hong Djien suka sekali tertawa.

Baginya, tembakau dan lukisan itu memiliki banyak persamaan. Profesinya sebagai grader tem­bakau sekaligus kolektor lukisan men­syarat­kan panca inderanya untuk bekerja dengan opti­mal. “Bau tembakau itu ada hubungannya dengan rasa tembakau. Kalau baunya enak, rasa­­nya pasti enak. Kalau baunya nyegrak (menusuk), pasti tembakau itu jika diisap terasa kasar. Kalau tem­bakau itu dipegang halus seperti sutera, pasti rasa­nya juga enak dan pulen. Begitu juga jika di­lihat kelirnya bagus, pasti ada pengaruhnya terhadap rasa,” kalimat-kalimat Hong Djien me­luncur deras, cenderung cepat.

Grader adalah profesi yang tugasnya mem­bedakan kualitas tembakau, yang berpengaruh pada proses penentuan harga tembakau. Diperlu­kan keahlian dan pengalaman panjang untuk menjadi grader yang mumpuni. Mirip dengan profesi para pencicip anggur.

Hong Djien menggeluti profesi sebagai grader karena kebetulan. Kakek buyutnya yang berasal dari Cina mendarat di Semarang pada 1800-an. Tak lama kemudian, sang kakek buyut ke Te­manggung dan memulai bisnis tembakau. Bis­nis tersebut di­lanjutkan kakeknya dan kemudian diwaris­kan ke orangtuanya.
06.29 | 0 komentar

22 November 1963, Kennedy jadi Presiden AS Ke-4 yang Dibunuh


Sebelumnya di 1865, Abraham Lincoln jadi presiden AS yang menjadi korban pertama pembunuhan.

john fitzgerald kennedy,perangko,jfkPerangko bergambarkan John Fitzgerald Kennedy, Presiden ke-35 Amerika Serikat. Pasca kematiannya, nama Kennedy disematkan ke beberapa lokasi penting atau bersejarah. Salah satunya Kennedy Space Center di Florida. (thinkstockphoto)
Pada 49 tahun lalu, John Fitzgerald Kennedy, presiden ke-35 Amerika Serikat, ditembak mati ketika melakukan lawatan ke Dallas, Texas. Kennedy dibunuh saat berkeliling kota menggunakan mobil atap terbuka.
Saat kejadian, Kennedy didampingi Ibu Negara, Jacqueline, serta Gubernur Texas John Connally dan istri. Penembakan kemudian terjadi saat mereka melintas di depan gedung Texas School Book Depository.
Si penembak, Lee Harvey Oswald, dituding melepaskan tiga tembakan dari lantai enam gedung tersebut. Menyebabkan kondisi fatal pada Presiden Kennedy dan luka pada Gubernur Connally.
john fitzgerald kennedy,texas school book depositoryGedung Texas School Book Depository yang menjadi lokasi penembak menargetkan Presiden John Fitzgerald Kennedy pada 22 November 1963. Peristiwa ini menjadi penyebab kematian sang presiden. (Thinkstockphoto).
Hanya 30 menit pasca penembakan, Kennedy dinyatakan meninggal dunia. Posisinya digantikan Wakil Presiden Lyndon Johnson yang disumpah di dalam pesawat kenegaraan, Air Force One.Momen bersejarah dalam suasana duka itu hanya disaksikan 30 orang. Termasuk Jacqueline Kennedy yang masih menggunakan baju yang terciprat darah suaminya.
Sehari kemudian, tepatnya pada 23 November, Presiden Johnson menyatakan hari berkabung nasional pada 25 November. Sedangkan Lee Harvey Oswald tewas ditembak Jack Ruby --warga yang mengaku marah dengan kelakuan Oswald.
Dalam runut sejarah AS, Kennedy menjadi presiden keempat yang tewas dibunuh. Sebelumnya di 1865, Abraham Lincoln jadi presiden AS yang menjadi korban pertama pembunuhan. Disusul kemudian dengan James Garfield pada tahun 1881. Ia ditembak petugas federal dan sempat hidup selama 80 hari sebelum akhirnya meninggal dunia. William McKinley, jadi Presiden ketiga yang dieksekusi pada tahun 1901.
(Zika Zakiya. Sumber: History Channel)+NG Indonesia
06.28 | 0 komentar

Bergesekan dengan Sejarah Yogyakarta di Hotel Bintang Lima

Written By mhharismansur on Kamis, 17 Januari 2013 | 06.14


Hotel Royal Ambarukkmo pernah digunakan raja Yogyakarta untuk menemui para penjajah. Pendidikan kepolisian Republik Indonesia pada zaman Soekarno juga berlangsung di sana.

sri sultan hamengku buwono x,yogyakartaPenandatanganan prasasti di peringatan satu tahun hotel Royal Ambarukkmo, Daerah Istimewa Yogyakarta oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. (Dwi Oblo).
Hotel Royal Ambarrukmo yang terletak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tak sekadar hotel berbintang lima. Hotel ini merupakan bagian dari sejarah Indonesia dan sudah menjadi ikon Yogyakarta sejak tahun 1960-an.
Hotel ini berawal dari sebuah pesanggrahan (pendapa agung) Arjo Purno yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VI. Pesanggrahan yang dibangun pada tahun 1857-1859 silam merupakan tempat pertemuan Sultan dengan Gubernur Jenderal Belanda serta resort untuk keluarga keraton.
Pada tahun 1895-1897, pesanggrahan ini direlokasi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan digunakan sebagai tempat pertemuan sultan dan Raja Surakarta. Hingga Sri Sultan HB VII lengser dari jabatannya, pesanggrahan itu untuk tempat tinggal keluarganya. Tak mengherankan, jika kemudian pesanggrahan itu sangat dibalut oleh nuansa Jawa dan keraton.
Atas prakarsa Soekarno dan Sultan Hamengku Buwono IX, tahun 1960, pendapa agung ini direvitalisasi menjadi hotel dan menjadi situs warisan sejarah. Kala itu bernama Ambarukkmo Palace Hotel. Dengan arsitektur Soekarno sendiri, hotel ini dibangun dengan kelas internasional dan digunakan untuk berbagai aktivitas negara.
Maklum saja, saat itu Yogyakarta menjadi ibu kota negara dan tampuk pemerintah erkonsentrasi di sana. Ambarukkmo pun akhirnya digunakan sebagai tempat khusus pendidikan kepolisian Republik Indonesia serta kantor administrasi Bupati Sleman hingga tahun 1964.
Setelah berhenti operasional sejak tahun 1994, hotel ini direvitalisasi kembali pada tahun 2010. Revitalisasi ini terlihat istimewa karena memadukan unsur internasional dan lokal, di mana budaya Jawa sangat kental di dalamnya. Hingga pada 2011 lalu, hotel ini diresmikan dan berubah nama menjadi Hotel Royal Ambarukkmo.
Begitulah uraian sejarah Hotel Ambarukkmo yang dibacakan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hemangku Buwono X di peringatan HUT Royal Ambarukkmo pertama di Yogyakarta, Minggu (25/11). Dalam sambutannya, Sultan mengatakan bahwa revitalisasi hotel Ambarukkmo merupakan salah satu wahana transformasi dan revitalisasi budaya.
Revitalisasi ini merupakan salah bentuk pelestarian cagar budaya. “Saat ini kebutuhan untuk meregenerasi kota sangat penting. Acuannya adalah menjaga lingkungan dan melestarikan cagar budaya di dalamnya,” kata Sultan.
Sultan berharap, Hotel Ambarukkmo bisa mengembalikan ikon Jogja di kancah internasional. Pasalnya, hotel ini tidak hanya melakukan pelayanan hotel, melainkan memperkenalkan budaya Jawa sekaligus Yogyakarta.
General Manager Hotel Ambarukkmo L.Sudarsana menambahkan, dengan keberhasilan yang telah dicapai hendaknya seluruh karyawan meningkatkan kualitas dan pelayanan yang baik. Dengan demikian simbol Yogyakarta sebagai kota budaya serta keramahtamahannya tetap terjaga.
Dalam peringatan satu tahun hotel Royal Ambarukkmo, Sultan menandatangani buku sejarah Royal Ambarukkmo serta prasasti. Kedua benda ini ditempatkan dalam jodangatau tandu kecil dari kayu jati yang diusung oleh abdi dalem.
Didampingi oleh L.Sudarsana sebagai General Manager Royal Amabrukkmo Yogyakarta, Agung Adiprasetyo sebagai CEO Kompas Gramedia, serta Tjia Eddy Susanto sebagai wakil PT Putera Mataram Indah Wisata, Sultan juga memotong tumpeng yang secara simbolis sebagai ungkapan syukur.
Acara ini juga diramaikan dengan berbagai kegiatan budaya di antaranya pertunjukan wayang kulit “Jabang Tetuko” yang menceritakan lahirnya Gatotkaca, royal catwalk, musik jazz, serta pertunjukan seni dari berbagai komunitas budaya di Yogyakarta.
Royal Ambarukkmo yang berada di bawah managemen Santika Indonesia berkomitmen untuk menghadirkan suasana Jawa khas. Di antaranya  dengan menghadirkan balutan arsitektur hingga petualangan kuliner dengan menu tradisional Jawa. Setelah direnovasi, Royal Ambarrukmo menyediakan 247 kamar, merapi viewbusiness center, dan berbagai fasiltas lainnya.
(Olivia Lewi Pramesti/Zika Zakiya)+NG Indonesia
06.14 | 0 komentar

8 Januari 1855, Wafatnya Penggelora Perang Jawa


Pemberontakannya selama lima tahun di Jawa melahirkan tatanan baru. Apakah Sang Pangeran Jawa itu seorang pemberontak atau pahlawan?

dipanegara,makassar,manado,yogyakarta,perang jawa,batavia,ungaran,rotterdam,magelangPementasan Wayang Dipanagara di Galeri Nasional, Juni 2012. Salah satu dalang terbesar dari Yogyakarta, Ki Ledjar Soebroto dan cucunya Ananto Wicaksono menggunakan kekuatan wayang agar anak-anak tertarik mendalami sejarah dan budaya Indonesia (Mahandis Y. Thamrin/NGI).
Ruangan penjara berdinding lengkung dan lembab di Bastion Bacan, sudut barat daya Kastil Rotterdam di Makassar, telah bersaksi atas perjalanan seorang pangeran Jawa. Penjara itu berpintu lengkung dua, satu pintu setinggi orang dewasa, sedangkan lainnya berukuran separuhnya. Sebuah dipan dari kayu jati berkaki bulat dipercaya warga Makassar sebagai pembaringan terakhirnya. Selama 21 tahun, sang pangeran mendekam di ruangan itu.
Nama kecilnya Bendoro Raden Mas Mustahar. Dia lahir tatkala fajar menjelang di lingkungan Kraton Yogyakarta pada Jumat Wage, 11 November 1785. Lahir dari rahim seorang Ratu Kedaton keturunan bangsawan Madura. Ayahnya merupakan anak sulung Sultan Hamengkubuwana II. Kelak ayahnya melanjutkan takhta sebagai sultan berikutnya di Yogyakarta.
Dalam penanggalan Jawa, kelahiran seseorang yang bertepatan pada bulan Sura itu dianggap mempunyai makna keramat. Pun, dalam primbon Jawa, hari itu merupakan penanda bahwa kelak sang bayi mempunyai kata-kata yang berpengaruh, berwatak pandita, tetapi menghadapi aneka halangan hidup lantaran sikapnya yang suka berterus terang.
Tampaknya, kelahiran Mustahar yang kelak ketika dewasa bernama Dipanagara itu telah diramalkan masyarakat sebagai seorang pendobrak akhir tatanan lama di Jawa. Kenyataan itu dipaparkan dalam buku biografi tentang Dipanagara yang ditulis selama 30 tahun oleh Peter Carey, sejarawan dari Oxford University, berjudul Kuasa Ramalan.
dipanegara,makassar,manado,yogyakarta,perang jawa,batavia,ungaran,rotterdam,magelangSebuah kamar penjara di Kastil Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan. Dipanagara pernah menjadi tahanan pemerintah kolonial Belanda di sini selama 21 tahun. Dia wafat di kamar ini pula dan dimakamkan di sudut Kota Makassar pada 158 tahun silam (Mahandis Y. Thamrin/NGI)
Keadaan akhir tatanan lama yang dimaksud adalah munculnya imperealisme baru yang memengaruhi kedaulatan kraton yang bermula sejak Daendels bertugas pada awal abad ke-19 di Jawa.  Kraton tak lagi dipandang sebagai institusi berdaulat lantaran banyak nilai-nilai yang meluntur.
Betapa penguasa Eropa turut campur tangan dalam kehidupan istana dan pemilihan raja, penyalahgunaan kekuasaan, aneka pajak yang mencekik rakyat, hingga perselingkuhan putri-putri keraton dengan pejabat-pejabat Eropa.

Perang Jawa yang mulai bergelora pada 19 Juli1825 dicetuskan oleh Dipanagara atas memburuknya tatanan ekonomi dan sosial masyarakat Jawa. Dia memberontak untuk merebut kekuasaan politik Sultan Yogyakarta dengan tujuan memulihkan kebesaran Jawa dan menegakkan Islam sebagai tatanan moral.

Perang ini berkonsep perang sabil atau perang suci melawan semua orang kafir dan orang asing di Tanah Jawa. Dalam pemberontakan ini, Dipanagara telah dipandang sebagai penyatu kelas bangsawan dan rakyat jelata. Tentu, tidak semua bangsawan mendukungnya lantaran pemberontakan ini merupakan kelanjutan perang antar kelompok feodal pada masyarakat Jawa abad ke-19.
Menurut Saleh As’ad Djamhari, seorang pengamat sejarah militer, untuk pertama kalinya militer Belanda menghadapi sistem tempur militer Jawa yang terorganisasi rapi. Dipanagara mengadopsi struktur militer Kerajaan Turki Osmani yang menjadi ideologi berbagai kerajaan Islam di Indonesia.
Perang Jawa merupakan awal diterapkannya strategi militer baru yang unik dan bekaitan dengan aspek sosial, politik, sosial, dan kultural. Sebuah seni perang yang belum pernah diterapkan bagi kedua pihak dalam perang kolonial manapun.
“Belanda kewalahan secara militer,” ungkap Djamhari. “Sudah lelah.” Dalam sebuah studinya, Djamhari telah menghitung setidaknya terdapat 258 benteng yang dibangun Belanda dalam waktu dua tahun untuk memadamkan kobaran Perang Jawa itu.
Pertahanan itu dikenal dengan istilah stelsel benteng (1827-1830) yang merupakan segenap strategi dan aktivitas militer Belanda untuk membantu Sultan menumpas para pemberontak, sekaligus memusnahkan penghalang ekspansi kolonialisme.
Tentang sebuah peristiwa di Karesidenan Magelang pada 8 Maret 1830 yang mengakhiri Perang Jawa, Djamhari berkata, “Dipanagara tidak tertangkap, tetapi terperangkap. Itu istilah sebenarnya.”
Dia menambahkan bahwa Dipanagara mengunjungi Hendrik Merkus De Kock untuk beraudiensi pada hari raya Idul Fitri. Tidak ada perundingan. Namun, pihak Belanda sudah menyiapkan untuk menangkapnya. “Kesalahan Dipanagara adalah mengandalkan kebaikan hati orang Jawa.”
Perang itu memang telah menimbulkan penderitaan dan keletihan luar biasa di kedua pihak. Sebanyak dua juta penduduk Jawa menderita akibat perang, seperempat seluruh luas pertanian rusak berat, dan sekitar 200 ribu orang Jawa menjadi korban. Sementara itu di pihak Belanda menelan kegetiran: sejumlah 7.000 orang Indonesia yang merupakan serdadu pembantu tewas bersama 8.000 serdadu Belanda.
Belakangan perang itu juga telah membangkrutkan kas pemerintah kolonial sehingga untuk memulihkannya perlu penerapan Cultuurstelsel (sejarawan Indonesia menyebutnya dengan tanam paksa) di Jawa pada 1830-1870. Namun, di daerah kerajaan Tanah Jawa tidak terjamah tanam paksa. “Belanda tidak melakukan tanam paksa di daerahVorstenlanden,” ujar Djamhari. “Belanda sudah kapok.”
Demikianlah akhir Perang Jawa. Setelah peristiwa penjebakan di Karesidenan Magelang, Dipanagara dan pengikutnya dibawa ke Fort Ontmoeting di Ungaran. Kemudian, mereka berlayar lewat pelabuhan Semarang menuju Sunda Kelapa, Batavia. Setelah menjadi tahanan Balai Kota Batavia, lalu menuju pengasingannya di Fort Amsterdam di Manado. Pada 1834 dia dipindahkan ke Kastil Rotterdam di Makassar.
Perang itu juga telah melahirkan tatanan baru. Peter Carey dalam bukunya menjelaskan, bahwa Perang Jawa mengakhiri sistem ketika hubungan Batavia dan kerajaan-kerajaan di Jawa masih bersifat diplomatik, menuju ke tatanan baru masa kolonial kala kerajaan-kerajaan itu tunduk pada kekuasaan Eropa.
Lalu, apakah Dipanagara ini seorang pemberontak atau pahlawan? “Dia adalah pahlawan” ungkap Djamhari, “karena pada dasarnya melawan Belanda.” Sang Pangeran telah wafat 158 tahun lalu dalam derita kamar penjara sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas Perang Jawa.
Namun, sebuah surat yang ditemukan dalam arsip H.M. de Kock telah mengutip pernyataan panglima Perang Jawa itu. Kutipan dalam bahasa Jawa yang patut kita renungkan itu bermakna: “Jangan menjelekkan orang baik, dan jangan membaikkan orang jahat, dan jangan aniaya terhadap orang banyak.”
(Mahandis Y. Thamrin/NGI)
05.41 | 0 komentar
Bse Information, Instructional Media And Educational Articles

Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Submit ExpressFree Webmaster Tools

go green indonesia!