Hi ALL ,  welcome  |  MY SITE  |  PLEASE READ  |  THANK'S YOU ALL
Selamat datang di online learning, Ayo, terus belajar dan ilmu adalah teman yang paling baik. (kritik dan saran hubungi mhharismansur@gmail.com atau Hp. 081329653007)
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

SAP diare

Written By mhharismansur on Kamis, 07 Maret 2013 | 08.52

08.52 | 0 komentar

Tanda Tanda Orang Depresi

Written By mhharismansur on Sabtu, 02 Februari 2013 | 02.28


Depresi yaitu sinyal penyakit kejiwaan yang harus segera diatasi. dampak depresi merembet kemana-mana, dimulai dari kesehatan mental sampai fisik. banyak masalah, kegilaan nampak dari depresi akut yang berkelanjutan. untuk fisik, depresi jadi karena meningkatnya risiko serangan jantung hingga stroke.


Tanda Tanda Orang Depresi

Oleh dikarenakan itu, ketahui sinyal depresi sejak awal. dengan demikian bila anda rasakan tanda-tanda ini menyerang, anda dapat mengambil jalan keluar untuk segera relaksasi. tekanan hidup ini diawali dengan step stres mudah yang berlanjut jadi berat. diambil dari quickeasyfit, di bawah ini sinyal tanda seseorang depresi :

1. Berkurangnya minat terhadap berbagai kegiatan yang biasanya sangat disukai. Bisa jadi, penurunan minat ini menunjukkan seseorang sedang depresi. Semangatnya hilang untuk melakukan berbagai aktivitas. Dia lebih banyak menyendiri dan menjadi lebih suka menutup diri dari lingkungan sosial.

2. Nafsu makan berubah drastis. Biasanya orang yang tertekan menunjukkan gejala tidak mau makan atau berlebihan dalam makan. Orang depresi kadang meluapkan kekesalannya dengan makan banyak. Berkebalikan dari itu, ada juga yang mendadak hilang nafsu untuk makan. Depresi bisa dilihat dari perubahan perilaku pola makan yang ekstrim.

3. Mengalami gangguan tidur di malam hari. Orang depresi sering mengalami masalah tidur. Misalnya, mereka menderita insomnia karena pikiran kacau, sering terbangun tengah malam, hingga mimpi buruk. Kurang tidur malam juga bisa menjadi alasan munculnya depresi.

4. Sakit secara fisik. Orang depresi  biasanya mengalami masalah dalam sistem kekebalan tubuhnya. Sehingga, orang tersebut mudah terserang sakit. Beban pikiran yang berat juga kerap menunjukkan sinyal khusus seperti sakit kepala, sakit perut, hingga nafas agak sesak. Mungkin pengobatan tradisional bisa diterapkan sebagai pertolongan pertama saat sakit ini datang.

5. Menganggap diri mereka sangat buruk. Inilah masalah serius yang dialami orang depresi. Mereka menganggap dirinya orang yang cukup buruk. Akhirnya, mereka tidak segan untuk melukai diri sendiri. Jika tanda ini sudah muncul, bantuan psikiater mungkin dibutuhkan.

sumber : Klik disini
02.28 | 0 komentar

Mentimun Bisa Mencegah Hipertensi Dan Asam Urat


Sesungguhnya, banyak obat alami yang tersebar di lebih kurang anda. tinggal anda dapat tersugesti atau tidak untuk menggunakan obat alami sebagai penyembuh sakit anda. terhitung juga untuk anda pasien tekanan darah tinggi, ada di antara buah yang dapat menormalkan keluhan anda. dialah mentimun. buah yang sering lantas lalapan serta jadikan bahan rujak ini, mempunyai kandungan yang menormalkan tekanan darah. 


Mentimun Bisa Mencegah Hipertensi Dan Asam Urat

Yaitu kalium, magnesium, fosfor, betakaroten, serta asam folat. seluruh zat inilah yang bikin tekanan darah anda jadi normal. kandungan airnya yang banyak mempunyai dampak diuretik, yakni melancarkan air seni. mentimun juga dapat kurangi keluhan asam urat. nyeri di sendi dapat menyusut. 

Anda dapat mengolahnya sebagai jus untuk rekan minum yang asik. dapat juga memakannya dengan langkah mentah. tentunya, bila dimakan utuh maka anda dapat memperoleh serat sehat dari mentimun. kulit luarnya cukup baik untuk pencernaan. buah yang dijus dapat mengakibatkan kerusakan serat sehat, walau lalu anda tetap dapat memperoleh zat gizi yang ada didalamnya. 

Tentunya, anda harus konsumsi buah ini dengan teratur untuk memperoleh hasil optimal. penyembuhan dengan herbal tidak secapat menggunakan obat dari industri farmasi. tetapi, anda dapat memperoleh penyembuhan yang cukup minim dampak samping.

sumber : Klik disini
02.25 | 0 komentar

Pemetaan Genetik Mikroba untuk Kesehatan Manusia

Written By mhharismansur on Minggu, 20 Januari 2013 | 07.31


Peta ini dapat digunakan sebagai referensi utama dalam mengeksplorasi tentang interaksi antara mikroba dan sistem kekebalan manusia.

mikroba,bakteriMikroba (Thinkstockphoto)
Penelitian terbaru oleh ratusan ilmuwan dari berbagai universitas Amerika Serikat berhasil mengembangkan peta genetik, di mana hampir semua mikroba yang mendiami tubuh manusia sehat. Peta ini akan dapat digunakan sebagai referensi utama bagi para ilmuwan di seluruh dunia dalam mengeksplorasi tentang interaksi antara mikroba dan sistem kekebalan tubuh manusia.
Temuan penelitian sama dengan pencapaian ilmuwan di bidang pemetaan genom manusia lebih dari satu dekade lalu. Namun, jumlah mikrobakteri yang ditemukan kini meningkat sampai dengan lebih dari 10.000 spesies. Jumlah ini diklaim merupakan 99 persen dari total seluruh mikrobakteri yang ada pada tubuh manusia.
Dengan presentase sebesar 99 persen, peta ini dapat digunakan sebagai referensi utama bagi para ilmuwan di seluruh dunia dalam mengeksplorasi tentang interaksi antara mikroba dan sistem kekebalan manusia.
Penelitian ini merupakan puncak dari proyek Human Microbiome Project yang telah berlangsung selama lima tahun dan biaya hingga USD173 juta. Biaya sebesar ini digunakan untuk sensus terhadap lokasi dan konsentrasi mikroba (bakteri, virus, dan jamur) di dalam tubuh manusia sehat.
"Mengetahui mikroba apa saja yang tinggal atau berada di lingkungan normal tubuh orang sehat akan membawa kita bisa menganalisis lebih dalam saat timbul penyakit yang terkait mikrobakteri. Misalnya penyakit maag dan obesitas," ungkap George Weinstock, ilmuwan asal Washington University, di St. Louis.
Referensi diperoleh setelah mereka menguji 5.000 sampel dari 242 relawan di Amerika Serikat. Para peneliti mengambil sampel dari 15 titik di tubuh pria, serta 18 titik di tubuh wanita, termasuk dari air liur, darah, kulit hingga feses.
Direktur National Human Genome Research Institute Eric Green mengutarakan, dokter dan peneliti ahli telah lama mengetahui bahwa manusia berbagi tubuh dengan triliunan mikroorganisme. Setidaknya ada sekitar 10 sel bakteri untuk setiap sel dalam tubuh manusia. Namun, karena ukurannya sangat renik, sel-sel mikroba tersebut hanya menyumbang satu hingga tiga persen dari total massa tubuh manusia.
Green mengatakan, pada orang dewasa berbobot 100 kilogram, terdapat satu hingga tiga kilogram bakteri. "Sebetulnya selalu hidup berdampingan dengan mikroba secara harmonis. Tapi kadang hubungan harmonis itu rusak, dan mengakibatkan terjadi penyakit," ujarnya.
(Gloria Samantha. Sumber: Live Science, PLoS )+NG Indonesia
07.31 | 0 komentar

Anak dari Pria Usia Lanjut, Lebih Panjang Umur


Studi terbaru mengungkapkan semakin lanjut usia seseorang untuk memiliki anak, akan mempengaruhi rentang hidup dari anak cucu mereka.

autisme, anak-anakRonny Satzke/stock.xchng
Jika ayah dan kakek Anda harus menunggu sampai usia mereka lebih tua dari orang kebanyakan untuk memiliki anak, maka Anda akan diuntungkan. Karena kemungkinan Anda akan memilki rentang hidup yang lebih panjang.
Dalam sebuah penelitian, pria yang lebih tua dalam memiliki anak cenderung memiliki anak dan cucu yang memiliki telemore lebih panjang. Telemore yaitu topi yang terletak di ujung kromosom yang melindunginya dari kerusakan.
Orang yang memiliki telemore lebih panjang ternyata memiliki penurunan risiko kematian dari jangka waktu tertentu, dibandingkan dengan orang yang memiliki telemore pendek. Peneliti menjelaskan, sel telemore di dalam kebanyakan sel manusia memiliki usia yang pendek, akan tetapi di dalam sel sperma telemore dapat hidup lebih lama.
"Ketika pria menunda memiliki anak, telemore panjang di dalam sel sperma mereka dapat ditularkan ke generasi berikutnya. Lebih lagi, ini memberikan dampak adiktif pada lintas generasi," kata para peneliti.
Dan Eisenberg, penulis utama penelitian yang juga seorang kandidat doktor antropologi di Northwestern University mengatakan, "Panjang telemore mungkin memiliki efek terbesar pada sel-sel dalam tubuh yang tersebar selama hidup," kata Eisenberg. Ditambahkannya, beberapa penelitian menunjukkan orang dengan telemore yang lebih pendek lebih mungkin untuk meninggal karena penyakit menular dan penyakit jantung.
Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menunjukkan apakah mereka yang memiliki telemore lebih panjang dalam penelitian ini benar-benar memiliki risiko yang kecil terhadap kesehatannya.
Penelitian yang dilakukan di Filipina menemukan bahwa anak dari ayah yang lebih tua tidak hanya mewarisi telomere lebih panjang. Tetapi hubungan usia ayah dengan panjang telomere adalah keturunan kumulatif terhadap beberapa generasi.
Disimpulkan bahwa pria yang menunda untuk bereproduksi akan menyampaikantelemore lagi kepada keturunannya. Serta bisa memperpanjang masa hidup dan memungkinkan reproduksi di usia tua pada keturunan selanjutnya.
(Umi Rasmi. Sumber: Phys.org, Medical Express, Live Science)+NG Indonesia
07.30 | 0 komentar

Peneliti: Keringat Manusia Tak Lagi Efektif Lawan Suhu Panas


Perpaduan antara suhu panas, kelembaban tinggi, dan kondisi kesehatan, dapat menyebabkan kematian.

keringat,tubuh manusia(Thinkstockphoto)
Musim panas yang sedang dialami di belahan bumi utara termasuk Amerika Serikat ternyata bisa menyebabkan kematian. Bagaimana hal ini dapat terjadi?
Chris Minson, seorang ahli fisiologi lingkungan dari University of Oregon di Eugene, menyatakan bahwa cuaca panas itu sebenarnya tidak berbahaya. Akan tetapi, perpaduan antara suhu panas, kelembaban tinggi, dan kondisi kesehatan, dapat mendorong suhu tubuh seserang mencapai zona bahaya yakni hingga 40 derajat Celsius.
Saat itu, sistem organ mulai tidak teratur dan rusak, jantung pun mengalami stres berlebihan."Jika dengan berbagai cara kita tidak bisa mengimbangi suhu panas dari luar untuk melindungi suhu tubuh internal, di saat itulah masalah muncul," kata Minson.
Tubuh manusia sebenarnya mampu menyesuaikan diri dengan baik terhadap suhu tinggi. Ini terlihat dalam ketahanan seorang atlet lari jarak jauh atau balap sepeda. Mereka kerap berkompetisi di padang pasir panas dan tandus tanpa mengkhawatirkan terjadinyaoverheating.
Secara alamiah, tubuh manusia memiliki cara tersendiri untuk mengatasi suhu lingkungan yang tinggi. Jantung akan bekerja lebih keras untuk memompa darah ke kulit, membuat pembuluh darah melebar hingga melepaskan lebih banyak panas.
Pada saat yang sama, tubuh kita memproduksi keringat berlebih. Ini merupakan strategi terbaik tubuh kita untuk mendinginkan suhu. Karena panas yang berlebih telah dikeluarkan melalui keringat lalu menguap ke udara (proses evaporasi). Keringat sebagai cairan asin akan berubah menjadi gas dan membuat kulit menjadi sejuk.
Di saat inilah darah mengalir ke seluruh permukaan kulit dan kembali ke inti tubuh. Menjaga kita dari overheating. "Kita memiliki kemampuan untuk berkeringat. Sistem pendingin yang luar biasa ketika kelembaban tinggi. Sekarang masalahnya, keringat tidak lagi efektif." kata Minson.
Otak dan sistem saraf manusia sangat sensitif dengan suhu tubuh tinggi. Bisa menyebabkan disorientasi, perilaku aneh, kehilangan memori, dan sulit berpikir jernih. Bagi orang yang memiliki riwayat kesehatan tertentu, kondisi ini akan memiliki tantangan ekstra.
Kondisi panas memaksa jantung harus bekerja lebih keras. Pada orang yang bermasalah dengan jantung, kondisi ini membuat mereka beresiko mengalami serangan jantung lebih besar. Untuk penderita diabetes, penyakit ginjal dan kondisi lain, mengatur suhu dan level cairan dalam tubuh jadi menyulitkan. Hingga menyebabkan dehidrasi, gagal ginjal, dan masalah hati.
Berdasarkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, sejak tahun 1979 hingga 2003, sudah lebih dari 8.000 orang meninggal karena suhu panas ekstrem di AS. Lebih banyak orang meninggal karena musim panas daripada yang disebabkan jumlah korban angin topan, petir, tornado, banjir, dan gempa bumi jika digabungkan.
Untuk mencegah overheating, para ahli menyarankan untuk minum lebih banyak cairan dan berolahraga di dalam ruangan pada hari-hari terpanas.
(Umi Rasmi Sumber: Live Science)+NG Indonesia
07.26 | 0 komentar

Minimnya Ruang Laktasi jadi Kendala Kelancaran ASI


PEKAN ASI SEDUNIA 2012

Ketersediaan tempat menyusui perlu diadakan di mal, instansi pemerintah, perkantoran, dan ruang publik lainnya

bayi prematur,ksehatan,anak,miskin(Yusuf Ahmad/Fotokita.net)
Ketersediaan ruang khusus untuk tempat menyusui bagi ibu dan anak perlu diadakan dalam setiap ruang publik. Sayangnya, meski sudah dianjurkan oleh Pemerintah, fasilitas bagi ibu dan anak ini masih minim.
Hal ini mengemuka dalam diskusi Pekan ASI Sedunia yang jatuh pada tanggal 1-7 Agustus 2012, di Yogyakarta, Senin (7/8). Seperti yang diamanahkan dalam PP No.33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif, perlu diadakan ruang laktasi atau ruang khusus ibu dan anak untuk menyusui di setiap ruang publik seperti mal, bandara, dan instansi pemerintah.
Ruang laktasi ini bersifat khusus, bersih, nyaman, memiliki ketersediaan air yang cukup, serta bisa ditambah kulkas. "Tidak semua ruang publik memiliki ruang laktasi. Padahal, ASI eksklusif perlu rutin diberikan agar kesehatan ibu dan anak tetap terjaga," papar Spesialis Anak RS Sarjito Yogyakarta Tunjung Wibowo.
Ruang laktasi sangat penting untuk mendorong pemberian ASI ekslusif. Berdasarkan data dari WHO hingga tahun 2012 ini, pemberian ASI ekslusif baru 37 persen dan baru terpenuhi di 26 negara. Rendahnya pemberian ASI ekslusif ini, kata Tunjung, salah satunya disebabkan oleh minimnya ruang laktasi.
Ia memberi contoh, bila seorang ibu adalah  pekerja kantoran maka setiap dua jam sekali harus memerah ASI. Bila tidak dilakukan maka produksi ASI justru tidak produktif lagi. Untuk itulah, di lingkungan perkantoran perlu disediakan kulkas untuk menyimpan ASI tersebut. "Ruang laktasi ini perlu diadakan dalam setiap ruang publik. Keberadaanya akan membantu meningkatkan kesehatan ibu dan anak," tandas Tunjung.
Minimnya ruang laktasi juga diakui oleh Amirrudin sebagai Staf Seksi Gizi Dinkes DIY. Di Yogyakarta sendiri, belum semua ruang publik menyediakan. Hal ini disebabkan karena ruang laktasi membutuhkan ruang khusus yang bersih dan nyaman. Tak hanya itu, pengetahuan masyarakat awam tentang pentingnya ASI juga minim.
Ada beberapa faktor yang membuat rendahnya pengetahuan soal ASI, di antaranya rendahnya sosialisasi serta pengaruh lingkungan. Tunjung mengatakan, kecenderungan yang terjadi di Indonesia adalah ibu memberikan susu formula pada anak di rentang usia 0-2 tahun. Padahal, pemberian susu formula justru membuat bayi rentan cacat.
"Biasanya di kalangan masyarakat bawah pengetahuan tentang ASI eksklusif masih minim. Mereka justru percaya pada susu formula yang dipandang lebih sehat," papar Tunjung.
Pemberian ASI eksklusif harus dilakukan sejak bayi berusia 0-6 bulan. Bahkan ketika usianya menginjak dua tahun, ia tetap membutuhkan ASI ekslusif dan makanan pendamping. ASI diketahui juga mencegah munculnya penyakit seperti asma, diare, dan jantung. Selain berdampak positif bagi anak, ASI juga dapat menurunkan angka kematian yang disebabkan pendarahan bagi Ibu.
Hal senada juga diungkapkan oleh Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes DIY Inni Hikmatin, bahwa pengetahuan tentang ASI eksklusif masih minim di kalangan ibu-ibu. Justru yang terjadi adalah ASI dikalahkan oleh susu formula. Menurutnya, faktor yang paling berpengaruh adalah lingkungan sekitar. "Untuk meningkatkan pengetahuan ini,kami akan meningkatkan sosialisasi," tambahnya.
Kendala ruang laktasi dan minimnya pengetahuan mengenai ASI menjadi tantangan dalam hari Pekan ASI Sedunia yang memiliki tema Understanding the Past Planning for the Future: Maknai Masa Lampau Demi Kemajuan Masa Depan, Menyusui adalah Hak Ibu dan Anak.
Tema ini sekaligus menargetkan pada 2025 mendatang sebanyak 50 persen dari jumlah bayi di bawah usia 6 bulan diberi ASI eksklusif. Target ini dimaksudkan untuk mengurangi terjadinya 45 persen kematian bayi akibat infeksi neonatal, 30 persen kematian akibat diare, dan 18 persen infeksi saluran pernafasan.
(Olivia Lewi Pramesti)+NG Indonesia
07.24 | 0 komentar

Tiga Penyakit Rawan Tatkala Mudik Lebaran


Di tengah kepadatan arus mudik, kuman penyakit mudah berjangkit lewat udara maupun kontak.

mudik, Lebaran, puasa, Idul FitriSusanto/Fotokita.net
Menurut ahli mikrobiologi FK Universitas Indonesia, R. Fera Ibrahim, ada setidaknya tiga penyakit yang rawan terjadi saat mudik jelang hari raya Lebaran.
"Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, dan radang kemih adalah penyakit yang mudah berjangkit di tengah kepadatan manusia yang terkonsentrasi seputar fasilitas-fasilitas umum," katanya dalam acara diskusi "Lifebuoy Berita Sehat Ramadhan Bersama Pakar Kesehatan" di Jakarta, Senin (6/8).
Di tengah kepadatan kuman penyakit mudah ditularkan lewat udara. Selain itu, para pemudik sering harus mengalami tingginya intensitas penggunaan fasilitas umum di terminal, stasiun, bandara. Fasilitas umum itu di antaranya toilet, mesin ATM, dan tempat makan.
Dokter spesialis penyakit dalam dari RS Premie Bintaro, Bahdar Johan menerangkan, bahwa pemudik kerap melakukan kontak dengan benda-benda yang bisa jadi mengandung banyak kuman karena kotor. "Ini yang dapat menyebabkan diare," tambah Bahdar.
Sementara infeksi saluran kemih terjadi karena orang harus menahan buang air kecil selama perjalanan. "Radang kemih banyak terjadi pada wanita, kalau pria cenderung bisa buang air kecil di mana saja. Sementara air yang digunakan di kamar mandi umum juga tidak terjamin kebersihannya. Pada perempuan dengan radang kemih sering ditemukan bakteri E coli," ungkapnya.
Untuk itu, disarankan agar pemudik menjaga daya tahan tubuh dengan beristirahat dan makan asupan makanan yang cukup. Serta meningkatkan frekuensi cuci tangan dengan sabun, menggunakan masker di lokasi-lokasi yang padat, dan mempelajari situasi penyakit di daerah tujuan masing-masing.
(Gloria Samantha. Sumber: Kompas, ANTARA)+NG Indonesia
07.23 | 0 komentar

Kuning Telur Dapat Rusak Pembuluh Darah


Penyuka telur perlu berhati-hati. Asupan tinggi kolesterol dalam kuning telur akan meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.

telur,kuning telur(Thinkstpckphoto)
Kuning telur yang kaya akan nutrisi, ternyata jika dikonsumsi secara rutin mempunyai efek buruk bagi kesehatan jantung. Peneliti menemukan bahwa mengonsumsi kuning telur dapat mempercepat penyakit arteri koroner atau aterosklerosis.
Dalam sebuah penelitian di London Health Science Center University Hospital, dijelaskan, kuning telur pada akhirnya merusak pembuluh darah. Karena kolesterol pada kuning telur dapat menyumbat arteri karotis yang menyuplai darah ke area leher dan kepala.
Menurut David Spence, ahli neurologi dari Western Ontario University, Kanada, yang merupakan bagian dari tim peneliti, ini bisa meningkatkan risiko terjadinya stroke. Riset Spence dan timnya mengumpulkan sekitar 1.200 responden, perempuan dan laki-laki dengan usia rata-rata 61,5 tahun, yang terkait penyakit jantung.
Peneliti menggunakan ultrasound untuk mendeteksi jumlah plak di dalam arteri responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi satu butir kuning telur per hari sudah melebihi batas asupan kolesterol harian yang dianjurkan.
"Maka orang yang mengonsumsi lebih dari tiga butir telur atau lebih dalam seminggu menumpuk kolesterol dalam pembuluh darahnya, sementara tingginya asupan kolesterol meningkatkan pula risiko gangguan kardiovaskular," ungkap Spence.
Ia menambahkan, efek konsumsi kuning telur dari waktu ke waktu pada peningkatan plak di arteri tidak tergantung dari jenis kelamin, kolesterol, tekanan darah, kebiasaan merokok, indeks massa tubuh, serta apakah seseorang penyandang diabetes.
(Gloria Samantha. Sumber: HealthDay, Dailymail)+NG Indonesia
07.21 | 0 komentar

Telepon Genggam Beracun Bagi Manusia dan Lingkungan


Hasil penelitian menunjukkan, telepon terbaik pun masih penuh dengan bahan kimia berbahaya.

handphone,smartphoneIlustrasi handphone (Thinkstockphoto)
Mulai dari proses produksi hingga akhirnya menjadi barang bekas, telepon genggam (handphone) mampu mengontaminasi manusia dan lingkungan. Lebih berbahaya lagi, polusi yang dihasilkan handphonesulit untuk dideteksi.
Demikian hasil penelitian yang dilakukan oleh Ecology Center dari Ann Arbor, Michigan, Amerika Serikat, dan ifixit.com. Mereka membedah 36 model handphoneyang berbeda. Tiap satu model handphonesetidaknya mengandung satu elemen beracun: timah, bromine, klorin, merkuri, dan kadmium.
Diketahui handphone yang paling sedikit racunnya adalah Motorola Citrus. Sedangkan yang paling "kotor" adalah iPhone 2G. Namun, catatan ini kemudian diperbaiki oleh Apple sebagai produsen iPhone. Dua varian teranyarnya, iPhone 4S dan iPhone 5 menjadi pemuncak dalam daftar lima handphone terbersih.
Meski demikian, Jeff Gearhart sebagai Direktur Riset Ecology Center menyatakan, telepon terbaik pun masih penuh dengan bahan kimia berbahaya. "Bahan-bahan kimia ini, berhubungan dengan cacat lahir, gangguan belajar, dan masalah kesehatan serius lainnya, ditemukan di tanah dengan level antara 10 hingga 100 kali lebih berbahaya dari tempat daur ulang elektronik di Cina," ujar Gearhart.
Secara keseluruhan, penelitian ini melibatkan 1.106 handphone yang dibongkar dan diuji oleh tim di ifixit.com menggunakan sinar-X. Teknik ini membombardir sebuah objek dengan radiasi. Sinar radiasi yang dirilis kembali oleh objek tersebut kemudian diukur. Dari sini bisa teridentifikasi materi-materi tertentu yang dirilis oleh si objek.
Sumber polusi dan risiko kesehatan terbesar dari handphone berasal dari bahan-bahan mineral yang digunakan, proses produksi peralatan, dan pembuangannya. Menurut Gearhart, untuk mencegah risiko lebih besar, dibutuhkan insentif agar tercipta desain elektronik konsumen yang lebih hijau.
Menurut data dari Environmental Protection Agency (EPA), AS, di tahun 2009 terdapat 2,37 juta ton peralatan elektronik yang memasuki masa "manajemen akhir hidup." Itu artinya, barang-barang tersebut sudah rusak, mati, kadaluarsa, atau tidak diinginkan lagi.
Dari sekian sampah digital, hanya 25 persen di antaranya yang masuk pusat daur ulang. "Sampah elektronik adalah masalah besar yang bisa menyebabkan bahan-bahan kimia merembes ke air minum dan meracuni lingkungan," ujar Kyle Wiens, CEO dari ifixit.com

(Zika Zakiya. Sumber: Discovery News)+ NG Indonesia
07.18 | 0 komentar

Meraih Hidup Sehat dengan Sanitasi Bersistem Kredit

Written By mhharismansur on Jumat, 18 Januari 2013 | 06.16


Disadari atau tidak, sanitasi menjadi salah satu faktor penting untuk mencapai Sasaran Pembangunan Milenium (MDGs) 2015.

air bersih,jakarta,sanitasi,kumuhWarga mencuci di bantaran Rel KA Kebon Melati, Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Buruknya sanitasi dan pencemaran yang terjadi hampir di semua sungai di Ibu Kota, membuat warga harus membayar Rp1.500,- per galon hanya untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang layak konsumsi. (Fernando Toga/Fotokita.net).
Dibanding pembangunan untuk akses air, pengembangan sistem sanitasi di Indonesia belum terlalu maju. Sejak tahun 2005, memang sudah ada beberapa departemen berwenang yang bertanggung jawab soal sanitasi. Namun, tidak ada kerja sama yang terjalin di antara mereka.
Ini menyebabkan akses sanitasi di Indonesia tidak mengalami perkembangan. Menurut Foort Bustraan dari Indonesia Urban Water, Sanitation, and Hygiene (IUWASH), sanitasi tidak terlalu dipentingkan karena tidak kasat mata.
Semua sistem sanitasi yang diketahui di Indonesia, langsung masuk ke tanah. Bisa bercampur dengan air tanah dan akhirnya memengaruhi kesehatan masyarakat.
"Kalau ada masalah sampah, langsung diatasi karena sampah yang menumpuk terlihat. Tapi kalau sanitasi, semua masuk ke tanah dan tidak nampak," ujar Bustraan saat ditemui dalam lokakarya "Langkah Adaptasi Perubahan Iklim Untuk Menjamin Suplai Air Baku PDAM," di Jakarta, Rabu (16/1).
Masalah lain dari sanitasi di Indonesia, dalam hal ini jamban, ternyata belum dimiliki seluruh lapisan masyarakat. Data dari Water and Sanitation Program (WSP) menyebut, 60 juta penduduk Indonesia masih buang air besar sembarangan.
WHO-UNICEF juga melepas data, sebanyak 1,1miliar orang masih buang air besar di alam terbuka pada tahun 2010. India, Indonesia, Cina, Etiopia, Pakistan, Nigeria, Sudan, Nepal, Brasil, Nigeria, dan Bangladesh, menjadi rumah dari 81 persen orang yang buang air besar di alam terbuka itu .
Untuk itu Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), Bank Syariah Mandiri (BSM), dan IUWASH mencoba memberi bantuan berupa pembiayaan mikro untuk akses sanitasi. Saat ini, sekelompok warga di Probolinggo, Jawa timur, telah membentuk koperasi atas usaha sendiri dan menyediakan pembiayaan mikro untuk pembangunan 83 jamban sehat bagi warga setempat.
Upaya serupa di Mojokerto telah menghasilkan 55 jamban sehat. Swadaya warga di kedua kota tersebut memberikan pilihan jamban lengkap dengan tangki septik seharga Rp750 ribu hingga Rp1,1 juta yang diangsur sebesar Rp15 ribu sampai 20 ribu setiap minggu selama satu tahun.
Dikatakan Direktur Utama BSM Yuslam Fauzi, pihaknya memiliki konsep pembiayaan mikro yang berbeda dengan pembiayaan bank konvensional dan lembaga pembiyaan mikro lain. "BSM menerapkan murabahah, yaitu jual beli dengan sistem margin. Sedangkan pembiayaan mikro konvensional menerapkan sistem bunga," ujar Yuslam.
Disadari atau tidak, sanitasi menjadi salah satu faktor penting untuk mencapai Sasaran Pembangunan Milenium (MDGs) 2015. Menurut Nugroho Tri Utomo, Direktur Pemukiman dan Perumahan Bappenas, jangkauan Indonesia untuk layanan sanitasi yang lebih baik sudah mencapai 55,60 persen dari target MDGs sebesar 62,41 persen.
(Zika Zakiya) + NG Indonesia
06.16 | 0 komentar

Losion Insektisida Lebih Efektif Cegah DBD Dibanding Fogging


Teknik pengasapan ternyata tak terlalu efektif memberantas nyamuk demam berdarah. Pengasapan hanya membasmi nyamuk dewasa yang terbang.

pengasapan,nyamuk,demam berdarahTeknik pengasapan untuk pembasmian sarang nyamuk. (Thinkstockphoto).
Teknik pengasapan (fogging) ternyata bukan merupakan cara yang terlalu efektif memberantas nyamuk pembawa virus demam berdarah dengue.
Demikian kesimpulan dari disertasi berjudul "Modeling Intervensi Penyakit Demam Berdarah di Indonesia" yang ditulis Tri Yunis Miko Wahyono dan dipaparkan di Departemen Epidemiologi Universitas Indonesia, Depok, Selasa (15/1).
Ia membandingkan penggunaan insektida dalam bentuk losion antinyamuk dengan insektisida dalam pengasapan. Menurut penelitian Tri, losion lebih efektif karena pengasapan yang cenderung massal hanya membasmi nyamuk-nyamuk dewasa yang terbang. Sedangkan jentik-jentik nyamuk dan nyamuk yang tersembunyi tidak ikut dibasmi.
"Pengasapan tidak seefektif penggunaan losion yang mampu menekan persentase DBD hingga 50 persen," paparnya.
Efektivitas losion, ia menambahkan, akan dapat bertahan selama enam hingga 12 jam. Disarankan menggunakan secara rutin saat jam aktif nyamuk Aedes aegypti di pagi dan sore hari.
Meski efektif sebagai pencegahan DBD, penggunaan losion insektisida pun perlu pengawasan ketat dan dosisnya tidak boleh berlebih. Sebab mengandung toksin yang bisa memiliki dampak berbahaya untuk kesehatan manusia.
(Gloria Samantha)+NG Indonesia
06.16 | 0 komentar

Pirau Katup Semilunar Selamatkan Pasien Hidrosefalus


Alat ini cukup membantu pasien karena dipasang di dalam otak.

otak,manusia,bayi(Thinkstockphoto)
Hidrosefalus sebagai penyakit akibat gangguan cairan pada otak ternyata memiliki solusi tersendiri. Lewat pirau katup semilunar, alat yang dipasang pada otak, pasien dapat menikmati hidupnya dengan normal.
Pirau katup semilunar, begitulah namanya. Alat yang diciptakan oleh Sudiarto dan mendapat paten sejak tahun 2007 lalu telah berhasil menyelamatkan sekitar 7.000-an pasien hidrosefalus. Spesialis Bedah Saraf di RS Sardjito Yogyakarta ini mengaku, ide pembuatan alat ini bermula tahun 1972 ketika mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia. Namun sayang, empat tahun berjalan alat ini tidak berhasil.
Ia pun mendapat kesempatan untuk kuliah di Belanda dan dipercaya menjadi asisten dalam operasi pemasangan pompa holter bagi penderita hidrosefalus. Pompa buatan Amerika Serikat itu menjadi satu-satunya alat untuk menyelamatkan bayi-bayi hidrosefalus kala itu.
“Namun, pompa tersebut sering bermasalah. Kerap kali terjadi sumbatan pada aliran pompa setelah dipasang. Akibatnya, para pasien harus melakukan operasi ulang,” paparnya beberapa hari lalu di Yogyakarta.
Sudiharto pun terus melakukan penelitian tentang penyumbatan pada pompa holter. Hingga akhirnya ia terinspirasi membuat alat tersebut yang berdasar prinsip kerja jantung.
Kendati belum dipatenkan, ia mengambil risiko untuk memasang alat buatannya demi menyelamatkan pasien hidrosefalus. Tindakan itu juga didorong oleh mahalnya harga pompa holter sehingga tidak semua pasien mampu membeli.
Sudiharto menjelaskan, pemasangan alat pompa ini awalnya dengan membedah kepala. Kemudian dibuat lubang kecil untuk memasukkan pompa di sekitar rongga otak. Dari sini dipasang selang yang terhubung melalui leher hingga masuk ke rongga perut di luar usus.
“Kita masukkan di bawah kulit. Karena otak itu berdenyut sesuai dengan denyut jantung, katup ini membuka sesuai dengan denyutan jantung,” katanya.
Dari semua pasien yang dipasang alat ciptaannya, Sudiharto mengaku hanya sekali melakukan operasi ulang pada awal-awal pompa katup semilunar mulai digunakan. Penyebabnya setelah dipasang ternyata pertumbuhan bayi melebihi perkiraan panjang selang. “Waktu dipasang, pasien masih kecil. Selang memendek karena dia tambah tinggi,” jelasnya.
Pengalaman itu menjadikan Sudiharto semakin tahu panjang selang dari pompa yang hendak dipasang. Menurutnya, orang Indonesia memiliki tinggi badan 160 - 175 sentimeter. Dengan demikian, ia harus memasang pompa berserta selang yang memiliki panjang 68 - 74 sentimeter.
Dari pengalaman, selang sepanjang itu cukup hingga pasien dewasa. “Sekarang average sambungan selang dari leher ke perut 65 - 70 sentimeter. Hanya kadang-kadang anak-anak sekarang cenderung lebih tinggi. Jadi, kita pasang dengan panjang 74 sentimeter,” tuturnya.
Ia pun menambahkan harga alat pun relatif tidak mahal, berkisar Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta. Ini pun bisa dibuat sesuai ukuran pemesan dan umur pasien.
(Olivia Lewi Pramesti)+NG Indonesia
06.09 | 0 komentar

Ibu Rumah Tangga yang Terinfeksi HIV/AIDS Terus Meningkat

Written By mhharismansur on Sabtu, 12 Januari 2013 | 05.43


Ibu rumah tangga merupakan salah satu korban penderita HIV/AIDS yang jumlahnya lebih tinggi dibanding para pekerja seks komersial.

aids,peduli aids(Thinkstockphoto)
Saat ini masyarakat cenderung menganggap bahwa HIV/AIDS hanya dialami oleh Pekerja Seks Komersial (PSK). Padahal, justru jumlah ibu rumah tangga yang terkena HIV/AIDS jumlahnya lebih besar dibandingkan PSK.
Berdasarkan data dari Menteri Kesehatan sejak tahun 1987 hingga 2012, sudah terdapat 3.733 kasus ibu rumah tangga yang terinfeksi pasangan tetapnya. Banyaknya ibu rumah tangga yang terinfeksi virus HIV/AIDS menempatkan mereka di posisi tertinggi keempat dalam kasus AIDS di Indonesia.
Hal ini dikemukakan oleh Wakil Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Paduka Alam IX dalam seminar “Lindungi Perempuan dan Anak dari HIVdan AIDS”, di Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (20/11). Ia mengatakan, tingginya jumlah penderita HIV/AIDS pada ibu rumah tangga disebabkan karena ketidaktahuan mereka tentang penyakit menular.
“Tak hanya masalah minimnya informasi, perempuan HIV/AIDS masih menjadi pihak yang mendapat diskriminasi dari masyarakat luas,” papar Sri Paduka Alam IX.
Tingginya jumlah penderita ibu rumah tangga akan rentan pada masalah penularannya pada anak. Penularan ini bisa terjadi lewat kehamilan, persalinan, serta menyusui. Melihat kondisi ini, sangat penting melibatkan perempuan dalam rangka pencegahan HIV/AIDS. Keterlibatan ini misalnya bisa dilakukan dengan aktif dan proaktif melakukan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Riswanto menambahkan, di provinsi DIY jumlah penderita HIV/AIDS dari kalangan ibu rumah tangga terus meningkat. Peningkatan ini terlihat sejak tahun 2010 lalu, di mana posisinya dari urutan lima menjadi urutan kedua setelah profesi wiraswasta. Berdasarkan data dari KPA DIY, pada tahun 2011 jumlah penderita ibu rumah tangga adalah 185 orang dan pada 2012 menjadi 198 orang.
“Penyebab terjangkitnya ibu rumah tangga adalah para suami yang melakukan seks bebas. Hal ini seringkali tidak diketahui mereka sehingga virus HIV/AIDS mudah ditularkan,” kata Riswanto.
Riswanto melanjutkan, peningkatan jumlah penderita dari kaum ibu rumah tangga ini perlu dicegah dengan melakukan sosialisasi aktif kepada kaum ibu. Sosialisasi ini untuk di Provinsi DIY dilakukan dengan membentuk kader – kader dari perkumpulan ibu-ibu. Tujuan pembentukan kader adalah memberikan edukasi bagi kaum perempuan serta mencegah korban berlebih.
(Olivia Lewi Pramesti)+ NG Indonesia
05.43 | 0 komentar

Perbaikan Gizi Bukan Artinya Apatis pada Kesehatan


Hasil Riset Kesehatan Dasar 2010 menyebut satu dari lima orang dewasa di Indonesia mengalami gizi lebih yang berujung pada risiko kesehatan.

kentang,hamburger,junk foodMakanan cepat saji atau terkadang disebut junk food. Meski rasanya cukup enak, makanan ini mengandung banyak risiko kesehatan. Mulai dari jantung hingga diabetes. (Thinkstockphoto)
Undang-Undang no.7 tahun 1996 berisi bahwa ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi individu, keluarga, wilayah, dan seluruh warga negara yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup dari segi jumlah dan mutunya. Harus juga pangan yang aman, bergizi, merata, dan terjangkau untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat, aktif, dan produktif.
Namun, dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, saat ini satu dari lima orang dewasa di Indonesia mengalami gizi lebih. Meski dianggap hal positif, kelebihan gizi ini menimbulkan berbagai risiko penyakit tidak menular. Seperti penyakit jantung, diabetes, kanker, atau pun ginjal.
Dari paparan Riskesdas 2010 itu pula diketahui gizi lebih pada balita lebih rendah dibandingkan pada orang dewasa, yaitu 14,2 persen. "Prevelensi gizi lebih pada orang dewasa mencapai 21 persen," kata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi dalam pembukaan Widya Karya Pangan dan Gizi (WNPG) X 2012 di Auditorium Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta, Selasa (20/11).
Ironisnya, saat ini Indonesia terancam krisis pangan karena berkurangnya lahan pertanian. Lahan yang tadinya bisa digunakan untuk pemenuhan kebutuhan pangan, dialih fungsikan menjadi perumahan atau ladang usaha.
Krisis pangan ini diperkirakan akan makin terasa saat mencapai tahun 2015. Di mana jumlah penduduk Nusantara menyentuh angka 250 juta jiwa. Kondisi ini membuat masyarakat dan pemerintah harus bekerja sama untuk melakukan diversifikasi pangan.
"Persoalan ini bukan hanya berhubungan dengan ketersediaan pangan yang tidak mencukupi kebutuhan, tapi juga keterbatasan akses penduduk terhadap pangan," ujar Lukman Hakim, Kepala LIPI yang menambahkan diversifikasi pangan dan gizi telah diangkat pada WNPG di tahun 1993. Tapi isu ini semakin penting hingga perlu diangkat kembali di WNPG 2012.
"Pola pangan harapan dan gizi seimbang haruslah menjadi pengetahuan umum dan selanjutnya gaya hidup  masyarakat. Sehingga kita menjadi bangsa yang cerdas dan berkualitas," papar Lukman.

sumber : NG Indonesia
05.43 | 0 komentar

Kesaksian Pengidap HIV/AIDS


Penyakit HIV/AIDS bukanlah penyakit kotor dan mudah ditularkan ke orang lain. Penyakit ini juga tidak langsung mematikan penderitanya.

aids,hiv(thinkstockphoto)
Ian Michael (36) tak tampak malu ketika mengungkap jati dirinya sebagai pengidap HIV/AIDS positif. Ia hanya berujar, "Saya sudah siap jati diri terungkap di masyarakat. Saya ingin memberikan motivasi pada penderita supaya mereka tidak terlalu terpuruk," katanya, Selasa(27/11) di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Divonis menjadi penderita HIV/AIDS sejak tahun 2003, ternyata bukan akhir segalanya bagi Ian. Awalnya memang stres dan terpukul, namun status hidupnya menjadi berguna di masyarakat yakni sebagai motivator di sebuah LSM di Yogyakarta yang bergerak di bidang ODHA (orang dengan HIV/AIDS) dan HIV/AIDS.
Sejak tahun 1998, Ian mulai mengkonsumsi narkoba jenis putaw. Hingga pada akhirnya sewaktu ia diminta untuk tes HIV/AIDS, dirinya didiagnosis positif. Setelah itu ia diharuskan masuk ke pusat rehabilitasi untuk melakukan terapi.
Tahun 2005, Ian berhubungan dengan seorang wanita yang saat ini menjadi istrinya. Awal berhubungan, Ian sudah terbuka bahwa dirinya mantan ODHA dan penderita HIV/AIDS. "Istri saya waktu itu memang kaget, karena dia mencintai saya, maka ia akhirnya mau menikah dengan saya dengan segala risikonya," katanya.
Akhirnya tahun 2006, Ian pun menikah. Meski si istri negatif, satu ketakutan yang mereka alami adalah anak mereka kelak juga tertular HIV/AIDS. Setelah menikah, istri positif mengandung. Ian pun selalu rutin memeriksakan kandungan dan melakukan tes HIV untuk janin anaknya. Puji syukur, anak pertama lahir dengan selamat dan negatif HIV/AIDS.
"Anak pertama laki-laki dan sekarang usianya lima tahun. Kami juga dianugerahi anak kedua perempuan (1,5 tahun) yang sama-sama negatif HIV/AIDS," ujarnya dan menambahkan penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual sekitar 0,5 persen per hubungan.
Ian mengatakan bahwa penderita HIV/AIDS tak perlu khawatir dengan keturunannya. Untuk kesehatannya pribadi pun juga tak perlu khawatir. Saat ini Ian pun terus mengkonsumsi obat ARV per 12 jam dan melakukan terapi. "Saya merasa sehat dan ini membuktikkan bahwa penyakit tidak langsung mematikan," tambahnya.
Namun, yang perlu mendapat perhatian adalah tingkat penerimaan penderita di depan publiknya. Saat ini banyak penderita masih minder karena masyarakat luas melakukan diskriminasi. Akibatnya, penderita tidak mengakui jati dirinya dan tidak terbuka untuk menerima informasi.
“Saya berharap penderita HIV/AIDS makin yakin bahwa mereka juga memiliki hak dan kewajiban sama seperti masyarakat lainnya."
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Riswanto menegaskan, HIV/AIDS bukanlah penyakit kotor dan mudah ditularkan ke orang lain. Dengan demikian, masyarakat diharapkan lewat bersikap adil terhadap para penderita khususnya menyangkut keberadaannya dalam masyarakat.
Sementara itu kaitannya dengan peringatan Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada 1 Desember mendatang, Riswanto berharap seluruh pihak lebih memberikan perhatian penting pada penyakit ini. Khususnya perempuan, pihak ini diharapkan untuk berhati-hati terhadap penyebab HIV/AIDS mengingat jumlahnya makin meningkat.
(Olivia Lewi Pramesti)+ NG Indonesia
05.40 | 0 komentar

PERINGATAN HARI AIDS SE-DUNIA


PERINGATAN HARI AIDS SE-DUNIA

Menuju Nol Infeksi, Diskriminasi, dan Kematian

Ini merupakan bagian dari kemajuan yang dicanangkan PBB sesuai dengan tema kampanyenya dari tahun 2011 hingga 2015.

aids,hiv(thinkstockphoto)
"Matahari akan menemukan jalurnya, bahkan hingga ke bagian terdalam di hutan...Bagi jutaan orang yang sudah bergabung dalam hasrat dan tekad, di Hari AIDS se-Dunia ini kami katakan: darah, keringat, dan air mata Anda mengubah dunia."
Prakata ini menjadi pembuka dalam laporan PBB, UNAIDS World AIDS Report 2012. Disebutkan dalam laporan itu ada beberapa kemajuan dalam pencegahan penyebaran HIV/AIDS di dunia.
Mulai dari benua Afrika yang berhasil memotong kematian terkait AIDS hingga sepertiganya selama enam tahun belakangan. Hingga angka infeksi HIV yang menurun secara global pada tahun 2011 dibanding tahun 2001.
Dua tahun terakhir juga menunjukkan adanya peningkatan 60 persen dari pengidap HIV/AIDS yang mendapat akses pengobatan. Tercatat, delapan juta orang menggunakan terapi antiretroviral.
Ini merupakan bagian dari kemajuan yang dicanangkan PBB sesuai dengan tema kampanyenya dari tahun 2011 hingga 2015. Yakni "Getting to zero: zero new HIV infections. Zero discrimination. Zero AIDS related deaths".
Bagaimana dengan Indonesia? Data dari Yayasan AIDS Indonesia yang dilansir dari Direktoral Jenderal Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes RI menyebut, belum ada penurunan signifikan.
Statistik kasus HIV/AIDS di Indonesia pada Juni 2010, secara akumulatif menurut jenis kelamin berjumlah 21.770 kasus untuk AIDS. Pada Desember 2011, angka itu bertambah menjadi 28.757.
Berdasarkan jumlah kumulatif per provinsi, DKI Jakarta masih menjadi yang tertinggi. Sebanyak 18.999 kasus HIV dan 5.117 AIDS. Disusul berturut-turut dengan Papua, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Bali.
Bahkan berdasarkan data dari Menteri Kesehatan sejak tahun 1987 hingga 2012, sudah terdapat 3.733 kasus ibu rumah tangga yang terinfeksi pasangan tetapnya.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Riswanto berharap, seluruh pihak lebih memberikan perhatian penting pada penyakit ini. Khususnya perempuan, pihak ini diharapkan untuk berhati-hati terhadap penyebab HIV/AIDS mengingat jumlahnya makin meningkat.
(Zika Zakiya. Sumber: UNAIDS, Yayasan Aids Indonesia, WHO)
sumber : NG Indonesia
05.39 | 0 komentar

Jagat Renik (the end)



Tak kasat mata. Ada di mana-mana. Dan berkuasa.

OLEH NATHAN WOLFE
FOTO OLEH DEPT.MIKROBIOLOGI, BIOZENTRUM, UNIVERSITAT BASEL/PHOTO RESEARCHER, INC
Yang membuat galur ini sangat berbahaya adalah kekebalannya terhadap antibiotik, mukjizat kedokteran modern yang telah menyelamatkan jutaan nyawa sejak pertengahan abad lalu. Semakin kita memahami mikrobiota manusia, kita kian menyadari betapa mudah­nya mikroba-bermanfaat terembet menjadi korban sampingan antibiotik.

Sekitar 10-40 persen anak-anak yang diberi antibiotik spektrum luas mengalami diare terkait-antibiotik, karena mikrobiota ususnya terganggu. Meluasnya penggunaan antibiotik sejak usia dini mungkin menimbulkan efek yang lebih besar seiring waktu.

Mikroba lambung Helicobacter pylori telah lama diketahui menyebabkan tukak pada beberapa orang, tetapi pada kebanyakan orang bakteri ini berfungsi mengatur sel kekebalan dalam lambung. Ahli mikrobiologi Martin Blaser yang telah meneliti H. pyloriselama beberapa dasawarsa, mencatat bahwa makin sedikit orang dewasa yang memiliki mikroba itu, sebagian karena seringnya mendapat antibiotik dosis tinggi selama masa kanak-kanak.

Blaser berpendapat, semakin berkurangnya bakteri dalam tubuh mungkin berkaitan dengan meningkatnya pengidap asma pada generasi muda Amerika. Jadi apakah kita harus mengobati anak-anak pengidap bengek dengan bakteri H. pylori? Tidak sesederhana itu.

Semakin kita mengenal hubungan antara manusia dan mikroba—serta hubungan kompleks antara satu mikroba dengan yang lain—ilmuwan mulai memandang mikrobiom seperti ahli ekologi memandang ekosistem. Ini bukan sebagai kumpulan spe­sies tetapi sebagai lingkungan dinamis yang terbentuk oleh berbagai interaksi antara anggota­nya.

Artinya, kita harus lebih hati-hati menggunakan antibiotik dan pengobatan probiotik yang sedang naik daun yang tidak hanya menggenjot sementara jumlah mikroba tertentu, tetapi juga merangsang seluruh populasi. “Kita tahu cara mengacau komunitas mikroba,” kata Katherine Lemon, peneliti mikrobiom. “Yang belum kita ketahui adalah cara mengembalikannya ke keadaan yang sehat.”

Pandangan tentang hubungan kita dengan mikroba ini sangat bertentangan dengan pandangan saya sebagai ahli mikrobiologi yang menganggapnya sebagai calon pembunuh yang harus diburu dan dibasmi sebelum menyebar. Tentu saja kedua pandangan ini benar. Kita tidak boleh lalai menjaga diri dari ancaman patogen.

Namun, semakin dalam menjelajahi dunia mikroba, ketakutan kita terhadap makhluk tidak kasat mata yang ada di sekitar dan dalam tubuh ini harus dibarengi dengan penghargaan kita atas manfaat yang baru diketahui—dan debar-debar hati menunggu penemuan selanjutnya.

sumber : NG Indonesia
05.35 | 0 komentar

Jagat Renik part 3



Tak kasat mata. Ada di mana-mana. Dan berkuasa.

OLEH NATHAN WOLFE
FOTO OLEH DEPT.MIKROBIOLOGI, BIOZENTRUM, UNIVERSITAT BASEL/PHOTO RESEARCHER, INC
Kita kembali lagi ke hidung. Bagaimana nasib mikroba udara yang kita hirup tanpa sadar itu? Makhluk itu cuma numpang lewat. Hidung kita juga dihuni penduduk tetap yang padat dan beragam. Tiga genera—Corynebacterium, Propionibacterium, danStaphylococcus—merupakan bakteri mayoritas dalam lubang hidung kita.

Mikroba hidung merupakan salah satu komunitas yang membentuk mikrobiom manusia: semua pelengkap genetis berupa bakteri dan organisme lain yang tinggal di kulit, gusi, gigi, saluran genital, dan terutama di usus.

Secara total, jumlah mikroba dalam tubuh manusia melebihi jumlah sel tubuh itu sendiri dengan perbandingan sepuluh banding satu, dan beratnya sama atau melebihi otak kita—sekitar 1.350 gram pada rata-rata orang dewasa.

Jadi setiap manusia merupakan organisme sekaligus ekosistem padat penduduk, dengan berbagai habitat yang dihuni spesies berlainan yang perbedaannya laksana hewan yang ada di hutan dengan di gurun.

Sebagian besar mikroba yang mendiami tubuh kita bermanfaat atau tidak berbahaya. Mikroba ini membantu kita mencerna makanan dan menyerap zat gizi. Mikroba memproduksi protein anti-inflamasi dan vitamin penting yang tidak dapat dibentuk oleh gen kita, serta melatih sistem kekebalan tubuh kita untuk memerangi penyusup yang menularkan penyakit.

Bakteri yang tinggal di kulit mengeluarkan semacam pelembap alami, mencegah pecah-pecah yang dapat menyebabkan kulit dimasuki patogen. Manusia mendapatkan rekan mikroba pertam­nya dalam proses kelahiran, saat melewati saluran vagina yang populasi bakterinya berubah secara drastis selama kehamilan.

Misalnya, Lactobacillus johnsonii, yang biasanya hidup dalam usus dan membantu kita mencerna susu, menjadi lebih banyak di vagina, sehingga sang bayi mendapat bakteri ini, mungkin untuk membantunya mencerna ASI.
Tubuh manusia juga dihuni beberapa kuman culas. Setiap waktu, satu dari tiga manusia memiliki Staphylococcus aureus—bakteri jinak yang bisa berubah ganas—di lubang hidungnya.

Biasanya persaingan antara anggota komunitas lubang hidung dapat mengontrol bakteri ini. Namun, S. aureus bisa jadi berbahaya, terutama jika masuk ke lingkungan yang lain. Di kulit, bakteri ini dapat menyebabkan berbagai hal mulai dari jerawat hingga infeksi yang membawa maut.

Dalam kondisi tertentu, bakteri individu dapat menyatu menjadi lapisan lendir yang bertingkah seperti pasukan, menyerang jaringan baru dan bahkan mengontaminasi kateter intravena dan peralatan rumah sakit lainnya. Galur kuman super S. aureus dapat menyebabkan infeksi mematikan seperti sindrom syok keracunan atau fasiitis nekrotik—penyakit pemakan daging.
sumber : NG Indonesia
05.34 | 0 komentar

Jagat Renik part 2



Tak kasat mata. Ada di mana-mana. Dan berkuasa.

OLEH NATHAN WOLFE
FOTO OLEH DEPT.MIKROBIOLOGI, BIOZENTRUM, UNIVERSITAT BASEL/PHOTO RESEARCHER, INC
Pada 2006, misalnya, para ilmuwan di Lawrence Berkeley National Laboratory mengumumkan bahwa sampel udara yang di­ambil dari San Antonio dan Austin, Texas, mengandung setidaknya 1.800 spesies bakteri udara, membuat keragaman spesies di udara setara dengan yang ada di tanah.

Di antaranya terdapat bakteri dari padang rumput, pengolahan limbah, mata air panas, dan gusi manusia, serta bakteri yang umum ditemukan pada cat lapuk. Kebanyakan mikroba udara tidak berasal dari jauh, tetapi ada juga yang menempuh per­jalanan sangat panjang.

Debu dari gurun di Cina bertiup menyeberangi Samudra Pasifik ke Amerika Utara dan ke timur ke Eropa, akhirnya mengelilingi dunia. Awan debu tersebut penuh bakteri dan virus dari tanah asalnya, serta mikroba lain dari asap pembakaran sampah atau dari kabut di atas lautan yang diseberanginya yang ikut terbawa. Hirup napas, dan rasakan mikroba dari seluruh dunia.

Selain di udara permukaan yang kita hirup, mikroba juga terdapat di atmosfer-atas, hingga ketinggian 36 kilometer di atas permukaan bumi. Saya percaya mikroba bisa melayang lebih tinggi, meskipun sulit membayangkannya bisa hidup lama jauh dari air dan zat hara.

Di bawah ketinggian itu, mikroba bertahan hidup dan bahkan berkembang. Terdapat bukti bah­wa sekalipun tingkat radiasi ultraviolet yang tinggi dapat membunuh bakteri, beberapa ber­metabolisme dan bahkan mungkin bereproduksi di dalam awan.

Mikroba tidak hanya menghuni udara—mi­kroba menciptakannya, atau setidaknya ba­gian yang paling kita perlukan. Pada awal ke­hidupan di Bumi, atmosfer tidak memiliki kadar oksigen yang tinggi. Oksigen merupakan produk sampingan fotosintesis, dan proses ini ditemukan sekitar dua setengah miliar tahun yang lalu oleh sianobakteri.

Bakteri ini berperan langsung dalam setengah produksi oksigen di Bumi setiap tahun, dan secara tidak langsung atas sebagian besar sisanya. Ratusan juta tahun yang lalu bentuk purba sianobakteri masuk ke dalam sel yang kemudian berevolusi menjadi tanaman.

Di dalam cikal-bakal tanaman tersebut, sianobakteri berevolusi menjadi kloroplas, mesin penghasil oksigen foto­sintesis dalam sel tumbuhan. Bersama-sama, sianobakteri yang hidup bebas dan saudara kloroplasnya yang telah lama terpisah melakukan sebagian besar fotosintesis di Bumi.

sumber : NG Indonesia
05.33 | 0 komentar
Bse Information, Instructional Media And Educational Articles

Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Submit ExpressFree Webmaster Tools

go green indonesia!